Toko Wiwoho, Menjaga Bara Kretekus Tetap Menyala di Simpang Tugu Jogja

Toko Wiwoho, Menjaga Bara Kretekus Tetap Menyala di Simpang Tugu Jogja

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

22 Apr 2026

Perempatan jalan legendaris ini menjadi perempatan jalan tersibuk di Yogyakarta. Apalagi jika musim puncak liburan sekolah. Lalu Lalang kendaraan dan wisatwan lokal berbaur di perempatan jalan yang di tengahnya tegak berdiri Tugu Pal Putih yang menyimpan sejarah. Di sudut perempatan sebelah Barat itulah terdapat toko tembakau tertua yang sampai hari ini tetap berdiri dan melayani para penikmat tembakau, rokok, dan cerutu.

Namanya toko tembakau Wiwoho. Ia bukan sekadar toko tembakau, melainkan jejak panjang tentang bagaimana tradisi bertahan di tengah arus zaman yang kian seragam.

Toko Tembakau dan Rokok Wiwoho didirikan oleh Hyiap Ho Tik bersama istrinya Tan Kwi Wa pada 1919. Wiwoho lahir dari kesederhanaan yang nyaris tak masuk hitungan ekonomi modern hari ini. Mereka memulai dari kecil, membeli tembakau dalam jumlah terbatas, lalu menjualnya kembali kepada orang-orang yang masih percaya pada kenikmatan melinting sendiri atau Tingwe. Bermula dari dua jenis tembakau yakni tembakau Kedu dan Trowono, sebuah fondasi diletakkan. Bukan sekadar fondasi usaha, melainkan fondasi rasa.

Nama Wiwoho sendiri diambil dari anak mereka. Sebuah pilihan yang terasa personal, sekaligus menegaskan bahwa sejak awal toko ini bukan hanya perkara dagang, tetapi soal keberlanjutan hidup. Sebuah usaha untuk menghidupi keluarga. Ada harapan yang dititipkan, ada masa depan yang dibayangkan.

Seiring waktu, Wiwoho tidak menjelma menjadi toko besar dengan etalase gemerlap. Ia justru tetap kecil, akrab, dan nyaris tidak berubah. Dindingnya menyimpan usia, toples-toples kaca berisi rajangan tembakau menjadi saksi bisu, dan aroma khas campuran antara daun kering, cengkeh, dan kenangan yang sulit dijelaskan menjadi identitas yang tak tergantikan.Toko Wiwoho


Ketika generasi pertama menepi, estafet dilanjutkan oleh M.E. Setiyowati. Di tangannya, Wiwoho tidak hanya dijaga, tetapi dirawat. Ia memahami bahwa yang dijual di toko itu bukan sekadar tembakau, melainkan kepercayaan. Para pelanggan datang bukan hanya untuk membeli, tetapi untuk kembali mengulang pengalaman yang sama, rasa yang sama, bahkan percakapan yang mungkin tak pernah benar-benar selesai.

Kini, generasi berikutnya mulai mengambil peran. Monica Felicia Nacindy kini menjadi penanda bahwa Wiwoho tidak berhenti di masa lalu. Dan yang lebih menariknya dari Monica, ialah dia tidak tergesa-gesa mengubah Wiwoho menjadi modern. Tidak ada ambisi untuk menjadi besar dengan cara instan. Yang ada justru kesadaran bahwa identitas adalah hal yang paling mahal untuk dipertahankan.

Di tengah gempuran industri rokok yang semakin terstandarisasi, di mana rasa dikunci dalam mesin dan identitas dikemas dalam iklan, Wiwoho berdiri sebagai antitesis. Ia menawarkan sesuatu yang tidak bisa diproduksi massal: kebebasan memilih rasa.

Saat ini, Wiwoho menjual beragam jenis tembakau dari berbagai daerah: Temanggung, Madura, Boyolali, hingga Kedu dan Ngawen. Setiap tembakau membawa cerita tanahnya sendiri. Tentang petani, cuaca, dan musim yang tak selalu bersahabat. Namun di tangan mereka, tembakau-tembakau ini bisa menjelma menjadi berbagai karakter: halus, keras, manis, atau getir.

Untuk mengikuti alur zaman, Wiwoho juga menyediakan tembakau yang diracik sengaja didekatkan dengan rasa rokok-rokok populer. Bukan untuk meniru, tetapi untuk menjembatani. Agar mereka yang terbiasa dengan rokok pabrikan bisa perlahan kembali mengenal rasa tembakau yang sesungguhnya, yang tidak sepenuhnya tunduk pada mesin.

Selain tembakau, Wiwoho juga menyediakan rokok berbagai merek, cerutu, serta perlengkapan melinting, seperti kertas linting atau paper, cengkeh, klembak, hingga bahan tambahan lain yang mungkin asing bagi generasi baru. Di sinilah Wiwoho menjadi semacam “ruang belajar” yang tidak resmi, tempat orang mengenal kembali proses, bukan hanya hasil.

Namun lebih dari itu, Wiwoho adalah pengingat bahwa industri hasil tembakau tidak selalu identik dengan korporasi besar. Ada lapisan lain yang sering luput; usaha kecil, warisan keluarga, dan jaringan kultural yang menopang kehidupan banyak orang. Dari petani tembakau, buruh rajang, hingga pedagang kecil, semuanya terhubung dalam satu ekosistem yang seringkali diabaikan dalam perdebatan kebijakan.

Di titik ini, Wiwoho menjadi penting. Ia bukan hanya bertahan, tetapi juga bersaksi. Bahwa tembakau bukan sekadar komoditas, melainkan bagian dari kebudayaan. Bahwa melinting bukan sekadar kebiasaan, melainkan praktik yang mengandung nilai, tentang kesabaran, tentang ketelitian, dan tentang relasi manusia dengan alam.

Di tengah berbagai regulasi yang kerap melihat tembakau secara hitam-putih, keberadaan Wiwoho seperti mengajukan satu pertanyaan sederhana, apakah kita masih memberi ruang bagi tradisi untuk hidup?

Karena di toko Wiwoho, waktu berjalan dengan cara yang berbeda. Orang tidak tergesa-gesa. Mereka memilih, mencium, meraba, bahkan berbincang. Ada proses yang tidak bisa dipercepat, dan justru di situlah letak kenikmatannya.

Toko Wiwoho mungkin tidak akan pernah menjadi besar dalam ukuran industri. Tapi justru di situlah kekuatannya. Ia tidak perlu menjadi apa-apa selain dirinya sendiri.

Dan selama masih ada orang yang percaya bahwa rasa tidak bisa diseragamkan, selama itu pula Wiwoho akan tetap hidup, menjaga bara kecil di simpang Tugu, agar tidak padam ditelan zaman.

Tetap semangat, salam sebat!


Arsip Visual Terbaru