Tembakau cerutu berkembang di Indonesia sejak masa kolonial Belanda. Pada paruh kedua abad ke-19, hasil perkebunan tembakau Deli di Sumatra Utara mulai menarik perhatian pasar Eropa. Jauh sebelumnya, tradisi cerutu telah berkembang di Kuba, terutama Havana, lalu menyebar ke Spanyol dan sejumlah negara Eropa, sebelum menjangkau pasar dunia.
Menariknya, Indonesia kemudian tidak hanya menjadi penghasil tembakau cerutu, tetapi juga menghasilkan tembakau pembungkus (Wrapper) berkualitas tinggi yang mendapat tempat terhormat dalam perdagangan internasional, termasuk di balai lelang Bremen, Jerman.
Ketika membicarakan cerutu berkualitas, banyak orang langsung teringat pada Kuba atau Havana. Padahal, industri cerutu dunia juga mengenal tembakau Indonesia sebagai salah satu bahan baku penting. Bahkan, tembakau asal Jember pernah meraih reputasi istimewa di pasar lelang Eropa.

Untuk memahami perjalanan tersebut, kita perlu menelusuri sejarah cerutu di benua Amerika, perkembangan perkebunan tembakau di Hindia Belanda, serta cara petani Indonesia menghasilkan tembakau untuk pembungkus (Wrapper), pengikat (Binder), dan isi (Filler) cerutu.
Berawal dari Tradisi Masyarakat Asli Amerika
Sebelum orang Eropa mengenal tembakau, masyarakat asli Amerika telah memanfaatkan tanaman “Nicotiana tabacum” dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mengisap tembakau melalui pipa, membakar daun kering, atau menggulung daun tembakau untuk keperluan ritual dan tradisi tertentu.
Ketika Christopher Columbus tiba di Kepulauan Karibia pada 1492, orang-orang Eropa mulai mengenal kebiasaan tersebut. Para pelaut Spanyol kemudian membawa tembakau ke Eropa. Pada akhir abad ke-16, kebiasaan mengisap tembakau mulai menyebar ke berbagai wilayah di benua itu.
Namun, sejarah tembakau harus dibedakan dengan sejarah cerutu. Masyarakat asli Amerika telah mengenal tembakau jauh sebelum kedatangan Columbus, sedangkan bentuk cerutu yang dikenal sekarang ini berkembang melalui tradisi pengolahan dan penggulungan tembakau di kawasan Karibia, khususnya Kuba.
Kuba kemudian memainkan peran penting dalam perkembangan industri cerutu. Orang Spanyol mengembangkan perkebunan tembakau di pulau tersebut dan membawa hasilnya ke Eropa. Havana, ibu kota Kuba, tumbuh menjadi salah satu pusat perdagangan dan pembuatan cerutu paling terkenal di dunia.
Dari sinilah nama Havana melekat kuat pada citra cerutu berkualitas tinggi.
Tembakau Cerutu Bukan Hanya Havana
Namun Havana bukanlah satu-satunya daerah penghasil tembakau cerutu di Kuba. Salah satu kawasan yang paling terkenal karena kualitas tembakaunya justru adalah Vuelta Abajo, di Provinsi Pinar del Río, bagian barat Kuba.
Kawasan ini memiliki perpaduan kondisi tanah, kelembapan, curah hujan, dan iklim yang ideal untuk pertumbuhan tembakau cerutu. Para petani menanam tembakau di lahan yang disebut “vegas”, yang biasanya berada di sekitar aliran sungai.
Dan yang paling menariknya ialah, tembakau dari Vuelta Abajo tidak digunakan secara seragam untuk seluruh bagian cerutu. Namun petani di Vuelta Abajo memilih daun berdasarkan posisi pada tanaman, karakter, dan kualitasnya. Sebagian daun cocok digunakan sebagai pembungkus luar, sementara yang lain lebih sesuai untuk bagian isi cerutu.
Selain Vuelta Abajo, Kuba memiliki kawasan pertanian tembakau lainnya, seperti Semivuelta, Partido, Remedios, dan Oriente. Masing-masing menghasilkan daun dengan karakter dan aroma tersendiri. Meski demikian, Vuelta Abajo memang paling dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil tembakau cerutu terbaik di dunia.
Tembakau Cerutu di Indonesia
Perjalanan tembakau cerutu di Indonesia memiliki cerita yang tidak kalah menarik. Sejarahnya berkaitan erat dengan perkembangan perkebunan kolonial Belanda dan meningkatnya permintaan cerutu di pasar Eropa.

Jauh sebelum perkebunan besar berkembang, masyarakat Nusantara sudah lama mengenal tembakau. Tanaman ini masuk melalui jalur perdagangan bangsa Eropa, ada yang bilang tembakau masuk ke Indonesia dibawa oleh bangsa Portugis, kemudian Spanyol. Namun ada juga sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa masyarakat Nusantara telah mengenal tembakau sebelum kedatangan Belanda pada abad ke-17.
Pengembangan perkebunan tembakau untuk ekspor kemudian berlangsung lebih sistematis pada masa kolonial, seiring penerapan “Cultuurstelsel” atau Tanam Paksa pada 1830. Penanaman tembakau berkembang di sejumlah wilayah, termasuk Jawa dan Sumatra.
Di antara berbagai daerah penghasil tembakau di Indonesia, ada tiga kawasan yang memiliki peran sangat penting dalam sejarah tembakau cerutu Hindia Belanda yaitu Deli di Sumatra Utara, Besuki di Jawa Timur, serta Vorstenlanden yang mencakup wilayah Surakarta dan Yogyakarta.
Jika kemudian muncul pertanyaan wilayah mana yang lebih dahulu memperkenalkan tembakau cerutu ke pasar Eropa, catatan sejarah menyebutkan bahwa tembakau Besuki Na-Oogst sudah dikenal di sana sejak tahun 1857. Sementara itu, perkebunan besar tembakau Deli mulai berkembang pada 1863. Dengan demikian, sejarah pengembangan tembakau cerutu Indonesia tidak sepenuhnya bermula dari Deli.
Tembakau Deli, Primadona Pembungkus Cerutu Dunia
Nama Deli mulai mencuri perhatian dunia perkebunan setelah pengusaha Belanda, Jacobus Nienhuys, datang ke Sumatra Timur pada 1863. Ia melihat potensi tanah Deli yang bisa dijadikan untuk pengembangan tembakau secara komersial.
Melalui kerja sama dengan Kesultanan Deli, Nienhuys kemudian memperoleh kesempatan untuk mengembangkan perkebunan. Pada tahun 1864, ia mengirimkan hasil panen tembakau pertamanya ke Rotterdam. Setahun kemudian, ia mulai menghasilkan daun tembakau Deli yang kelak meraih reputasi tinggi di pasar internasional.

Perkembangan perkebunan tembakau semakin pesat setelah Deli Maatschappij berdiri pada 1869. Perusahaan ini kemudian menjadi salah satu perusahaan perkebunan terbesar di Sumatra Timur.
Keistimewaan tembakau Deli memang dikenal karena memiliki daun yang lebih tipis, lentur, halus, dan permukaan daunnya relatif rata. Karakteristik ini sangat penting untuk kebutuhan “wrapper”, yakni pembungkus luar cerutu.
Bayangkanlah sebuah cerutu premium. Lapisan terluarnya harus tampak rapi, tidak mudah robek, dan mampu mengikuti bentuk gulungan tembakau di dalamnya. Nah, daun tembakau Deli memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Selain itu, tembakau Sumatra dikenal memiliki aroma khas, cita rasa sedikit pedas, serta kemampuan menjaga pembakaran yang baik. Kualitas inilah yang membuat produsen cerutu Eropa menjadikannya salah satu bahan pembungkus andalan.
Tembakau Deli tumbuh di dataran rendah pesisir Timur Sumatra Utara, tepatnya di dataran rendah yang membentang di antara sungai Ampu dan sungai Ular. Secara geografis, dataran Deli berada pada ketinggian sekitar 2–10 meter di atas permukaan laut, sementara sebagian kawasan di sekitar Medan mencapai kisaran 15–50 meter.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tembakau cerutu tidak selalu membutuhkan lahan pegunungan. Kesesuaian tanah, kelembapan, suhu, curah hujan, serta pengelolaan tanaman justru menjadi faktor yang lebih menentukan.
Pada masa kejayaannya, tembakau Deli merupakan komoditas ekspor yang sangat berharga. Daun tembakau Sumatra bahkan menjadi bagian dari rantai pasokan berbagai perusahaan cerutu di Eropa dan Amerika.
Namun, sejarah perkebunan Deli juga menyimpan sisi kelam yang tidak boleh diabaikan. Industri ini berkembang melalui sistem buruh kontrak atau kuli, dengan mendatangkan pekerja dari Jawa, Tiongkok, dan India. Kejayaan perkebunan tembakau kolonial tidak dapat dipisahkan dari kerja keras dan penderitaan para buruhnya.
Tembakau Jember dan Besuki Na-Oogst yang Mendunia
Jika Deli terkenal dengan tembakau pembungkus cerutunya, Jember memiliki cerita yang lebih beragam. Daerah ini dikenal sebagai salah satu pusat produksi tembakau cerutu berkualitas tinggi, terutama melalui tembakau Besuki Na-Oogst, yang sering disingkat BNO.

Istilah Na-Oogst berasal dari bahasa Belanda. Secara sederhana, istilah ini merujuk pada tembakau yang ditanam menjelang musim penghujan atau pada akhir musim kemarau, lalu dipanen pada musim berikutnya. Pola ini berbeda dengan Voor-Oogst, yang umumnya ditanam dan dipanen pada musim kemarau.
Perkembangan tembakau Besuki memiliki sejarah panjang. Penelitian akademis mencatat bahwa Besuki Na-Oogst telah dikenal di pasar Eropa sejak 1857. Wilayah pengembangannya mencakup Jember dan Bondowoso, terutama kawasan dengan kondisi tanah dan iklim yang sesuai untuk budidaya tembakau cerutu.
Kabupaten Jember memiliki bentang alam yang beragam, mulai dari dataran pesisir hingga kawasan kaki pegunungan. Keberadaan Gunung Argopuro, Gunung Raung, serta perbukitan di sekitarnya turut membentuk kondisi agroklimat yang mendukung perkebunan tembakau. Kondisi geografis inilah yang membuat tembakau Jember tumbuh dengan kualitas yang sangat baik.
Selain mengandalkan kondisi alam, petani dan perusahaan perkebunan mengembangkan teknik penanaman untuk menghasilkan daun dengan karakter dan kualitas yang berbeda. Ada dua sistem penting yang perlu kita kenal.
1. Besuki Na-Oogst Tradisional. Dalam sistem tradisional, petani menanam tembakau tanpa naungan khusus. Waktu tanam diatur agar pertumbuhan tanaman dan masa panen sesuai dengan kondisi cuaca.
Daun yang dihasilkan dapat digunakan sebagai isian cerutu atau filler, pembalut atau binder, maupun pembungkus luar atau wrapper, bergantung pada posisi daun dan kualitas hasil panen.
2. Tembakau Bawah Naungan (TBN). Sistem Tembakau Bawah Naungan berkembang melalui percobaan pada awal 1980-an. Dalam sistem ini, tembakau ditanam di bawah jaring khusus atau waring yang berfungsi mengurangi intensitas sinar matahari langsung sekaligus mengendalikan kondisi mikroklimat di sekitar tanaman.

Teknik tersebut membantu menghasilkan daun yang lebih tipis, lentur, dan memiliki permukaan relatif halus. Karakter ini sangat dibutuhkan untuk pembungkus luar cerutu premium. TBN kemudian berkembang menjadi salah satu sumber penting tembakau pembungkus cerutu bagi industri internasional.
Ketinggian dan Perbedaan Karakter Wilayah
Dalam hal ketinggian tempat, tidak ada satu angka pun yang dapat mewakili seluruh perkebunan tembakau di Jember. Wilayah budidayanya tersebar dari dataran rendah hingga kawasan yang lebih tinggi. Kesesuaian lahan dan kondisi agroklimat jauh lebih penting daripada sekadar ketinggian dalam meter di atas permukaan laut.
Menariknya, wilayah utara dan selatan Jember juga menghasilkan tembakau dengan karakter yang berbeda. Penelitian mengenai Besuki Na-Oogst menunjukkan bahwa topografi, curah hujan, dan waktu tanam turut memengaruhi kualitas daun yang dihasilkan.
Tiga Lapisan Tembakau dalam Sebatang Cerutu
Salah satu hal yang membedakan cerutu dari rokok kretek atau rokok putih adalah susunan bahan bakunya. Cerutu bukan sekadar tembakau yang digulung menjadi satu batang. Pembuat cerutu biasanya memadukan beberapa jenis daun dengan fungsi dan karakter yang berbeda.
Dalam industri cerutu, ada tiga istilah penting: wrapper, binder, dan filler. Ketiganya berperan dalam menentukan penampilan, aroma, rasa, kekuatan, serta karakter pembakaran cerutu.
1. Wrapper atau Dekblad: Kulit Terluar Cerutu
Wrapper adalah daun yang membungkus bagian paling luar cerutu. Dalam istilah perkebunan tembakau di Indonesia, daun ini dikenal sebagai dekblad.
Lapisan ini menjadi wajah sebuah cerutu. Karena itu, produsen memilih daun yang utuh, lentur, tipis, berwarna menarik, dan minim cacat.
Selain menentukan penampilan, wrapper turut menyumbangkan aroma dan rasa. Daun pembungkus yang baik harus mampu mengikuti bentuk cerutu tanpa mudah robek saat digulung.
Tembakau Deli dan Tembakau Bawah Naungan (TBN) dari Jember termasuk tembakau Indonesia yang dikenal untuk kebutuhan ini.
2. Binder atau Omblad: Pengikat Bagian Dalam
Binder adalah lapisan daun yang berada tepat di bawah wrapper. Di Indonesia, lapisan ini dikenal sebagai omblad.
Fungsinya sederhana, tetapi sangat penting: menjaga campuran tembakau di bagian dalam tetap menyatu sekaligus mempertahankan bentuk cerutu.
Daun binder tidak harus memiliki penampilan seindah wrapper. Meski demikian, produsen tetap membutuhkan daun yang kuat, lentur, dan memiliki karakter pembakaran yang baik.
3. Filler atau Vulsel: Isi Utama Cerutu
Filler, yang juga dikenal sebagai vulsel, merupakan bagian paling dalam atau isi utama cerutu. Bagian ini biasanya terdiri atas beberapa jenis daun tembakau yang dicampurkan untuk menghasilkan karakter rasa tertentu.
Jika wrapper menjadi wajah cerutu, filler menjadi salah satu penentu utama karakter di dalamnya.
Produsen dapat memadukan tembakau dengan karakter ringan, sedang, hingga kuat. Mereka juga memanfaatkan perbedaan karakter daun berdasarkan posisinya pada tanaman.

Dalam praktiknya, daun di bagian bawah tanaman cenderung memiliki karakter lebih ringan, sedangkan daun di bagian atas umumnya lebih kuat. Karena itu, pembuat cerutu mengatur komposisi filler sesuai dengan karakter yang ingin dihasilkan.
Memahami ketiga lapisan ini membantu kita melihat peran penting tembakau Deli dan Jember. Keduanya bukan hanya menjadi sumber tembakau untuk isi cerutu, tetapi juga memasok daun pembungkus dan pengikat yang dibutuhkan industri cerutu dunia.
Bremen dan Perjalanan Tembakau Cerutu Indonesia
Salah satu bagian menarik dalam sejarah tembakau Indonesia adalah hubungannya dengan balai lelang Bremen di Jerman.
Bremen bukan sekadar kota perdagangan. Kota ini pernah menjadi salah satu pusat perdagangan tembakau cerutu dunia, tempat para pedagang dan produsen cerutu dari berbagai negara mencari bahan baku berkualitas, termasuk tembakau dari Indonesia.
Sebelum berpusat di Bremen, perdagangan tembakau Indonesia melalui sistem lelang berlangsung di Rotterdam, Belanda. Namun, ketegangan politik antara Indonesia dan Belanda terkait persoalan Irian Barat mendorong pemindahan pusat lelang tersebut ke Jerman.
Pada tahun 1959, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memusatkan pemasaran tembakau bahan baku cerutu dari Sumatra dan Jawa di Bremen. Dalam perdagangan ini, tembakau Sumatra dikenal berasal dari perkebunan yang dikelola PTPN II Tanjung Morawa, sedangkan tembakau Jawa berasal dari Klaten dan Jember melalui PTPN X. Tembakau Besuki dari perkebunan swasta juga turut diperdagangkan.
Pada 1961, Bremer Tabakbörse berdiri sebagai tempat pelelangan tembakau. Pemerintah Indonesia bersama mitra Jerman membentuk konsorsium Deutsch-Indonesische Tabak Handelsgesellschaft (DITH) untuk mengelola perdagangan tersebut.
Sejak itu, lelang Bremen menjadi salah satu pintu penting bagi tembakau cerutu Indonesia untuk masuk ke industri internasional.
Pada tahun 2008, misalnya, ANTARA melaporkan kegiatan lelang tembakau Indonesia di Bremen dalam rangka perayaan 50 tahun penyelenggaraan lelang. Para pembeli datang dari Belanda, Denmark, Swiss, Belgia, Jerman, Spanyol, hingga Amerika Serikat. Pada hari pertama, sebanyak 702 bal tembakau Jawa milik PTPN X terjual. Sementara itu, pada hari berikutnya, sebanyak 1.964 bal tembakau Deli mengikuti lelang.
Perbedaan Karakter Cerutu Indonesia dan Cerutu Kuba
Cerutu Kuba, khususnya yang menggunakan tembakau Vuelta Abajo, terkenal dengan karakter rasa yang kompleks. Para penikmatnya mengenal perpaduan aroma tanah, kayu, dan rempah, dengan cita rasa yang berkembang selama cerutu diisap.

Sementara itu, tembakau Sumatra memiliki karakter aromatik dengan sentuhan rasa pedas. Dalam industri cerutu, Sumatra wrapper dikenal sebagai daun pembungkus yang memiliki aroma khas dan kemampuan pembakaran yang baik.
Adapun tembakau Besuki Na-Oogst dan TBN dari Jember menawarkan karakter daun yang beragam, sesuai dengan kualitas dan penggunaannya. Kelenturan, tekstur, warna, serta karakter aromanya menjadi daya tarik bagi produsen cerutu internasional.
Karena itu, cerutu Indonesia tidak bisa begitu saja disebut lebih ringan atau lebih kuat daripada cerutu Kuba. Setiap produk memiliki komposisi daun dan karakter tersendiri.
Beberapa Merek Cerutu Dunia yang Terkenal
Untuk memahami perkembangan industri cerutu, ada beberapa merek yang telah lama memiliki reputasi internasional dan telah tersebar di pasaran cerutu dunia.
Cohiba: Salah satu merek cerutu paling terkenal dari Kuba. Merek ini pertama kali diperkenalkan pada 1960-an, kemudian memasuki pasar internasional.
Montecristo: Berdiri sejak 1935 dan dikenal dengan racikan tembakau Kuba.
Partagás. Merek cerutu dengan sejarah panjang yang bermula pada 1845.
Romeo y Julieta. Didirikan pada 1875 dan memiliki penggemar di berbagai negara.
Harga cerutu dari merek-merek tersebut sangat bervariasi, bergantung pada ukuran, seri, tahun produksi, kelangkaan, dan negara tempat produk dipasarkan. Karena itu, harga per batang cerutu produksi reguler bisa berbeda jauh dari edisi khusus.
Cerutu Indonesia: Dari Jember Menuju Pasar Dunia
Perjalanan tembakau cerutu Indonesia tidak berhenti pada perdagangan bahan baku. Seiring berkembangnya industri, sejumlah perusahaan mulai mengolah tembakau lokal menjadi produk cerutu siap jual. Jember menjadi salah satu pusat perkembangan industri ini.
Beberapa perusahaan yang berperan penting di antaranya:
1. PT Mangli Djaya Raya (MDR), perusahaan cerutu di Jember yang berdiri sejak 1960.
2. Kopkar Kartanegara, produsen cerutu yang didirikan pada 1989.
3. PT Boss Image Nusantara (BIN Cigar), perusahaan yang berdiri pada 2013 dan memproduksi berbagai kategori cerutu.
4. PT Dwipa Nusantara Tobacco (DNT), produsen cerutu yang mulai beroperasi pada 2019.
5. Burger Söhne AG, perusahaan internasional yang menjalankan kegiatan produksi cerutu di Jember.
6. Villiger Söhne AG, perusahaan cerutu asal Swiss yang juga memiliki fasilitas produksi di Indonesia.
Daftar tersebut menunjukkan bahwa industri cerutu Jember melibatkan perusahaan lokal maupun internasional.
Salah satu nama yang menarik perhatian adalah BIN Cigar. Perusahaan ini memproduksi cerutu dalam berbagai ukuran dan kategori, mulai dari cigarillo dan cerutu berukuran sedang hingga cerutu premium. Salah satu mereknya adalah Sakera.
Selain itu, perusahaan internasional seperti Dannemann juga memiliki fasilitas manufaktur di Jember. PT Dannemann Manufacturing Jember mulai beroperasi pada 2016. Perusahaan ini mengolah daun pembungkus, memproduksi cigarillo linting tangan, serta menyiapkan bahan tembakau untuk fasilitas produksi di Eropa dan pasar internasional.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa cerutu produksi Jember telah menjangkau pasar internasional. Pada September 2026, Pemerintah Kabupaten Jember menyampaikan bahwa sedikitnya enam perusahaan cerutu beroperasi di daerah tersebut. Sekitar 90 persen produksinya ditujukan untuk pasar ekspor, dengan jangkauan pemasaran hampir 45 negara.
Pasarnya meliputi Amerika Serikat, negara-negara Eropa, Timur Tengah, Tiongkok, dan kawasan Asia Tenggara. Cerutu Jember juga telah memasuki toko bebas bea di sejumlah negara.

Angka tersebut menunjukkan perubahan penting: Jember tidak lagi hanya mengandalkan penjualan daun tembakau mentah, tetapi juga mengembangkan industri pengolahan yang menghasilkan produk jadi dengan nilai tambah lebih besar.
Dalam rantai produksi ini, petani menghasilkan daun tembakau, perusahaan menyeleksi dan mengolahnya, lalu para pekerja menggulung serta menyelesaikan cerutu sebelum produk tersebut dipasarkan secara internasional.
Indonesia Punya Tempat dalam Sejarah Cerutu Dunia
Perjalanan cerutu dari Kuba hingga Indonesia menunjukkan bagaimana sebuah tanaman dapat membentuk sejarah perdagangan dan kebudayaan lintas negara.
Havana dan Vuelta Abajo telah lama dikenal sebagai pusat cerutu dunia. Namun, Indonesia juga memiliki cerita tersendiri melalui tembakau Deli dan Besuki Na-Oogst.
Deli memperkenalkan daun pembungkus cerutu asal Sumatra yang dikenal dengan karakter aromatiknya. Sementara itu, Jember mengembangkan tembakau Besuki Na-Oogst dan Tembakau Bawah Naungan untuk memenuhi kebutuhan industri cerutu internasional.
Perjalanan tembakau ini juga mencerminkan perubahan industri cerutu. Dahulu, Indonesia lebih banyak menjual daun tembakau sebagai bahan baku. Kini, sejumlah perusahaan lokal dan internasional mengolahnya menjadi cerutu siap konsumsi yang dipasarkan ke puluhan negara.
Dan satu hal yang pasti, nama Indonesia telah lama hadir dalam perdagangan tembakau cerutu dunia. Daun tembakau yang tumbuh di perkebunan Sumatra dan Jawa turut membentuk karakter cerutu yang dinikmati pecinta cerutu di berbagai belahan dunia.