Perokok Pasif, Mitos  yang Masih Didengungkan Influencer Di Medsos

Perokok Pasif, Mitos yang Masih Didengungkan Influencer Di Medsos

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

14 Sep 2026

Ada mitos yang menyatakan bahwa menjadi perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif. Mitos ini selalu berulang didengungkan di medsos, entah itu Instagram, threat atau pun X, bahkan Tiktok. Pernyataan ini sungguh menakutkan bagi sebagian orang yang tidak merokok, dan sampai hari ini banyak penelitian telah dilakukan untuk menguji hipotesis tersebut.

 

Ada penelitian yang diragukan kualitasnya dan penelitian yang benar-benar ilmiah. Beberapa penelitian yang kurang kredibel mengklaim perokok pasif lebih berbahaya dibandingkan perokok aktif, namun klaim ini sudah dibantah oleh penelitian ilmiah terpercaya. Bahkan, ada juga penelitian ilmiah yang mengatakan hal serupa tetapi kemudian dibantah oleh studi ilmiah lainnya.

 

Sudah banyak sekali penelitian ilmiah yang membahas topik ini. Dengan kemudahan akses informasi saat ini, Anda dapat dengan mudah menemukan hasil-hasil penelitian tersebut. Dalam tulisan ini, saya ingin membahas satu hasil penelitian terkait perokok pasif yang hingga kini selalu didaur ulang dan didengungkan oleh para influencer atau buzer buzer antirokok di Medos.

 

Sebelum mendalami hasil penelitian mengenai perokok pasif yang akan saya uraikan di bawah nanti, mari kita tinjau kembali apa yang dimaksud dengan perokok pasif. Perokok pasif adalah individu yang tidak merokok secara langsung tetapi terpapar asap rokok dari pembakaran rokok yang dilakukan oleh orang lain di sekitarnya.

 

Salah satu asumsi yang mendasari anggapan bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif adalah karena perokok aktif hanya menghirup 25 persen dari asap rokok yang mereka hasilkan, sementara sisanya dihirup oleh perokok pasif. Dengan demikian, secara kuantitas, perokok pasif dianggap menghirup lebih banyak asap dibandingkan perokok aktif.

Anak Putu Kiai Bonokeling menikmati rokok kreteknya


 

Jika Anda mencari informasi mengenai rokok di internet, isu perokok pasif adalah topik yang masih sering dibahas. Ini sering kali digunakan sebagai cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendukung kampanye antirokok dan antitembakau.

 

Kampanye mengenai bahaya perokok pasif mulai terdengar setidaknya pada tahun 1970-an di Amerika Serikat, seiring dengan promosi produk nikotin alternatif selain rokok konvensional. Pada tahun 1972, isu tentang dampak kesehatan perokok pasif pertama kali dibicarakan. Lalu dibahas kembali dalam Laporan Surgeon General AS pada tahun 1979, 1982, dan 1984.

 

Kemudian, pada tahun 1992, Environmental Protection Agency (Badan Perlindungan Lingkungan) Amerika Serikat (EPA) merilis studi yang menyatakan bahwa menjadi perokok pasif sangat berbahaya bagi kesehatan. Studi ini beranggapan bahwa karena ada hubungan antara merokok aktif dan kanker paru-paru, wajar jika terdapat kaitan erat antara perokok pasif dan kanker paru-paru juga.

 

Asumsi tersebut membawa mereka pada kesimpulan bahwa menjadi perokok pasif sangat membahayakan kesehatan hingga mengancam nyawa. Menurut hasil penelitian EPA, terdapat sekitar 3.000 perokok pasif meninggal setiap tahun di AS akibat kanker paru-paru.

 

Namun pada tahun 1995, Layanan Penelitian Kongres (Congressional Research Service atau CRS). CRS adalah sebuah lembaga riset publik yang bekerja secara nonpartisan dan tanggung jawab penuhnya berada di bawah Kongres Amerika Serikat. Pada 1995 mereka merilis penelitian yang membantah penelitian perokok pasif yang hasil penelitian dari dari EPA. Setelah melakukan penelitian intensif selama 20 bulan, CRS berhasil membantah asumsi dan kesimpulan EPA tentang perokok pasif. Pada November 1995, hasil penelitian CRS dipublikasikan dan berhasil menolak riset EPA. Kemudian pada tahun 1998, seorang hakim federal mendukung hasil riset CRS dan membatalkan temuan dari EPA.

 

Mari kita analisis ulang asumsi bahwa perokok pasif lebih berbahaya daripada perokok aktif karena pandangan ini seringkali hanya dianggap sebagai mitos. Klaim bahwa perokok pasif menghisap tiga perempat asap rokok, sementara perokok aktif hanya mendapatkan seperempatnya, tampak tidak masuk akal. Mereka yang sedikit banyak memahami logika dasar tahu bahwa klaim ini salah. Perokok yang mengisap rokok juga secara otomatis menghirup asap sisa di udara, menjadikannya perokok pasif sekaligus. Jadi, bagaimana bisa asap yang dihisap oleh perokok pasif lebih besar dari perokok aktif?

 

Jika statistik yang ada menyatakan bahwa risiko perokok pasif lebih tinggi, seharusnya data ini dipertanggungjawabkan, karena secara logis perokok aktif juga berfungsi sebagai perokok pasif. Membagi asap menjadi dua bagian tidaklah sesederhana itu. Ada faktor lainnya: asap yang terlepas ke udara, tersebar di sekitar orang lain, atau bahkan menempel pada benda.

 Orang Merokok


Jika benar ada 75 persen asap yang tidak dihirup oleh perokok aktif, angka ini jelas tersebar ke banyak tempat lain dan tidak seluruhnya tepat menuju perokok pasif. Penyekatan pandangan seperti ini sering muncul dari pihak yang anti-rokok, menyederhanakan masalah dengan terus menyalahkan rokok sebagai sumber utama penyakit, tanpa mempertimbangkan polusi udara lain seperti asap kendaraan atau pabrik yang sama-sama membahayakan kesehatan.

 

Sebelum menutup tulisan ini, penting untuk ditegaskan kembali bahwa saya tidak menganjurkan siapa pun untuk merokok. Pilihan untuk merokok atau tidak sepenuhnya personal dan dilindungi oleh hukum. Tulisan ini bertujuan untuk memberi perspektif terhadap perlakuan diskriminatif yang dialami perokok, seolah mereka adalah satu-satunya penyebab penyakit.

 

Untuk para perokok, tetaplah konsisten merokok dengan mempertimbangkan etika sosial: hanya merokok di tempat yang diizinkan, jauhkan diri dari anak-anak dan ibu hamil, serta hormati mereka yang sensitif terhadap asap rokok. Dan jika ada kesempatan, bantulah sesama perokok yang mungkin kehabisan rokok. Begitu…

 

Arsip Visual Terbaru