Tangan-Tangan Perempuan di Balik Asap Kretek

Tangan-Tangan Perempuan di Balik Asap Kretek

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

01 May 2026

Setiap batang kretek menyimpan ritme kehidupan. Karena kretek bukan hanya sekadar campuran tembakau dan cengkeh, bukan pula hanya hasil produksi dari mesin-mesin pabrik. Kretek adalah akumulasi dari gerak berulang yang halus, cepat, dan nyaris tak terlihat, nyaris tak pernah dibahas. Bertahun tahun, berpuluh tahun. Di balik itu semua, ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam diam. Tangan yang jarang disebut, tapi tak tergantikan. Itulah kenapa dalam tiap batang kretek tersimpan irama kehidupan, yang mengalir dari tangan tangan terampil perempuan yang mengerjakannya.

Juru Linting Pabrik Rokok Djarum Kudus


Pada setiap peringatan Hari Buruh, kita sering mendengar tuntutan tentang upah layak, jaminan kerja, dan kondisi kerja yang manusiawi. Namun dalam industri hasil tembakau (IHT), narasi tentang buruh perempuan kerap berhenti di permukaan. Mereka hanya disebut sebagai buruh linting, difoto dalam barisan rapi, lalu dijadikan simbol ketekunan. Selesai. Tidak ada yang benar-benar masuk ke dalam kehidupan mereka.

Padahal, kerja perempuan dalam mata rantai industri hasil tembakau tidak dimulai dari meja linting.

Kerja Perempuan yang Dianggap Bukan Kerja

Di banyak sentra tembakau seperti Temanggung, Madura, hingga Lombok, perempuan hadir sejak awal musim tanam. Mereka menyiangi ladang, memilah daun, merajang, hingga menjemur tembakau di halaman rumah. Semua dilakukan dalam ritme domestik di sela aktivitas memasak, mengurus anak, dan menjaga rumah agar tetap bersih. Pada titik inilah, batas antara kerja dan rutinitas kehidupan menjadi samar. Tidak ada jam kerja yang jelas. Tidak ada istilah lembur, karena seluruh hidupnya adalah kerja itu sendiri.

Nganjang tembakau bersama keluarga


Sahabat dekat saya pernah bilang, kita sering keliru memahami industri hasil tembakau sebagai sesuatu yang sepenuhnya industrial dan hanya terpusat di pabrik, diatur mesin, dikendalikan korporasi. Padahal, sebagian besar prosesnya justru bertumpu pada kerja-kerja kecil yang tersebar di ruang domestik. Industri hasil tembakau itu bukan hanya di dalam pabrik rokok, melainkan dari hulu ke hilir.

Dan di ruang-ruang itulah kaum perempuan menjadi tulang punggung.

Namun justru karena berlangsung di ruang domestik, kerja ini kerap tidak dianggap sebagai kerja formal. Kerja yang tidak tercatat. Kerja yang tidak dinegosiasikan. Kerja yang tidak diperhitungkan sebagai bagian dari ekonomi besar yang selama ini diperdebatkan negara.

Ketika tembakau mengering di halaman, itu masih dianggap sebagai rutinitas rumah tangga. Ketika perempuan merajang daun berjam-jam, itu masih disebut membantu. Ketika puluhan perempuan bertaruh nyawa di lereng perbukitan, sambil berdiri di tangga bambu memetik bunga cengkeh masih dianggap hal biasa.

Ketika mereka melinting ratusan batang sehari di pabrik rokok, apakah itu disebut juga pekerjaan ringan?

Pekerja Pabrik Rokok Djarum Kudus


Padahal, tidak ada yang ringan dari kerja repetitif yang menuntut ketelitian tinggi, duduk berjam-jam, punggung yang perlahan membungkuk. Jari-jari yang mengeras. Mata yang terus dipaksa fokus pada rajangan tembakau yang akan dilinting.

Di ruang itu ada disiplin tubuh yang terbentuk dari kerja melinting, yang bahkan lebih presisi daripada mesin. Namun berbeda dengan mesin, tubuh mereka jarang mendapatkan perawatan yang setara melainkan hanya diharapkan terus bekerja.

Dalam banyak kasus, perempuan-perempuan ini tidak benar-benar memilih pekerjaan tersebut. Mereka mewarisinya. Dari ibu ke anak perempuan, dari generasi ke generasi.

Dalam pabrikan kretek, pola ini juga kadang berulang. Kerja diwariskan, bukan dari ibu ke anak, tetapi juga ada yang ke saudara, tetangga, dan sesama perempuan di sekitar mereka. Yang diwariskan bukan hanya keterampilan, tetapi juga posisi sebagai pekerja di lapisan paling bawah rantai produksi yaitu sebagai pekerja linting.

Bagi banyak perempuan, kerja di pabrik kretek memberikan ruang ekonomi yang tidak selalu tersedia di sektor lain. Bekerja di industri kretek memungkinkan mereka tetap berada di rumah, tetap dekat dengan anak, sekaligus menghasilkan pendapatan. Bahkan ada yang untuk membiayai sekolah anaknya.

Di tengah kondisi ekonomi seperti sekarang ini, penghasilan dari sektor kretek begi mereka cukup berarti, bahkan lebih stabil dibanding pilihan kerja di sektor lainnya. Apalagi dengan pilihan kerja yang terbatas, bekerja di sektor kretek bukanlah hal kecil.

Negara dan Angka-Angka

Kebijakan negara yang dibuat untuk mereka lebih banyak hanya berbicara dalam angka produksi, besaran cukai, dan prevalensi konsumsi, tanpa benar-benar menyentuh siapa yang bekerja di balik angka tersebut. Buruh perempuan dalam industri kretek jarang menjadi subjek kebijakan negara. Mereka lebih sering hanya menjadi latar.

Dalam logika kebijakan, tubuh-tubuh yang bekerja ini kerap kalah penting dibanding angka-angka besaran cukai.

Petani Memanen Cengkeh



Sementara itu perubahan dalam industri, baik karena regulasi, mekanisasi, maupun tekanan pasar, perlahan menggeser posisi mereka. Dorongan standardisasi, termasuk dalam rencana penyeragaman kadar tar dan nikotin, berpotensi mempercepat mekanisasi produksi. Mesin linting bisa saja akan menggantikan sebagian kerja manual. Standarisasi produksi bisa saja mengurangi jumlah mereka yang bekerja dalam sunyi di pabrik pabrik kretek yang ada di Indonesia.

Pertanyaannya kemudian, apa yang akan terjadi ketika tangan-tangan ini berhenti?

Bukan hanya industri yang akan berubah, tetapi juga struktur sosial yang selama ini menopangnya. Karena di banyak tempat, kerja perempuan dalam kretek bukan sekadar aktivitas ekonomi, melainkan bagian dari cara bertahan hidup.

Hari Buruh seharusnya menjadi momen untuk memperluas cara negara melihat kerja. Bukan hanya yang terlihat di jalanan kota atau di dalam pabrik besar, tetapi juga yang tersembunyi di balik dinding rumah, di halaman yang dipenuhi daun tembakau, di lereng lereng perkebunan cengkeh, dan di ruang-ruang kecil tempat perempuan bekerja tanpa banyak suara.

Kretek selama ini terlalu sering dibicarakan sebagai komoditas, sebagai masalah kesehatan, atau sebagai objek kebijakan. Namun jarang dilihat sebagai ruang hidup bagi mereka yang mengerjakannya, terutama perempuan.

Mungkin sudah saatnya negara menggeser fokus. Dari asap kretek yang dikonsumsi, ke tangan yang bekerja. Dari produk yang diperdebatkan, ke tubuh perempuan yang mengerjakannya. Dari industri besar, ke kehidupan kecil yang menopangnya. Karena tanpa tangan-tangan yang bekerja dalam sunyi itu, kretek tidak pernah benar-benar ada.

Selamat Hari Buruh, perempuan-perempuan tangguh.

 

 

 

Arsip Visual Terbaru