Pembahasan tentang industri hasil tembakau dan kretek di Indonesia tidak bisa direduksi menjadi sekadar persoalan rokok, cukai, atau isu kesehatan masyarakat. Setiap batang kretek memiliki lapisan cerita dan makna yang diperebutkan banyak pihak. Bagi negara, kretek adalah objek regulasi. Bagi industri, ia merupakan motor penggerak ekonomi. Bagi organisasi non-pemerintah (NGO), ia adalah simbol tantangan kesehatan publik. Sementara bagi masyarakat, kretek memiliki tempat yang lebih personal, sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan sejarah sosial. Sayangnya, narasi-narasi ini berjalan timpang. Penelitian kesehatan mendominasi diskursus, sementara kajian budaya, catatan sejarah lokal, hingga narasi manusianya justru cenderung terpinggirkan.
Padahal, perjalanan kretek adalah bagian integral dari kehidupan bangsa Indonesia selama lebih dari satu abad. Beragam kota tumbuh bersama geliat industri rokok. Ribuan keluarga bergantung pada ekosistem ini mulai dari petani tembakau dan cengkeh, buruh linting, buruh gudang, sopir distribusi, hingga pedagang kecil di sudut-sudut kampung dan kaum urban di perkotaan. Namun dalam perbincangan publik, berbagai dimensi ini sering kali direduksi menjadi sekadar angka prevalensi konsumsi atau grafik statistik.
Di sinilah muncul pertanyaan mendasar: siapa sebenarnya yang layak mendefinisikan kretek?
Kretek: Lebih dari Sekadar Produk Industri
Sebagian memandang kretek hanya sebagai hasil dari mesin-mesin industri. Anggapan ini tidak sepenuhnya keliru. Rantai ekonomi yang terbangun di sekitar industri tembakau memang sangat luas; melibatkan petani, pabrik, distributor, hingga negara yang meraup pemasukan besar melalui cukai.
Namun kehidupan kretek di Indonesia memiliki kerumitan tersendiri, jauh melampaui relasi sederhana antara produsen dan konsumen.

Bagi banyak masyarakat lokal, kretek bukan hanya produk melainkan pengalaman hidup yang berlapis. Sejak kecil, sebagian besar masyarakat di beberapa daerah mengenal aroma khas tembakau dan cengkeh yang tercium dari dapur rumah atau kebun tetangga. Banyak keluarga hidup berdampingan dengan pabrik rokok yang beroperasi selama puluhan tahun, suara deru mesin linting hingga hiruk-pikuk buruh perempuan di senja hari menjadi memori kolektif mereka. Di saat yang sama, tradisi sosial ikut terjalin erat dengan budaya merokok; obrolan panjang di pos ronda, acara hajatan desa, diskusi politik hangat di warung kopi, hingga adat menjamu tamu dengan segelas batangan kretek.
Namun ketika wacana tentang industri tembakau dibatasi pada perspektif tunggal, banyak pengalaman manusia yang kaya ini nyaris tak tersentuh, bahkan terkubur diam-diam.
Pertanyaan tentang siapa yang memiliki otoritas atas definisi kretek bukanlah semata soal wacana, ia juga menyangkut keadilan dalam merepresentasikan keragaman kepentingan dan pengalaman yang membungkus keberadaan kretek itu sendiri. Kretek adalah kisah kompleks tentang ekonomi, budaya, sejarah, dan identitas nasional yang tak layak digerus jadi sekadar hitungan statistik belaka.
Negara, NGO, industri, dan akademisi saling memperebutkan narasi terkait tembakau, khususnya kretek. Pemerintah memiliki peran strategis dengan kuasa regulasi yang mencakup pengaturan cukai, iklan, kawasan tanpa rokok, hingga aturan produksi. Oleh sebab itu, negara sering dianggap sebagai pihak yang paling sah untuk menentukan arah diskusi mengenai isu ini. Di sisi lain, NGO kesehatan global membawa pengaruh besar melalui kampanye pengendalian tembakau. Mereka mendorong riset kesehatan, kampanye antirokok, dan pengimplementasian kebijakan terkait pembatasan konsumsi tembakau. Akibatnya, diskusi publik lebih sering berfokus pada dampak kesehatan daripada aspek sosial atau sejarah budaya kretek itu sendiri.
Sementara itu, industri tembakau berusaha mempertahankan posisinya dengan menonjolkan kontribusi ekonomi, tenaga kerja, dan pendapatan negara dari cukai. Namun, publik kerap memandang argumen mereka sebagai upaya pelestarian kepentingan bisnis semata sehingga kurang mendapatkan legitimasi dalam wacana di ruang publik.
Posisi akademisi menyimpan kompleksitas tersendiri dalam narasi ini. Penelitian tentang tembakau lebih banyak berfokus pada aspek epidemiologi, kesehatan masyarakat, atau ekonomi makro. Sebaliknya, pembahasan mengenai budaya kretek, seperti bahasa para pekerja gudang, dinamika sejarah pabrik kecil, atau hubungan sosial dalam komunitas tembakau masih minim perhatian. Ini menunjukkan bahwa topik penelitian sering kali ditentukan oleh arah pendanaan, tren global, dan politik pengetahuan yang dominan saat ini.

Di tingkat global, wacana tentang tembakau sering kali menggunakan kerangka yang seragam sehingga kurang sesuai dengan konteks lokal.
Indonesia memiliki sejarah dan karakteristik unik terkait kretek, produk yang berasal dari campuran tembakau dan cengkeh lokal serta berkembang sebagai industri rakyat yang mandiri, berbeda dari rokok putih yang erat kaitannya dengan kolonisasi industri Barat. Namun, narasi global tentang tembakau sering kali mengabaikan aspek sosial dan budaya yang melekat pada kretek di Indonesia.
Misalnya, di kota-kota seperti Kudus, Kediri, atau Temanggung, kretek bukan sekadar barang konsumsi. Bagi masyarakat sekitar, kretek merupakan sumber lapangan kerja, identitas daerah, hingga simbol mobilitas sosial. Bahkan banyak keluarga berhasil membiayai pendidikan anak-anak mereka dari penghasilan di sektor ini. Berbagai kampung tumbuh dan hidup bersama pabrik-pabrik rokok kretek yang menjadi pusat ekonomi lokal.
Namun demikian, wacana global cenderung lebih menekankan data statistik terkait konsumsi tembakau, angka kematian, serta beban kesehatan akibatnya. Walaupun aspek tersebut penting untuk dibahas, dominasi narasi semacam itu berisiko menghilangkan ruang bagi masyarakat untuk menggali pemahaman tentang sisi budaya dan sejarah sosial kretek di Indonesia yang sangat kaya.
Pabrik yang Hilang, Merek yang Lenyap, dan Arsip yang Tak Pernah Tuntas
Ada satu lapisan penting dalam sejarah yang kerap terpinggirkan; jejak industri kretek kecil yang perlahan hilang tanpa bekas. Dahulu, hampir setiap kota memiliki pabrik rokok rumahan atau merek lokal yang hidup di pasar tradisional. Beberapa dinamai berdasarkan keluarga, kampung, tokoh wayang, atau bahkan simbol keberuntungan. Namun, waktu secara perlahan menghapus jejak banyak dari nama-nama tersebut tanpa dokumentasi yang memadai.
Pabrik-pabrik kecil ini tutup disebabkan karena berbagai alasan. Sebagian tersingkir akibat perubahan regulasi yang kian menekan IHT, sebagian lagi kalah bersaing dengan pabrikan lain yang lebih besar. Ada pula yang tidak mampu bertahan menghadapi kenaikan biaya produksi dan kenaikan cukai. Akibatnya, bangunan-bangunan yang dulunya penuh aktivitas berubah fungsi menjadi ruko, gudang kosong, atau rumah tinggal biasa.

Ironisnya, sebagian besar kisah di balik hilangnya industri ini belum pernah benar-benar dicatat secara serius. Memang masih ada cerita-cerita lisan yang hidup di benak mantan buruh linting maupun anggota keluarga pemilik pabrik kecil. Mereka mengenang suasana pagi hari di tengah bau tembakau basah serta ritme tangan pelinting yang tak henti bekerja. Bahkan beberapa orang tua masih mengingat nama-nama merek kecil yang dulu pernah berjaya di tingkat lokal tapi kini benar-benar hilang.
Sayangnya, sejarah kecil seperti ini jarang masuk ke dalam arsip formal atau penelitian akademik. Banyak akademisi lebih terfokus pada data makro, sedangkan media condong meliput perusahaan besar atau isu-isu kontroversial yang lebih menarik perhatian publik. Ketika generasi yang pernah hidup di masa itu perlahan menua, kisah-kisah tentang industri kretek di tingkat akar rumput seakan turut terkubur bersamanya.
Padahal, justru di sanalah tersimpan potret kehidupan sehari-hari masyarakat, dunia kecil yang tergerus oleh arus zaman.
Kretek sebagai Ladang Perebutan Pengetahuan
Ketika muncul pertanyaan “siapa yang berhak mendefinisikan kretek?”, jawabannya tidaklah sederhana. Banyak pihak terlibat dalam medan ini. Negara memiliki regulasi; organisasi non-pemerintah (NGO) menjalankan kampanye global; industri besar memegang kendali modal serta penyebaran informasi; dan akademisi membawa legitimasi ilmiah. Namun, ada satu suara yang tak boleh diabaikan: masyarakat itu sendiri, yang menyimpan pengalaman hidup dan pengetahuan lokal yang jarang sekali tercermin di laporan kebijakan atau jurnal penelitian.
Dengan begitu, perebutan narasi tentang kretek sejatinya adalah perebutan atas pengetahuan. Siapa yang dianggap sah untuk berbicara? Penelitian macam apa yang mendapatkan sokongan dana? Cerita mana yang akhirnya diliput media? Dan pengalaman siapa yang dinilai penting? Semua ini menentukan cara publik memahami industri hasil tembakau, khususnya kretek, pada hari ini.
Sementara itu, masyarakat sering kali menjadi pihak yang paling terpinggirkan dalam percakapan ini. Buruh linting, petani tembakau, hingga komunitas lokal kerap tidak memiliki akses atau sumber daya untuk merekam dan menyebarkan pengalaman mereka sendiri. Alhasil, narasi tentang mereka lebih sering disampaikan oleh orang lain, dan sering kali dengan sudut pandang yang belum tentu utuh.
Kendati selalu menjadi buah bibir kontroversi, pembahasan mengenai kretek selayaknya dilakukan dengan perspektif menyeluruh. Industri hasil tembakau memang selalu dikaitkan dengan isu kesehatan publik; namun di baliknya tersimpan pula sejarah kerja, identitas budaya, migrasi buruh, dinamika ekonomi keluarga, hingga perkembangan kota-kota kecil di Indonesia.
Memulainya tidak perlu dari langkah besar. Barangkali cukup dengan upaya sederhana: mendengarkan kisah-kisah yang belum terdokumentasikan. Cerita tentang pabrik-pabrik kecil yang lenyap tanpa jejak. Tentang merk lokal yang pernah meramaikan kios-kios pasar desa. Tentang pelinting-pelinting rokok yang bertaruh pada kecekatan jemari mereka dalam mencari rezeki.
Sebab ketika semua cerita itu sirna tanpa bekas, yang tertinggal hanyalah narasi besar, dan narasi itu belum tentu sanggup merepresentasikan keseluruhan kebenaran.