Keberadaan daun tembakau dalam berbagai simbol lembaga di Sumatra Utara menunjukkan betapa pentingnya peran tembakau di kawasan tersebut. Tembakau tidak hanya identik dengan tanah Jawa; di sisi barat Nusantara, tepatnya di Deli, Sumatra Utara, dulunya tumbuh tembakau yang terkenal hingga pasar Eropa sebagai bahan pembungkus cerutu yang prestisius.
Dikenal sebagai Tembakau Deli, jejak kejayaannya masih terlihat dalam simbol-simbol lembaga terkemuka di Sumatra Utara seperti PSMS Medan, Universitas Sumatera Utara (USU), serta lambang Pemerintah Provinsi Sumatra Utara. Bahkan, nama Tembakau Deli pernah disematkan pada sebuah rumah sakit di Medan, menandakan perannya yang lebih dari sekadar tanaman, namun juga menjadi elemen vital dalam sejarah ekonomi, sosial, dan perkembangan Medan.
Berawal dari Tanah Deli
Sejarah perkebunan tembakau di Deli dimulai sekitar tahun 1863, sejak kedatangan Jacobus Nienhuys, seorang pengusaha Belanda yang mendapatkan konsesi dari Sultan Deli untuk menanam tembakau. Sebelum perkebunan besar dikelola oleh perusahaan Eropa, masyarakat Melayu dan Batak Karo sudah mengenal tanaman ini dalam skala kecil. Melihat kondisi geografis Deli pada masa itu, Nienhuys kemudian menyadari bahwa tanah Deli yang subur sangat cocok jika ditanami tembakau berkualitas tinggi.

Percobaan awal Nienhuys menghadapi berbagai tantangan, namun akhirnya tembakau yang ditanam Nienhuys bisa menghasilkan jenis tembakau berkualitas tinggi. Pada tahun 1864, hasil panen tembakau dari Deli menarik perhatian di rumah lelang Rotterdam. Karakter daunnya yang tipis, lentur, halus, dan beraroma khas menjadikan tembakau Deli sangat ideal dighunakan sebagai pembungkus cerutu.
Kesuksesan ini mengundang investasi besar masuk ke wilayah tersebut. Bersama P.W. Janssen dan G.C. Clemen, Nienhuys mendirikan Deli Maatschappij, sebuah perusahaan perkebunan yang kemudian menjelma menjadi salah satu pilar ekonomi terbesar di Sumatra Timur pada masa itu.
Dalam perkembangannya perkebunan tembakau milik Nienhuys meluas ke wilayah seperti Serdang, Langkat, Simalungun, dan Asahan, yang masih masuk ke dalam wilayah di Sumatra Utara. Sejak saat itu kota Medan berkembang menjadi pusat administrasi dan ekonomi bagi industri perkebunan ini. Fasilitas modern seperti rel kereta api, pelabuhan, perkantoran, perbankan, hotel, dan infrastruktur kota lainnya pun tumbuh pesat seiring dengan melebarnya industri perkebunan. Dengan perkembangan tersebut, Medan yang semula bukanlah kota besar kemudian berubah menjadi pusat ekonomi penting di Sumatra Utara.
Di Balik Daun Emas Terdapat Kisah Kelam.
Sejarah Tembakau Deli tidak hanya semarak dengan cerita kejayaan dan kemakmuran, tetapi juga menyimpan cerita buram di baliknya. Lazimnya perkebunan besar, tentu memerlukan banyak tenaga kerja. Dikarenakan tenaga kerja lokal tidak mencukupi, pekerja dari Tiongkok, Jawa, India, dan daerah lainnya didatangkan. Sistem koeli contract pun muncul dan menimbulkan beragam masalah kemanusiaan.

Koeli Ordonantie dan Poenale Sanctie menjadi elemen pengaturan buruh perkebunan pada masa kolonial. Di balik produksi tembakau yang mendatangkan keuntungan besar bagi perusahaan, ada kisah rendahnya kesejahteraan buruh, kekerasan, penyakit, dan penderitaan. Oleh karena itu, berbicara tentang kejayaan Tembakau Deli sekarang ini tidak cukup dengan hanya mengulas kualitas daun tembakaunya; sejarahnya juga harus dibaca bersama pengalaman para pekerja yang terlibat dalam sistem tersebut.
Tembakau Deli Menjadi Simbol
Pengaruh Tembakau Deli merambah ruang publik dan simbol-simbol masyarakat Sumatra Utara. Salah satu yang mudah dikenali adalah lambang PSMS Medan, yang berdiri resmi pada 21 April 1950. Lambangnya berkaitan dengan bunga dan daun tembakau Deli, dengan enam helai daun yang sering diasosiasikan dengan tokoh atau kelompok yang berperan dalam pendirian PSMS. Menariknya, tanaman yang menjadi komoditas kolonial kemudian beralih menjadi simbol identitas klub sepak bola kebanggaan masyarakat Medan. Warna hijau PSMS mengingatkan akan lanskap perkebunan yang pernah jadi bagian penting dari kota itu.
Tidak hanya di olahraga, Tembakau Deli juga memasuki dunia pendidikan. Universitas Sumatera Utara (USU) dibentuk melalui Yayasan Universitet Sumatera Utara pada 4 Juni 1952, dengan Fakultas Kedokteran sebagai yang pertama, dan hari jadinya diperingati setiap 20 Agustus 1952. Universitas ini diresmikan oleh Presiden Soekarno pada 20 November 1957. Lambang USU mencakup bintang kuning emas, melati, padi, dan daun tembakau. Daun tembakau ini secara resmi merepresentasikan Tembakau Deli sebagai hasil daerah tempat universitas berdiri. Jadi, daun tembakau Deli bukan hanya sebagai ornamen, melainkan penanda geografis dan pengingat sejarah lokal.
Ada juga Rumah Sakit Tembakau Deli yang jejaknya patut diluruskan berdasarkan catatan sejarah. Beberapa sumber mencatat bahwa Rumah Sakit milik Deli Maatschappij dibangun mulai tahun 1871–1872, sementara penelitian lain menyebutkan sekitar tahun 1885 untuk pengembangan lebih lanjut. Dengan demikian, kurang tepat bila sejarah rumah sakit seluruhnya diawali dengan "dibangun Nienhuys pada 1871". Sumber penelitian lain menyatakan rumah sakit Deli Maatschappij pertama didirikan sekitar 1872 sebagai bagian fasilitas kesehatan perkebunan. Rumah Sakit Tembakau Deli awalnya untuk merawat kesehatan pekerja perkebunan. Perkembangannya bertahap, termasuk dalam hal ruang perawatan dan fasilitas medis.
Keberadaan rumah sakit ini menunjukkan sisi lain dari industri perkebunan yang menghadapi masalah serius berupa penyakit tropis dan tingginya angka kematian pekerja. Pada tahun 1915, Rumah Sakit Tembakau Deli ditetapkan sebagai rumah sakit laboratorium penyakit tropis. Oleh karenanya, rumah sakit ini tidak hanya menjadi bagian dari sejarah kesehatan Medan, tetapi juga menjadi bagian penting dari sejarah perkebunan Tembakau Deli.
Kemudian yang menjadikan daun tembakau sebagai simbol Lembaga adalah Pemerintah Provinsi Sumatra Utara. Pemprov Sumatra Utara menjadikan daun tembakau sebagai lambang yang dipagukan dengan padi, kapas, perisai berbentuk jantung, bintang, Bukit Barisan, pelabuhan, pabrik, dan unsur hasil bumi lainnya. Dalam lambang tersebut, ada gambar orang menanam padi dikelilingi tanaman sawit, karet, ikan, dan daun tembakau. Kehadiran tembakau menunjukkan posisi pentingnya dalam sejarah ekonomi Sumatra Utara, bukan hanya sebagai tanaman pertanian tapi juga sebagai komoditas yang pernah membentuk wajah ekonomi dan kota Medan.
Setelah Indonesia merdeka dan perusahaan perkebunan asing dinasionalisasi, pengelolaan perkebunan tembakau mengalami perubahan. Tembakau Deli tidak lagi berjaya seperti masa lalu. Lahan tembakau berkurang sementara kelapa sawit dan karet menjadi komoditas yang berkembang lebih pesat. Namun, Tembakau Deli belum sepenuhnya hilang. Pada 2025, PTPN I Regional 1 memanen Tembakau Deli di Kebun Helvetia dengan target produksi sekitar 14 ton daun kering dari area 20 hektare. Perusahaan tersebut juga telah menarik minat calon pembeli dari luar negeri.
Rencana selanjutnya semakin menjanjikan. Pada Oktober 2025, PTPN I Regional 1 mengumumkan penyiapan 500 hektare lahan untuk ditanami Tembakau Deli, termasuk investasi pada fasilitas pengolahan dan gudang cerutu. Inisiatif ini berupaya menumbuhkan Tembakau Deli sebagai komoditas bernilai lebih dari sekadar kenangan sejarah. Selain itu, usaha kecil juga mulai memperkenalkan Tembakau Deli lewat produk cerutu di Medan, yang mengukuhkan tembakau Deli sebagai identitas budaya Melayu Deli.
Mungkin itulah sebabnya daun tembakau tetap terlihat dalam berbagai lambang di Sumatra Utara. Dalam logo PSMS, ia menjadi identitas klub sepak bola. Dalam lambang USU, ia mengingatkan tanah tempat ilmu pengetahuan berkembang. Dalam lambang Pemerintah Provinsi Sumatra Utara, ia merepresentasikan salah satu komoditas penting dalam sejarah ekonomi daerah. Pada Rumah Sakit Tembakau Deli, namanya menandai institusi asli dari perkembangan perkebunan serta menyimpan cerita tentang kesehatan dan kehidupan pekerja.
Tembakau Deli memang pernah menjadikan Deli dikenal di pasar dunia, tetapi kisahnya lebih mendalam dari sekadar daun berkualitas tinggi dan keuntungan besar. Ada elemen tanah, buruh, modal, pelabuhan, kereta api, kota yang berkembang, kolonialisme, penderitaan, kemerdekaan, nasionalisasi, hingga usaha untuk membangunkannya kembali saat ini. Oleh karena itu, melihat daun tembakau dalam lambang di Sumatra Utara berarti mengamati serpihan panjang sejarah tentang bagaimana sebuah tanaman pernah membantu membentuk sebuah kota. Kini, lebih dari satu setengah abad setelah Nienhuys datang ke Deli, daun itu masih berusaha bangkit kembali di tanah asalnya yang mencapai ketenaran dunia.