Ketika membicarakan tembakau di wilayah Jawa Timur, mungkin yang terlintas pertama kali di kepala adalah nama pulau Madura dan Jember. Padahal, ada satu kabupaten di kawasan Tapal Kuda yang juga menyimpan kekayaan tembakau dengan karakter khasnya yang sudah popular di kalangan penikmat tembakau lintingan, yakni Situbondo.
Situbondo yang dikenal dengan garis pantai utara dan kawasan perkebunannya tersebut memiliki sejumlah tembakau lokal yang cukup akrab bagi para penikmat tembakau, terutama mereka yang gemar melinting sendiri atau tingwe.
Dua jenis tembakau Situbondo yang paling terkenal adalah tembakau Tambeng dan Kayumas. Keduanya tumbuh di kawasan berbeda, memiliki cara pengolahan tersendiri, serta membangun reputasi melalui jalur perdagangannya masing-masing.
Dari Lereng Pegunungan hingga Kawasan Besuki
Secara geografis, Situbondo memiliki bentang alam yang beragam. Bagian selatannya mencakup kawasan pegunungan, termasuk wilayah yang dipengaruhi bentang alam Pegunungan Ijen. Sementara itu, bagian barat dan utara terdiri atas perbukitan serta dataran yang menjadi lahan pertanian masyarakat.
Menariknya, beberapa tembakau Situbondo yang terkenal justru berasal dari kawasan dengan ketinggian tertentu. Kondisi tanah, suhu udara, kelembapan, serta pengolahan pascapanen turut membentuk karakter daun tembakau yang dihasilkan.

Pemerintah Kabupaten Situbondo pernah menyebut sedikitnya 11 kecamatan sebagai sentra penghasil tembakau. Namun, dua kawasan yang paling dikenal ialah Desa Kayumas di Kecamatan Arjasa dan wilayah Tambeng di Kecamatan Banyuglugur.
Tembakau Tambeng, Si Bandel dari Dusun Tambang Emas
Salah satu tembakau paling terkenal dari Situbondo adalah Bekoh Tambeng. Dalam bahasa Madura, bekoh berarti tembakau, sedangkan tambeng dapat dimaknai sebagai bandel atau nakal. Nama tersebut berkaitan dengan daerah asalnya, yakni Dusun Tambang Emas, yang lebih akrab disebut Dusun Tambeng oleh masyarakat setempat.
Secara administratif, dusun ini berada di Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo. Letaknya di kawasan perbukitan dengan kondisi lingkungan yang khas untuk budi daya tembakau.
Bekoh Tambeng memiliki karakter rasa yang kerap digambarkan gurih dan manis, disertai aroma cokelat. Sebagian penikmatnya juga menyebut adanya sensasi legit ketika tembakau dibakar. Perpaduan karakter inilah yang membuat Tambeng memiliki penggemar tersendiri di kalangan perokok tingwe.
Keistimewaan Tambeng tidak hanya berasal dari tanamannya, tetapi juga dari proses pengolahan. Setelah dipetik, daun tembakau melalui tahap pemeraman dan perajangan dengan teknik khusus. Perajangan biasanya dilakukan pada malam hari, ketika kelembapan udara dinilai lebih mendukung. Pisau besar digunakan untuk menghasilkan irisan yang relatif panjang dan lebar.
Selanjutnya, tembakau dijemur pada siang hari. Dalam beberapa teknik pengolahan, petani juga melakukan proses pengembunan pada malam hari. Tahapan ini dipercaya membantu membentuk rasa dan aroma khas Tambeng.
Tambeng juga dikenal memiliki beragam tingkat sensasi tarikan. Di kalangan pedagang dan penikmatnya, terdapat istilah narek, kerreng, seddeng, bek cia, dan cia. Istilah-istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan karakter tarikan, mulai dari yang tarikannya keras hingga yang lebih ringan dan halus.

Selain itu, tembakau Tambeng dikenal dapat disimpan dalam waktu lama. Sejumlah pedagang bahkan menyimpan hasil panen selama beberapa tahun untuk mempertahankan atau mengembangkan karakter aromanya.
Jangkauan pasarnya pun cukup luas. Selain beredar di Jawa Timur, tembakau Tambeng dipasarkan juga ke berbagai daerah di luar Jawa, dan tentu saja konsumen utamanya adalah penggemar tingwe.
Popularitas tersebut membuat nama Tambeng kerap digunakan sebagai penanda dagang oleh penjual dari daerah lain. Saking terkenalnya, keaslian tembakau Tambeng bahkan sempat diragukan di berbagai daerah. Banyak konsumen yang serius menanyakan apakah benar tambeng yang asli dari Situbondo atau hanya tembakau “impor” dari daerah lain yang dijual di area Situbondo.
Kayumas, tembakau harum dari lereng Ijen
Selain itu, di sebelah Timur ada Desa Kayumas di Kecamatan Arjasa. Desa ini terletak di kawasan pegunungan, dengan bentang alam yang berada di lereng Gunung Ijen. Perjalanan menuju Kayumas menyusuri jalan berkelok di antara perbukitan dengan udara yang cukup sejuk.
Kayumas dikenal sebagai kawasan pertanian yang menghasilkan tembakau, kopi, dan sejumlah komoditas perkebunan lainnya. Budidaya tembakau telah diwariskan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari keseharian masyarakat setempat.
Jika Tambeng dikenal dengan karakter gurih dan aroma cokelat, tembakau Kayumas lebih sering digambarkan beraroma harum, tidak terlalu tajam, serta memiliki tarikan yang relatif ringan. Karakternya cenderung kalem, tetapi tetap menyimpan kekhasan rasa yang membuatnya diminati penikmat tingwe.
Kondisi area pertaniannya yang tanah berbatu dan berada di lereng pegunungan membuat karakter tembakau Kayumas berbeda dengan Tambeng. Uniknya lagi, tembakau Kayumas juga dipengaruhi oleh tanaman pendampingnya berupa tanaman kopi dan jagung yang juga dibudidayakan oleh petani yang ada di lereng Gunung Ijen.
Kayumas memiliki pasar tersendiri di kalangan penikmat tembakau lintingan. Namanya dikenal di sejumlah pasar tembakau Jawa Timur, sementara hasil panennya juga diperdagangkan ke luar daerah. Bandung dan Jakarta, gan Yogyakarta termasuk kota tujuan pemasaran tembakau khas dari Situbondo ini.
Samporis dan tembakau Besuki lainnya
Selain Tambeng dan Kayumas, di Situbondo juga terdapat tembakau Samporis. Jenis ini disebut banyak dibudidayakan karena memiliki nilai ekonomis dan daya tahan yang baik. Namun tembakau Samporis biasanya bukan untuk tembakau tingwe melainkan sebagai bahan baku produksi rokok kretek lokal.
Ada pula tembakau Besuki yang dikenal dalam perdagangan nasional maupun internasional. Secara umum, tembakau Besuki dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan musim tanamnya, yakni Voor-Oogst (VO) dan Na-Oogst (NO).
Voor-Oogst ditanam pada akhir musim hujan dan dipanen saat musim kemarau. Hasil panennya banyak diolah menjadi tembakau rajangan. Sementara itu, Na-Oogst ditanam pada akhir musim kemarau dan dipanen saat musim hujan. Kelompok Na-Oogst memiliki sejarah panjang dalam perdagangan tembakau cerutu, terutama sebagai bahan pembungkus atau wrapper.
Di Situbondo, bentuk pengolahan rajangan juga menentukan peruntukan hasil panen. Rajangan kasar yang telah dikeringkan dapat diserap oleh industri cerutu, sedangkan rajangan halus lebih banyak dipasarkan untuk kebutuhan tembakau lintingan.
Dari Tingwe hingga Industri Cerutu
Pasar tembakau Situbondo sesungguhnya cukup beragam. Ada konsumen yang mencari tembakau untuk dilinting sendiri atau tingwe, ada pula industri yang membutuhkan bahan baku dengan spesifikasi tertentu.
Tambeng dan Kayumas memiliki reputasi kuat di pasar tingwe. Sementara itu, tembakau rajangan dengan karakter dan ukuran tertentu dapat memasuki pasar industri cerutu, dan menjadi bagian dari jaringan perdagangan tembakau cerutu yang lebih luas.
Tembakau Tambeng, Kayumas, dan berbagai tembakau lokal lainnya telah menjadi identitas tersendiri bagi Situbondo dalam peta pertembakauan Indonesia. Dari dusun kecil di Banyuglugur hingga desa pegunungan di Arjasa, tembakau sudah menjadi warisan turun temurun dan menjadi sumber penghidupan petani, sekaligus bagian dari kebudayaan masyarakat setempat.