Seperti biasa, warung Tugu Pak Anton selalu ramai pada pagi hari; ada orang membeli bensin, ada yang membeli rokok, ada juga yang membeli kebutuhan lain seperti kopi saset, atau air mineral.
Seperti biasanya juga, saya melihat situasi warung Pak Anton dari jendela lantai dua Akademi Bahagia pada pagi hari. Letak warung Tugu Pak Anton sangat strategis di pinggir jalan Raya Ngebo. Letaknya agak menyerong di seberang Timur Akademi Bahagia. Sehingga dari jendela lantai dua Akademi Bahagia warung Tugu Pak Anton terlihat jelas.
Setiap hari warung kecil ini menjadi tempat singgah penglaju yang melintas dari Klaten menuju Yogyakarta. Mereka biasanya berhenti di warung Tugu Pak Anton untuk membeli bensin dan seringkali juga sambil membeli rokok, dan air mineral, sebelum melanjutkan perjalanan ke tempat kerjanya.
Menjelang siang, Selasa, 11/8/2026, pukul 11.30 wib, saya berkunjung ke warung Tugu Pak Anton. Sekadar menyapa karena lama juga tidak ngobrol dengan beliau. Saya pertama kali kenal Pak Anton saat ikut ngombyongi pembangunan Akademi Bahagia menjelang tahun 2023 lalu.
Saya duduk di bangku bambu depan warung Tugu. Pak Anton sedang melayani seseorang yang membeli air mineral. Sebentar kemudian dia keluar menemui saya. Ngobrol.
Nama lengkapnya Anton Wijanarko. Warga asli Dusun Ngebo. Di bulan Agustus ini, Pak Anton genap berusia 52 tahun.
Saya dan teman-teman di Akademi Bahagia sudah mengenalnya dengan baik. Warungnya hanya berjarak sekitar 20 meter dari tempat kami biasa berkumpul. Jadi, warung Pak Anton adalah tempat kami membeli rokok atau membeli keperluan lain seperti sabun atau minuman sasetan.
Meski tidak besar, Warung Tugu Pak Anton menyediakan berbagai kebutuhan sehari-hari warga sekitar Dusun Ngebo, seperti rokok, bensin eceran, dan barang-barang kebutuhan rumah tangga lainnya. Pak Anton memulai usaha ini pada tahun 2018, setelah kembali ke rumah orang tuanya di Dusun Ngebo. Sebelumnya, dia tinggal cukup lama bersama mertuanya di Magelang karena istrinya berasal dari sana. Jadi, Warung Tugu ini adalah rumah peninggalan orang tuanya.
Keputusan untuk kembali ke Ngebo bukan hanya soal untuk kembali ke rumah tabon atau rumah induk, melainkan karena orang tua Pak Anton sudah lanjut usia. Orang tua biasanya memang butuh anaknya agar lebih dekat jika sudah berusia lanjut. Jadi Pak Anton seperti lazimnya anak yang berbakti, mempunyai kewajiban merawat orangtuanya di rumah tabon. Sembari merawat kedua orangtua, Pak Anton membuka warung rokok.
Dia memberi nama warungnya dengan nama “Tugu.” Nama Tugu dipilih dengan harapan agar warungnya bisa seperti Tugu Yogyakarta; kuat, kokoh, dan bertahan lama. Doa dan harapan sederhana dari seseorang yang tulus merawat orang tuanya.
Ayah Pak Anton sudah meninggal beberapa tahun lalu. Saat ini dia tinggal bersama ibunya, istri, dan anak semata wayangnya, Aldeon, yang sudah lulus dari Universitas Islam Indonesia (UII). Sejak pertama kali dibuka tahun 2018, Warung Tugu telah menjadi tulang punggung ekonomi keluarga Pak Anton.
Rokok dan Perputaran Laba Warung
Di antara berbagai barang yang dijual, rokok adalah komoditas yang paling cepat berganti di etalase. Warung Tugu menyediakan beragam merek rokok yang banyak juga ditemui di pasaran. Pembelinya tidak terbatas pada warga sekitar, tetapi juga penglaju yang lewat di depan warung Tugu.
Menurut Pak Anton, jenis rokok yang dibeli oleh para pekerja tersebut umumnya memiliki harga yang terjangkau. Harganya di bawah 20 ribu. Merek rokok seperti Tenor, Orbit, dan sejenisnya menjadi favorit. Di situlah Pak Anton menyadari satu hal; harga rokok menentukan pilihan.
Pak Anton bercerita, dulu rokok Surya Promild adalah salah satu rokok terlaris di warungnya. Tapi pada saat itu, harga Surya Promild masih berkisar Rp15 ribuan per bungkus. Banyak pelanggan mencari Surya Promild saat datang ke warung, kata Pak Anton.
Namun sekarang situasinya berubah.
Dalam pengamatan Pak Anton, setiap pemerintah menaikkan tarif cukai rokok selalu saja membawa dampak kenaikan harga rokok yang menyebabkan sebagian pelanggan warungnya beralih pilihan rokok. Perokok Surya banyak yang berpindah ke Gajah Baru. Katanya, rasanya mirip. Pelanggan Marlboro bergeser ke rokok Country, atau Lucky Strike. Sementara itu, di sisi lain rokok Sigaret Kretek Tangan dengan harga sekitar 9 ribu hingga 10 ribuan saat ini menjadi salah satu rokok yang paling laris. Bukan lagi Surya Promild. Atau rokok berfilter yang lain.
"Mungkin sing penting ngebul, harga kan sesuai kantong," ujar Pak Anton, sambil tersenyum.
Bagi Pak Anton, perubahan ini menjadi penanda bagi warungnya bahwa kenaikan harga rokok tidak hanya berhenti pada tarif Harga Jual Eceran di pita cukai rokok. Tapi dampak kenaikan cukai itu juga berdampak hingga ke warung kecil, dan mengganggu kesetiaan perokok pada merek tertentu yang biasa dibeli di warungnya.
Pembeli Hutang itu Biasa
Tidak semua pelanggan membeli dengan uang tunai. Ada kalanya pelanggan juga berutang, dan dalam situasi tertentu, Pak Anton tetap membantu meskipun tidak mengenal orang yang membeli dengan cara berutang. Pernah suatu hari ada orang kehabisan bensin tanpa membawa cukup uang, namun mereka bisa tetap mendapatkan bensin dengan berutang di warung Tugu Pak Anton. Rokok juga sering kali diberikan dengan cara serupa. Beberapa orang ada yang meninggalkan KTP sebagai jaminan utang, sementara yang lain tidak meninggalkan apa-apa. Meskipun begitu, Pak Anton tetap melayani.
Ada yang datang lagi untuk membayar utangnya. Ada yang bahkan tidak lagi mengambil KTP jaminan utangnya sampai sekarang, ujar Pak Anton.
Namun bagi Pak Anton, itu salah satu sentuhan kemanusiaan, berbagi dengan cara yang berbeda. Anggap saja sedekah. Jika ada orang yang lama tidak datang membayar utangnya, ikhlaskan saja. Selesai. Lebih lanjut Pak Anton bilang, bahwa warung bukan hanya tempat transaksi barang dan uang, melainkan juga ruang bagi kepercayaan. Dia harus mempercayai pelanggannya. Meski tentu saja ada risiko uangnya tak kembali. Jadi, masih kata Pak Anton, hubungan dengan pelanggan tidak melulu soal keuntungan semata. Terlebih saat dia sudah mengenal sebagian pelanggannya sejak lama. Mungkin dari situ warung Tugu milik Pak Anton tetap bertahan hingga sekarang. Karena tidak melulu bisnis dan mencari keuntungan. Melainkan ada sisi kemanusiaan di atas segala keuntungan. Dan Tuhan bersama orang orang yang suka berbagi kebaikan.
Bercerita tentang pelanggannya, Pak Anton bahkan sampai hafal kebiasaan mereka yang sering datang ke warung. Maksudnya, Pak Anton akan tahu dan sudah bisa menebak jika pelanggan yang dia kenal datang ke warungnya. Misalnya Si A yang datang, selalu mencari Djarum LA Light, atau si B yang datang pasti akan membeli Sampoerna Mild. Kebiasaan yang berjalan terus-menerus hingga bertahun tahun membuat transaksi hampir tanpa percakapan; pembeli datang, disapa, rokok diambil, dan dibayar. Warung kecil itu pun menjadi bagian dari rutinitas antara Pak Anton dan para pelanggannya.
Ketika Rokok Ilegal Beredar Luas
Setelah harga rokok makin dirasa tinggi karena kebijakan kenaikan tarif cukai rokok, rokok tanpa pita cukai semakin mudah ditemukan di wilayah warung Tugu Pak Anton. Beberapa warga tetangga kampung malah beralih ke rokok itu karena lebih murah, dan sebagian pelanggan Warung Tugu termasuk pelanggan pun menyarankan Pak Anton menjualnya.
Namun, Pak Anton memilih tidak mengambil risiko dengan menjual barang ilegal. Baginya, keuntungan tersebut tidak sebanding dengan risiko yang mungkin akan dihadapi.
Keputusan pemerintah menaikkan tarif cukai tentu saja berdampak. Saat konsumen beralih ke rokok lebih murah di luar jalur resmi yakni rokok ilegal, warung yang menjual produk legal ikut merasakan dampaknya. Omsetnya tentu berkurang.
Persoalan cukai akhirnya tidak lagi hanya persoalan regulasi pemerintah terhadap industri rokok melainkan juga menekan omset warung kecil seperti warung Tugu Pak Anton. Karena harga memengaruhi pilihan pembeli dan memengaruhi perputaran dagangan rokok di warung.
Orang orang yang Nongkrong Di Warung
Saat malam tiba, fungsi Warung Tugu berubah. Selepas Isya, beberapa tetangga mampir bukan hanya untuk membeli rokok. Mereka biasanya duduk-duduk dulu di depan warung, ngobrol dulu sebelum pulang ke rumah. Tanpa meja besar atau ruang khusus berkumpul, teras kecil dengan bangku bambu di teras warung Tugu sudah cukup menjadi tempat bertemu dan bercerita warga sekitar.
Ada yang datang membeli rokok, kebutuhan rumah tangga, bahkan hanya untuk berbincang karena sudah jadi kebiasaan. Selama delapan tahun sejak 2018, Warung Tugu menjalani ritme seperti biasanya, pagi melayani pekerja yang lewat, siang memenuhi kebutuhan warga sekitar, malam menjadi tempat nongkrong pelanggan yang juga kebanyakan tetangganya. Sehingga hampir tiap malam teras warung Tugu Pak Anton menjadi ruang ngobrol pelanggan.
Keuntungan dari menjual rokok memang kecil. Pak Anton bilang, keuntungan rokok itu perbungkus hanya berkisar di angka 1000-1500 rupiah. Tapi jika perputarannya cepat, laba yang dianggap kecil, bagi keluarga Pak Anton maknanya menjadi lebih besar dari sekadar angka pada catatan penjualan.
Sejak 2018, Warung Tugu Pak Anton menjadi penopang ekonomi keluarga. Dari sinilah kebutuhan sehari-hari terpenuhi dan dari sinilah kehidupan dijalani tahun demi tahun hingga anak semata wayangnya berhasil lulus kuliah dan menjadi sarjana.
Warung Tugu Pak Anton mungkin sederhana dan kecil ukurannya, tetapi di dalamnya berputar rokok, bensin, kebutuhan sehari-hari, uang, utang, kepercayaan, dan dialog warga selama bertahun-tahun. Demikianlah Pak Anton menyebutnya dengan nama Warung Tugu; tempat dengan harapan sederhana untuk tetap kokoh dan terus menjadi jalan mencari nafkah bagi keluarganya.