Mereka Yang Merawat Tradisi Di Ladang Tembakau

Mereka Yang Merawat Tradisi Di Ladang Tembakau

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

27 Apr 2026

Tanaman tembakau yang tumbuh di Indonesia tidak hanya sekadar tanaman pertanian biasa lazimnya komoditas pertanian lain. Namun tembakau, tumbuh bersama ingatan, ritus, dan kepercayaan yang mengakar dalam kehidupan petani. Dari lereng Gunung Sumbing di Temanggung, di lereng Gunung Merbabu Boyolali, hingga hamparan lahan kering di Lombok, Madura, Jember, dan sentra sentra tembakau lainnya, tembakau adalah ruang spiritual, tempat manusia bernegosiasi dengan alam, nasib, dan kini dengan pemerintah.

Sejarah tembakau di Indonesia memang berangkat dari kolonialisme. Pada masa Hindia Belanda, tembakau diposisikan sebagai komoditas ekspor yang menjanjikan. Namun, seperti banyak tanaman asing lainnya, tembakau kemudian bergeser menjadi tanaman lokal yang menghidupi banyak orang. Ia menyerap nilai-nilai setempat, masuk ke dalam sistem kepercayaan, dan akhirnya melahirkan tradisi yang bertahan lintas generasi.

Di Temanggung, tradisi itu menemukan bentuknya dalam ritual wiwit mbako; baik wiwit mulai tanam maupun Wiwit saat panen. Wiwitan Mbako menjelang panen raya bukan sekadar seremoni pembuka panen, melainkan peristiwa sakral yang menandai pertemuan antara kerja manusia dan kehendak ilahi. Daun pertama dipetik oleh sesepuh, doa dipanjatkan, dan tumpeng disajikan di tengah ladang, merupakan sebuah simbol bahwa hasil bumi tidak pernah berdiri sendiri, melainkan hasil dari harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan tak kasatmata.

Ritual ini sering kali mengikuti perhitungan hari pasaran Jawa, hal ini menunjukkan bahwa pertanian tidak hanya tunduk pada musim, tetapi juga pada kosmologi. Bahkan sebelum tanam, ada doa-doa yang dipanjatkan. Mereka memohon agar tanah bersedia ditanami dan cuaca berpihak. Dalam konteks ini, tembakau adalah makhluk hidup yang diperlakukan dengan hormat, bukan sekadar objek produksi.

Di Lombok, praktik serupa hadir dalam bentuk yang lebih cair. Tradisi masyarakat Sasak tidak selalu memberi nama khusus pada setiap ritus, tetapi esensinya tetap sama, ada doa sebelum tanam, ada syukuran setelah panen, dan ada penghormatan terhadap leluhur yang diyakini menjaga keseimbangan alam.

Namun di balik ketenangan ladang dan ritus yang khusyuk, ada tekanan yang semakin nyata dari pemerintah, yaitu kebijakan cukai. Dalam beberapa tahun yang lalu, negara terus menaikkan tarif cukai rokok dengan dalih kesehatan dan pengendalian konsumsi. Narasi ini terdengar mulia, tetapi sering kali mengabaikan satu fakta penting, bahwa rantai panjang industri tembakau sebenarnya berhulu dari petani di lereng lereng gunung di Sumbing dan Sindoro, lereng Gunung Merbabu di Boyolali. Juga dari lahan kering di Madura, dan sentra pertanian tembakau lainnya baik di Jawa maupun pulau lainnya di Indonesia.

Kenaikan cukai tidak berdampak secara langsung pada petani, tetapi efeknya merembet. Ketika harga rokok ditekan oleh kebijakan fiskal, industri akan menyesuaikan diri. Pabrikan akan melakukan efisiensi, penekanan biaya produksi, hingga pengurangan pembelian bahan baku. Dalam posisi ini, petani menjadi pihak paling rentan. Harga tembakau bisa jatuh, serapan berkurang, dan ketidakpastian semakin besar.Tradisi Petik Tembakau Tungguk tembakau Boyolali


Di Temanggung, misalnya, kualitas tembakau yang sangat bergantung pada cuaca sudah menjadi perjudian tersendiri. Ketika hasil panen bagus, belum tentu harga mengikuti. Ketika harga jatuh akibat tekanan pasar dan kebijakan, ritual wiwit tetap dilakukan, tetapi maknanya perlahan berubah. Dari rasa syukur yang utuh, menjadi semacam harapan yang disertai kecemasan.

Di Lombok, situasinya bahkan lebih kompleks. Tembakau Virginia yang banyak dibudidayakan di sana terikat pada rantai industri besar. Standar kualitas ditentukan oleh perusahaan, sementara petani berada dalam posisi tawar yang terbatas. Ketika kebijakan cukai menekan industri, kontrak bisa berubah, kuota dipangkas, dan petani kembali menjadi pihak yang menanggung risiko.

Di sinilah paradoks itu muncul. Negara berbicara tentang pengendalian konsumsi, tetapi sering kali lupa bahwa di hulu ada jutaan orang yang hidup dari tembakau. Tradisi yang selama ini menjadi penopang identitas kultural petani, perlahan tergerus oleh logika ekonomi yang semakin keras.

Kadar Tar dan Nikotin

Lebih jauh lagi, kebijakan seperti pembatasan kadar Tar dan Nikotin pada rokok kretek juga membawa implikasi tersendiri. Standarisasi ini cenderung mengabaikan karakter khas tembakau lokal, yang sejak awal memang tidak seragam. Dalam jangka panjang, kebijakan semacam ini berpotensi mendorong homogenisasi, memaksa keragaman tembakau Nusantara masuk ke dalam satu kerangka industri yang seragam.Kadar tar dan Nikotin 76 Royal Apel


Padahal di ladang-ladang itu, tembakau tidak pernah seragam. Setiap daerah memiliki karakter, setiap musim membawa cerita, dan setiap petani memiliki cara sendiri untuk merawat tanamannya. Tradisi wiwit di Temanggung, selamatan di Lombok, hingga praktik serupa di Madura dan Jember, serta Tungguk Tembakau di Boyolali, adalah bukti bahwa tembakau adalah bagian dari kebudayaan, bukan sekadar komoditas.

Yang terjadi hari ini adalah benturan antara dua cara pandang. Di satu sisi, tembakau dilihat sebagai objek regulasi, angka dalam tabel cukai, parameter dalam kebijakan kesehatan. Sedangkan di sisi lain, tembakau adalah subjek kebudayaan, sesuatu yang hidup dalam tradisi, ritus, dan relasi sosial.

Di tengah benturan itu, petani tetap menanam. Mereka tetap menggelar ritual, memetik daun pertama dengan doa, dan berharap musim berpihak. Mungkin inilah bentuk perlawanan yang paling sunyi, tradisi tetap dipertahankan dalam diam. Karena bagi mereka, tradisi adalah ritus hidup yang menyalakan semangat untuk terus hidup dan menanam. Karena menanam adalah melawan.

Pada akhirnya, ladang tembakau adalah ruang di mana ekonomi, budaya, dan politik bertemu walaupun sering kali berada dalam ketegangan. Dan selama negara masih melihat tembakau semata sebagai objek fiskal, tanpa memahami dimensi kulturalnya, maka yang terancam bukan hanya penghidupan petani, tetapi juga tradisi yang telah hidup jauh sebelum kebijakan itu lahir.

 

 

Arsip Visual Terbaru