Peran Bloomberg Dalam Kampanye Antirokok di Indonesia

Peran Bloomberg Dalam Kampanye Antirokok di Indonesia

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

11 Sep 2026

Bloomberg Initiative adalah salah satu kekuatan filantropi terbesar di dunia dalam gerakan pengendalian rokok di Indonesia. Sejak Michael R. Bloomberg meluncurkan program ini, dana miliaran dolar telah digunakan untuk mendukung kebijakan seperti kenaikan cukai, kawasan bebas asap rokok, larangan iklan, peringatan kesehatan, program berhenti merokok, dan berbagai advokasi kebijakan di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Pertanyaannya kemudian adalah mengapa Indonesia menjadi medan penting dalam perang ini, dan siapa sebenarnya yang diuntungkan dari kampanye antirokok yang mendapatkan gelontoran dana dari Blomberg ini?

 

Pertanyaan ini menarik karena Indonesia bukan hanya memiliki industri rokok, tetapi juga memiliki kretek, produk yang lahir dari sejarah, budaya, pertanian, tenaga kerja, perdagangan, dan budaya masyarakatnya sendiri. Saat agenda global pengendalian rokok bentrok dengan industri kretek nasional, jelas bahwa pertarungannya bukan hanya soal kesehatan, tetapi juga melibatkan ekonomi. Ada kebijakan, ada uang, dan tentu saja ada kepentingan.

 

Siapa sebenarnya Michael Bloomberg?

 

Michael R. Bloomberg bukanlah sosok yang baru muncul dalam perang tembakau. Dia adalah seorang pengusaha Amerika Serikat yang mendirikan Bloomberg L.P. pada 1981. Perusahaan ini membangun bisnis besar di bidang teknologi finansial, data, perangkat lunak, informasi, dan media. Bloomberg kemudian mengembangkan Bloomberg Philanthropies sebagai kendaraan filantropinya. Menurut laporan tahunan Bloomberg Philanthropies, sebagian besar keuntungan dari Bloomberg L.P. digunakan untuk mendukung kegiatan filantropi tersebut.

 

Bloomberg mulai terlibat agresif dalam perang tembakau pada 2006–2007 dengan mendirikan Bloomberg Initiative to Reduce Tobacco Use dan mengalokasikan dana awal sejumlah ratusan juta dolar untuk mengurangi konsumsi tembakau di negara berpendapatan rendah dan menengah. Program ini terus berkembang dan saat ini, situs Tobacco Control Grants menyebut Bloomberg Philanthropies telah berkomitmen lebih dari US$1,58 miliar untuk pengendalian tembakau sejak 2005. Tentu bukan uang receh melainkan angka yang sangat besar, dan ini dimanfaatkan oleh para pembuat proposal proyek di LSM dan Lembaga lembaga lainnya di Indonesia.

belanja rokok di warung kelontong


 

Dengan jumlah uang sebesar itu, Bloomberg bukan lagi sekadar seorang kaya yang menyumbangkan kampanye kesehatan. Ia telah menjadi salah satu pemain paling berpengaruh dalam politik kebijakan tembakau global.

 

Bloomberg memang ingin mengubah kebijakan tembakau

 

Bloomberg tidak menyembunyikan apa yang mereka kerjakan. Program resminya didesain dengan sangat bijaksana. Terdapat enam pendekatan utama yang dikenal sebagai MPOWER: memantau penggunaan tembakau, melindungi masyarakat dari asap rokok, membantu orang berhenti merokok, memberikan peringatan bahaya tembakau, melarang iklan/promosi/sponsorship, serta menaikkan pajak dan harga produk tembakau.

 

Bloomberg Philanthropies juga menyatakan bahwa mitranya telah membantu mengembangkan dan menerapkan 185 undang-undang di 94 negara, yang menurut estimasi mereka kini melindungi sekitar lima miliar orang.

Pertanyaannya kemudian adalah sejauh mana uang filantropi asing boleh ikut membentuk arah kebijakan publik sebuah negara? Ini menjadi semakin penting ketika sasaran program bukan hanya konsumen rokok, tetapi juga pemerintah, parlemen, akademisi, organisasi masyarakat sipil, organisasi keagamaan, media, dan berbagai kelompok advokasi.

 

Kenapa Indonesia?

 

Mengapa Indonesia menjadi fokus perhatian? Bloomberg memilih Indonesia sebagai salah satu dari sembilan negara prioritas dalam program pengendalian tembakau, bersama dengan India, Bangladesh, Pakistan, Vietnam, Filipina, Brasil, Ukraina, dan Meksiko. Program ini bertujuan untuk mendorong perubahan kebijakan baik di tingkat nasional maupun lokal.

petani menggulung tembakau untuk diangkut ke rumah


 

Kenapa Indonesia? Sebabnya, negara ini memiliki pasar tembakau yang besar, industri kretek yang kuat, jumlah perokok yang tinggi, serta jaringan ekonomi yang melibatkan petani tembakau dan cengkeh, pekerja pabrik, distributor, hingga pedagang kecil. Selain itu, sistem politik dan pemerintahan yang terdesentralisasi membuat perubahan kebijakan dapat terjadi di berbagai daerah, bukan hanya di Jakarta.

 

Daerah-daerah di Indonesia menjadi medan penting bagi Bloomberg untuk melakukan perubahan, seolah-olah hadir sebagai penyelamat. Laporan Bloomberg pernah mencatat bagaimana program mereka mendukung kampanye dan kebijakan pengendalian tembakau di Indonesia. Salah satu contohnya adalah upaya memblokir sponsor rokok pada konser Kelly Clarkson di Jakarta pada 2010. Setelah kampanye intensif yang melibatkan mitra Bloomberg, sponsor LA Lights akhirnya ditarik dari acara tersebut.

 

Intervensi Bloomberg tidak sekadar menyentuh bungkus rokok. Mereka juga terlibat dalam aspek iklan, promosi, sponsorship, ruang publik, dan kebijakan pemerintah.

Dari LSM Hingga Pemerintah

Jejak pendanaan Bloomberg di Indonesia tampak signifikan, terutama pada masa awal ketika berbagai proyek di bawah Bloomberg Initiative menerima jutaan dolar AS. Buku Membunuh Indonesia: Kretek di Tengah Medan Perang Global Melawan Tembakau mengungkapkan bahwa berdasarkan data hibah dari Bloomberg Initiative, ada sekitar puluhan proyek dengan total dana sekitar 6,44 juta USD.

 

Beberapa penerima hibah termasuk Indonesia Corruption Watch yang mendapatkan 45.470 USD untuk proyek tata kelola kebijakan tembakau, IFPPD yang memperoleh dana untuk menggalang dukungan politik di parlemen, serta Public Interest Lawyers for Indonesian Tobacco Control Network yang menerima 154.400 USD untuk dukungan hukum terhadap regulasi kawasan tanpa rokok. National Commission on Tobacco Control juga mendapatkan 81.250 USD untuk melarang sponsorship industri tembakau di musik dan film, dengan proyek lainnya senilai 112.700 USD untuk melarang iklan, promosi, dan sponsorship tembakau secara komprehensif.

 

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia atau YLKI tercatat memperoleh 454.480 USD untuk advokasi dan penegakan kawasan tanpa rokok serta larangan iklan tembakau di Jawa. Hibah lainnya sebesar 127.800 USD digunakan untuk advokasi kawasan tanpa rokok di Jakarta. Swisscontact Indonesia Foundation mendapatkan 360.952 USD untuk memperkuat sistem pelaksanaan Jakarta bebas rokok dan 300.000 USD untuk memperkuat implementasi kebijakan tersebut.

 memikul daun tembakau hasil panen di lereng sumbing


Hibah ini juga mencakup pendanaan untuk organisasi, universitas, pemerintah daerah, hingga kementerian. Misalnya, Demographic Institute Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia menerima 280.755 USD untuk advokasi kebijakan pajak dan harga tembakau. Direktorat Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan juga mendapatkan sekitar 300.000 USD untuk program strategi pengendalian tembakau.

 

Ada pula hibah untuk beberapa organisasi dalam aspek hukum, kebijakan, parlemen, dan advokasi. National Commission on Tobacco Control memperoleh 112.700 USD untuk menegakkan larangan komprehensif terhadap iklan, promosi, dan sponsorship tembakau. Muhammadiyah tercatat menerima hibah sebesar 393.234 USD dari November 2009 hingga Oktober 2011 untuk mobilisasi dukungan publik serta menyebarluaskan nasihat keagamaan mengenai bahaya tembakau.

Notably, pada Maret 2010, Muhammadiyah mengeluarkan fatwa haram merokok. Walaupun Muhammadiyah membantah bahwa hibah dari Bloomberg memengaruhi keputusan ini, publik menyadari adanya hubungan antara hibah tersebut dan fatwa yang dikeluarkan pada waktu yang sama. Kemudian beredar kabar bahwa Muhammadiyah mengembalikan dana dari Bloomberg tersebut.

 

Jika bukan demi kepentingan bisnis, lantas apa tujuannya?

 

Meskipun data yang beredar di internet menunjukkan bahwa Bloomberg tidak memiliki bisnis rokok, bagaimana dengan industri nikotin? Pertanyaan ini telah dibahas dalam buku Nicotine War oleh Wanda Hamilton, yang menyoroti bahwa perang melawan rokok tidak terlepas dari upaya penguasaan pasar nikotin. Ini termasuk kepentingan industri farmasi yang memasarkan produk Nicotine Replacement Therapy (NRT) seperti permen karet nikotin, patch, dan terapi berhenti merokok lainnya.

 

Wanda Hamilton mengajukan pertanyaan kritis mengenai apakah perang melawan rokok sekaligus membuka peluang bisnis bagi produk nikotin alternatif dari industri farmasi. Penelitian akademis menunjukkan bahwa sejarah industri tembakau dan farmasi penuh dengan hubungan bisnis dan konflik kepentingan yang rumit. Sebagai contoh, penelitian yang diterbitkan di JAMA pada tahun 2002 menemukan hubungan finansial dan kepemilikan silang antara beberapa perusahaan tembakau dan farmasi.

 

Persaingan ini sebenarnya memperebutkan masa depan nikotin. Seiring waktu, nikotin yang dahulu identik dengan rokok kini hadir dalam berbagai bentuk: terapi berhenti merokok, rokok elektronik, pouch nikotin, heated tobacco products, dan berbagai produk alternatif lainnya.

 

Jadi, siapa yang akan mendominasi pasar jika konsumsi rokok konvensional berhasil ditekan? Apakah benar kampanye antirokok tidak semata-mata soal kesehatan, tetapi juga karena ada bisnis besar nikotin di pasaran? Mengapa industri kretek menjadi fokus penting? Karena kretek memiliki karakter khas berbeda dari rokok putih yang banyak dijumpai di negara-negara Barat. Kretek menggabungkan tembakau dan cengkeh, didukung oleh petani tembakau, petani cengkeh, buruh linting, buruh pabrik, pedagang, distributor, industri kemasan, transportasi, periklanan, warung, serta berbagai kegiatan ekonomi yang terkait dengan industri hasil tembakau.

 

Pemerintah menaikkan cukai atau memperketat iklan tidak hanya berimbas pada perusahaan rokok, tapi juga pada petani, pekerja, dan pedagang kecil. Industri kretek memang memiliki perusahaan besar seperti Djarum atau Gudang Garam, tetapi ekosistemnya jauh lebih luas daripada sekadar nama-nama tersebut.

 

Dari Iklan ke Ruang Pemerintahan

 

Strategi Bloomberg secara jelas menargetkan perubahan kebijakan. Program hibah mereka sekarang mendanai proyek-proyek yang bertujuan memperbaiki undang-undang, peraturan, dan kebijakan pengendalian tembakau di tingkat nasional maupun daerah. Mereka juga menawarkan hibah khusus untuk proyek yang mengidentifikasi dan melawan aktivitas industri tembakau yang dianggap menghambat kebijakan pengendalian tembakau. Bloomberg menyebut pendekatan ini sebagai upaya menyelamatkan nyawa. Namun, apakah ini benar-benar terjadi atau hanya persaingan pasar?

 

Di sisi lain, pendekatan ini tampaknya membentuk jaringan advokasi yang semakin kuat untuk mempersempit ruang gerak industri rokok. Mereka mendanai organisasi, menyediakan pengetahuan, memperkuat kapasitas advokasi, mendukung kampanye, dan membantu kelompok tertentu dalam mendorong perubahan kebijakan.

 Iklan Rokok Di tepi Jalan


Semua ini dibiayai oleh Bloomberg. Jika ruang gerak industri kretek terus dipersempit, siapa yang akan mengisi ruang ekonomi yang kosong? Apakah petani akan tetap menanam tembakau? Apakah petani cengkeh masih memiliki pasar? Apakah buruh linting masih memiliki pekerjaan? Apakah toko kecil masih mendapatkan keuntungan dari penjualan produk rokok legal? Dan ketika masyarakat berhenti mengonsumsi rokok konvensional, produk nikotin apa yang akan menggantikannya?

 

Di sinilah Nicotine War menjadi relevan. Nilai ekonomi nikotin sangat besar. Nikotin adalah industri besar, demikian juga kretek di Indonesia. Selama nikotin memiliki nilai ekonomi tinggi, akan selalu ada pihak yang ingin mengatur penjualannya, cara pemasaran, besaran pajak, siapa yang boleh mengiklankannya, dan bentuk produk yang boleh beredar.

 

Oleh karena itu, perang melawan rokok juga merupakan perebutan masa depan nikotin. Bloomberg ada di satu sisi perang ini, sementara industri kretek ada di sisi lainnya. Indonesia dengan petani, buruh, pedagang, konsumen, industri, pemerintah, dan kebudayaannya berada di tengah medan pertempuran ini.

 

Ketika miliaran dolar masuk untuk mengubah kebijakan tembakau di Indonesia, siapa yang menentukan masa depan kretek dan untuk kepentingan siapa? Di sinilah peran antek antek asing yang mendapat dana dari Bloomberg menjadi pemain oportunis di tengah lapangan yang dapat mengacaukan medan pertempuran dan berbalik menyerang komoditas negaranya sendiri.

 

Arsip Visual Terbaru