Tungguk Tembakau: Dari Tradisi Petik di Lereng Merbabu Menjadi Festival Budaya Boyolali

Tungguk Tembakau: Dari Tradisi Petik di Lereng Merbabu Menjadi Festival Budaya Boyolali

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

25 Apr 2026

Di lereng Gunung Merbabu, tepatnya di Desa Senden, Kecamatan Selo, Boyolali, tembakau bukan sekadar komoditas pertanian. Ia adalah ritus, penanda musim, sekaligus pengikat sosial. Di sanalah tradisi tungguk tembakau hidup. Sebuah praktik budaya yang mengakar dari kebiasaan petani memetik daun pertama sebelum panen raya dimulai.

Kata “tungguk” sendiri dalam bahasa setempat berarti memetik. Maka, tungguk tembakau adalah simbol awal, momen ketika petani menyentuh hasil kerja mereka berbulan-bulan yang lalu. Tradisi ini tidak lahir dari ruang kosong. Ia tumbuh dari ritme agraris masyarakat lereng Merbabu yang menggantungkan hidup pada tanah, musim, dan cuaca yang tak selalu pasti.

Sejak dahulu, sebelum istilah “festival” dikenal, para petani di Desa Senden memulai panen dengan ritual sederhana. Mereka berkumpul, memetik daun tembakau pertama, lalu berdoa bersama sebagai bentuk syukur atas hasil yang akan datang. Praktik ini diwariskan turun-temurun, menjadi bagian dari kearifan lokal yang tidak tertulis, tetapi dijaga secara kolektif.

Tradisi Petik Tembakau Tungguk tembakau Boyolali


Dalam perkembangannya, ritual ini semakin terstruktur. Prosesi dimulai dari kirab hasil bumi, berupa gunungan daun tembakau, sayuran, hingga nasi tumpeng, yang diarak dari balai desa menuju lokasi sakral, makam leluhur atau petilasan sesepuh di puncak perbukitan.

Perjalanan ini bukan sekadar seremoni, melainkan simbol hubungan antara manusia, alam, dan leluhur.

Setibanya di lokasi, doa bersama dipanjatkan. Para petani memohon keselamatan, kelancaran panen, dan hasil yang melimpah. Setelah itu, suasana berubah menjadi lebih cair: warga makan bersama, berebut gunungan, dan menikmati kebersamaan yang jarang ditemui di luar momentum panen.

Di titik inilah, tungguk tembakau menunjukkan lebih dari sekadar ritual agraris. Tungguk tembakau  adalah ruang sosial, tempat solidaritas dibangun, identitas diperteguh, dan ekonomi lokal secara tidak langsung digerakkan.

Seiring waktu, perubahan mulai terjadi. Tradisi yang sebelumnya bersifat lokal dan sakral mulai mengalami transformasi. Pemerintah daerah dan masyarakat melihat potensi yang lebih luas, tungguk tembakau tidak hanya layak dilestarikan, tetapi juga dipromosikan sebagai atraksi budaya, dan wisata.

Dari sinilah lahir apa yang kini dikenal sebagai Festival Tungguk Tembakau.

Festival ini tetap mempertahankan ritual inti yakni petik tembakau, kirab gunungan, dan doa bersama namun dikemas lebih meriah. Kesenian tradisional seperti tari dan musik rakyat ditampilkan, pelaku UMKM membuka lapak, dan ribuan warga serta wisatawan ikut meramaikan acara.

Tungguk Tembakau Festival Lereng Merbabu, Boyolali


Transformasi ini tidak serta-merta menghilangkan nilai sakralnya. Justru dalam banyak hal, tungguk Tembakau Festival menjadi cara baru untuk menjaga tradisi tetap hidup di tengah perubahan zaman. Ketika generasi muda mulai menjauh dari dunia pertanian, Tungguk Tembakau Festival menghadirkan kembali kebanggaan terhadap identitas agraris mereka.

Pada akhirnya, Tungguk Tembakau adalah cermin dari bagaimana tembakau hidup dalam kebudayaan, bukan sekadar dalam statistik produksi. Ia menunjukkan bahwa di balik selembar daun tembakau, ada kerja panjang, ada doa, dan ada tradisi yang terus dirawat.

Tungguk Tembakau Festival hanyalah wajah baru dari sesuatu yang jauh lebih tua.

Dan di lereng Merbabu, setiap musim panen, kisah itu selalu dimulai dengan satu tindakan sederhana, memetik daun pertama.

 

Arsip Visual Terbaru