Mengenang Mbah Suyono, Penjaga Kisah Ki Ageng Makukuhan di Lereng Sumbing

Mengenang Mbah Suyono, Penjaga Kisah Ki Ageng Makukuhan di Lereng Sumbing

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

14 Oct 2026

Di Plabengan, lereng Gunung Sumbing, Temanggung, Mbah Suyono telah menghabiskan puluhan tahun hidupnya sebagai penjaga cerita. Dari kisah kisah yang diceritakannya, tersimpan legenda Ki Ageng Makukuhan, asal-usul tembakau, dan berbagai kepercayaan masyarakat di sekitar Gunung Sumbing yang diteruskan dari generasi ke generasi.

 

Kisah lisan atau folklor adalah bagian penting dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia. Cerita tersebut diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui tutur, beriringan dengan tradisi, dan tetap hidup dalam masyarakat. Seringkali, satu cerita memiliki beberapa versi. Namun bagi masyarakat yang mempercayainya, cerita ini menyimpan nilai-nilai yang lebih berharga daripada sekadar kebenaran sejarah.

 

Di lereng Gunung Sumbing, salah satu legenda yang masih sering diceritakan adalah tentang Ki Ageng Makukuhan. Beliau dipercaya sebagai penyebar agama Islam di kawasan itu dan dikenal memiliki kaitan erat dengan sejarah lisan industri tembakau setempat.

 

Terdapat berbagai cerita mengenai asal-usul Ki Ageng Makukuhan. Beberapa menyebutnya sebagai keturunan Tionghoa atau Arab, dan ada versi yang menganggapnya orang Jawa asli. Begitu pula dengan makamnya; ada yang meyakini beliau dimakamkan di Desa Kedu, Temanggung, sementara yang lain menunjuk Plabengan, Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

rejeban plabengan


 

Salah satu dari mereka yang menyimpan kisah tentang Ki Ageng Makukuhan adalah Mbah Suyono, penjaga cerita di Plabengan yang saya temui pada tahun 2019. Pertemuan tersebut kini menjadi kenangan yang membekas sangat dalam bagi saya. Meskipun Mbah Suyono telah meninggal dunia, kisah dan kesaksiannya tentang Plabengan tetap layak dikenang sebagai bagian dari warisan folklor di lereng Sumbing.

 

Tulisan ini adalah salah satu cara saya mengenangnya.

 

Rejeban Plabengan dan Tradisi Masyarakat Lereng Sumbing

 

Bagi masyarakat lereng Sumbing, kepercayaan terhadap Ki Ageng Makukuhan bukan sekadar legenda semata. Kepercayaan ini berkembang menjadi tradisi yang terus dipelihara, salah satunya melalui upacara adat Rejeban Plabengan di Dusun Cepit, Desa Pagergunung, Kecamatan Bulu, Temanggung.

 

Tradisi ini dilaksanakan setiap tahun pada bulan Rajab atau Rejeb, tepatnya hari Jumat. Rangkaian acara Rejeban Plabengan dimulai sehari sebelumnya dengan pengambilan air dari sumber mata air di lereng Sumbing. Di malam harinya, warga membawa obor menuju Plabengan untuk mengikuti tahlilan dan pembacaan salawat di makam yang diyakini sebagai makam Ki Ageng Makukuhan.

 

Pada Jumat pagi, warga berkumpul untuk mengantarkan tenong berisi ayam ingkung, lauk-pauk, dan pisang, sambil mengiringi sebuah tumpeng besar. Prosesi tersebut dipimpin oleh Mbah Kaum bersama Mbah Suyono sebagai Juru Kunci atau Kuncen.

 

Setelah semua makanan didoakan, warga menikmati makan bersama atau kembul bujana. Ada juga pentas kesenian tradisional seperti jaran kepang yang turut menyemarakkan suasana.

 

Rejeban Plabengan adalah ungkapan syukur sekaligus doa agar masyarakat mendapat rejeki, perlindungan, dan keberkahan. Dalam kebiasaan setempat, tradisi ini juga menandai dimulainya musim tanam tembakau.

 

Selain Rejeban Plabengan, masyarakat lereng Sumbing juga melaksanakan tradisi Among Tebal menjelang penanaman perdana tembakau. Di Desa Legoksari dan Wonosari, warga berkumpul membawa tumpeng, ayam ingkung, buah-buahan, serta jajanan pasar. Setelah didoakan, sajian itu dinikmati bersama sambil menikmati pertunjukan seni tradisional, jaran kepang.

 

Among Tebal mencerminkan harapan agar musim tanam berjalan lancar dan hasil panen menjadi berkah bagi warga. Dalam kehidupan masyarakat yang erat kaitannya dengan tembakau, tradisi-tradisi ini menunjukkan bahwa pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen. Ada doa, harapan, kebersamaan, dan penghormatan terhadap warisan leluhur dalam setiap langkahnya.

 

Legenda Ki Ageng Makukuhan dan Asal Usul tembakau

 

Cerita tentang Ki Ageng Makukuhan dan asal-usul tembakau adalah bagian dari tradisi lisan yang berkembang di sekitaran lereng Gunung Sumbing. Dalam legenda ini, Ki Ageng Makukuhan dikenal sebagai murid dari Sunan Kudus dan Sunan Kalijaga. Setelah menyelesaikan pendidikannya, ia berkelana menyebarkan agama Islam, mengobati orang sakit, dan mengajarkan kebaikan kepada masyarakat setempat.

tradisi rejeban plabengan di lereng sumbing temanggung


 

Selama pengembaraannya, Sunan Kudus memberikan benih tanaman kepadanya. Meskipun tidak mengetahui nama tanaman itu, Ki Ageng Makukuhan mendapat pesan sederhana untuk menanamnya di tempat yang ia anggap tepat. Ketika tiba di Desa Kemloko, dekat dengan Desa Legoksari, ia menanam benih tersebut. Tumbuhan itu kemudian tumbuh subur dengan daun-daun lebar dan hijau. Namun demikian, namanya tetap menjadi misteri bagi Ki Ageng Makukuhan.

 

Suatu hari, datanglah seorang warga dalam keadaan sakit. Ki Ageng Makukuhan memetik daun dari tanaman tersebut dan mengibaskannya kepada orang yang sakit sambil bergumam, "Iki tambaku," yang berarti "Ini obatku." Menurut cerita, orang yang dikibaskan daun tersebut, sembuh.

 

Gumaman Ki Ageng Makukuhan didengar oleh para santrinya, dan berita tentang tanaman yang dianggap mujarab itu dengan cepat tersebar dari mulut ke mulut. Seiring waktu, kata tambaku berubah menjadi tembaku, dan akhirnya dikenal sebagai tembakau.

 

Inilah legenda asal-usul tembakau yang hidup di kalangan masyarakat di lereng Sumbing. Kisah ini diyakini oleh sebagian penduduk Desa Legoksari, sebuah kawasan yang terkenal sebagai penghasil tembakau srintil berkualitas tinggi.

 

Tentunya, legenda ini harus dibedakan dari fakta sejarah botani dan perdagangan tembakau. Sejarah mencatat bahwa masuknya tembakau ke Nusantara terkait dengan kedatangan bangsa-bangsa Eropa pada masa kolonial. Sedangkan kisah Ki Ageng Makukuhan adalah bagian dari tradisi lisan lokal.

 

Sejarah dan folklor memang memiliki posisi yang berbeda. Sejarah berusaha mengungkap peristiwa masa lalu melalui sumber dan bukti konkret, sedangkan folklor merekam cara masyarakat memahami lingkungannya, leluhur, dan perjalanan hidupnya. Bagi masyarakat di lereng Sumbing, cerita Ki Ageng Makukuhan lebih dari sekadar asal-usul sebuah tanaman. Beliau adalah ikatan batin warga dengan bumi, pertanian, dan tradisi yang terus dijaga.

 

Bertemu dengan Mbah Suyono, Juru Kunci Sejak Tahun 1982

 

Pada Jumat, 22 Maret 2019, usai meliput acara Rejeban Plabengan. Pada momen inilah,  saya mendapat kesempatan mengunjungi Mbah Suyono di kediamannya yang berada di Dusun Cepit, Desa Pagergunung. Dalam kunjungan itu, saya didampingi oleh Giri Wijayanto, Fahmi Mamok Widayat, serta beberapa rekan fotografer dari Yogyakarta.

 

Di sore yang tenang itu, setelah beristirahat sejenak usai melaksanakan kegiatan pagi, kami pun menuju rumah Mbah Suyono. Ketika tiba, ia tengah duduk santai di ruang tamu. Ia mengenakan pakaian khas berupa sarung kotak kotak warna hijau, baju batik, dan mengenakan peci. Penampilannya bersih dan pembawaannya sangat tenang. Saat berdiri menyambut kedatangan kami, tubuh beliau tampak tinggi.

 

Mbah Suyono kala itu berusia 88 tahun dan telah mengemban tugas sebagai juru kunci Plabengan sejak tahun 1982.

Mbah Suyono kuncen Plabengan


 

Dalam percakapan kami, ia mengisahkan awal mula dirinya dipercaya menjadi juru kunci.

 

"Saya sendiri tidak tahu kenapa Wongso Rajiman menunjuk saya untuk menjadi kuncen," ujarnya dalam Bahasa Jawa sederhana.

 

Wongso Rajiman, tuturnya, adalah juru kunci sebelumnya. Pada awalnya, Mbah Suyono hanya diminta untuk membantu menerima para peziarah dari luar desa. Tanggung jawab itu tak hanya terkait dengan makam Ki Ageng Makukuhan, tetapi juga mencakup makam yang diyakini sebagai tempat peristirahatan para santri dari Ki Ageng Makukuhan, seperti Ki Ageng Tunggul Wulung, Ki Panidi Kuda Negara, dan Ki Ageng Gadung Melati.

 

Selama mendampingi Wongso Rajiman, Mbah Suyono menjalani berbagai laku spiritual. Dia berbagi cerita tentang dirinya yang pernah berpuasa ngebleng selama tiga hari tiga malam hingga tujuh hari tujuh malam di Plabengan. Meski menjalani beragam laku yang berat itu, dia mengaku tidak pernah merasa memiliki kesaktian atau kemampuan supranatural apa pun. Dirinya hanya menjalankan amanah dan perintah yang diberikan oleh Wongso Rajiman. Baru setelah beberapa waktu berlalu, dia perlahan memahami bahwa segala praktik tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang dirinya sebagai seorang penjaga tradisi.

 

Sore itu, kehangatan perbincangan kian bertambah saat Giri dan Mamok bergabung bersama kami di ruang tamu. Pembicaraan pun mengalir ke kisah tentang Ki Ageng Makukuhan serta perpindahan makamnya yang menarik perhatian.

 

Menurut penuturan Mbah Suyono, awalnya makam Ki Ageng Makukuhan terletak di Desa Kedu. Namun karena didorong ketidaksetujuan para santrinya terhadap lokasi tersebut, akhirnya makam itu dipindahkan ke Dusun Dukuh di Desa Wonosari. Tidak berhenti di situ, setelah beberapa waktu, lokasi makam kembali dipindahkan ke Plabengan. Dia mengaku tidak ingat pasti kapan tepatnya peristiwa tersebut terjadi ataupun apa alasan jelas di balik perpindahan itu. Namun dia mengingat bahwa saat kejadian tersebut berlangsung, dirinya masih duduk di kelas dua sekolah dasar pada masa pendudukan Jepang.

 

Bagi Mbah Suyono, kisah ini merupakan warisan yang diteruskan dari generasi ke generasi. Dia menyampaikannya sebagaimana yang dia tahu dan ingat tanpa menambahkan atau mengklaim mengetahui semua detail sejarahnya. Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa tradisi Rejeban Plabengan dilakukan setiap bulan Rajab pada hari Jumat. Pelaksanaan tradisi ini erat kaitannya dengan peristiwa perpindahan makam Ki Ageng Makukuhan ke Plabengan yang menjadi situs penting prosesi spiritual tersebut.

 

Plabengan sebagai Ruang Pertemuan dalam Folklor

 

Terletak di lereng Gunung Sumbing pada ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut, Plabengan memiliki makna khusus bagi warga Dusun Cepit. Tempat ini diyakini penuh aura mistis dan keramat. Berbagai cerita tentang kejadian yang tidak lazim berkembang di tengah kalangan masyarakat.

 

Menurut Mbah Suyono, Plabengan adalah lokasi musyawarah untuk wangsa Makukuhan. Dia menggambarkannya sebagai ruang pertemuan bagi makhluk dari alam gaib, tempat berkumpulnya tokoh-tokoh alam gaib yang dipercaya mempunyai kaitan erat dengan tradisi setempat, seperti Empu Supa dari Dieng dan Kyai Kendil Wesi dari Gunung Merapi, serta Ki Ageng Makukuhan.

tradisi rejeban plabengan di temanggung


 

Dalam cerita Mbah Suyono disebutkan bahwa mereka semua berkumpul setiap tahun pada hari Jumat pada bulan Rajab. Selama bertahun-tahun menjabat sebagai juru kunci, Mbah Suyono sering dimintai bantuan saat ada orang yang kerasukan di gunung dan juga acap kali didatangi oleh mereka yang berharap memperoleh kesembuhan.

 

Namun demikian, beliau selalu merendah saat menceritakan pengalamannya, dia merasa tidak memiliki ilmu khusus selain berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dia pernah bercerita tentang seorang lelaki dari Jakarta yang mengaku didatangi dalam mimpi oleh Ki Ageng Ronggolawe dari Tuban. Dalam mimpi itu, lelaki dari Jakarta tersebut disarankan untuk berziarah ke makam Ki Ageng Makukuhan di Plabengan.

 

Mbah Suyono mengatakan bahwa petunjuk untuk mengunjungi Plabengan dapat diterima oleh siapa saja, meskipun tidak semua pengunjung akan mendapatkan apa yang mereka cari. Petunjuk tersebut bisa datang dari mana saja dan diterima oleh siapa saja yang dianggap berjodoh.

 

Dia menekankan bahwa petunjuk hanyalah jalan menuju tempat tersebut. Apakah permohonan akan terkabul atau tidak, itu adalah urusan lain. Bagi orang luar, kisah-kisah ini bisa terasa aneh, namun bagi Mbah Suyono dan masyarakat setempat, cerita-cerita tersebut merupakan bagian dari pengalaman spiritual yang telah lama melekat dengan keberadaan Plabengan.

 

“Tungguo Sak Megaring Kembang”

 

Salah satu momen paling mengesankan dari pembicaraan saya dengan Mbah Suyono kala itu adalah saat ia mengungkapkan keinginannya untuk berhenti menjadi penjaga tempat yag dianggap suci tersebut. Setelah bertahun-tahun menjalani tugas sebagai juru kunci Plabengan, Mbah Suyono merasa usianya kian uzur. Tenaganya tak lagi seperti dulu, terlebih ketika harus menemani peziarah mendaki lereng gunung.

 

Berkali-kali, dia melakukan laku tirakat untuk mendapatkan izin berhenti. Dalam kepercayaannya, permohonan ini perlu disampaikan lewat jalur spiritual agar dia dapat berjumpa langsung dengan Ki Ageng Makukuhan. Meski tidak setiap kali menjalani puasa ngebleng dia merasa bisa bertemu, kadang pesan dari Ki Ageng Makukuhan diterimanya melalui orang lain.

 

Dalam satu kesempatan, Mbah Suyono akhirnya bertemu dan menyampaikan keinginannya. Namun, permohonan tersebut tidak dikabulkan. "Apakah kamu ingin desamu geger?" ujar Ki Ageng Makukuhan sebagaimana diceritakan oleh Mbah Suyono.

 

Ungkapan tersebut terasa menghujam hatinya.

 

Dia terdiam mendengar jawaban itu, namun karena merasa sudah terlalu tua untuk menjalankan tugas dan belum juga mendapat persetujuan untuk mengakhirinya. Beberapa tahun berselang, dia kembali menjalani tirakat dengan tujuan serupa. Kali ini, pertemuannya terjadi menjelang subuh.

 

"Waktu Titiyoni, Gandayoni, lan Puspatajem," sebutnya kepada saya saat menjelaskan momen-momen penting pada waktu malam saat melakukan laku spiritualnya. Menurut Mbah Suyono, kali ini Ki Ageng Makukuhan memberikan pesan singkat: "Tungguo sak megaring kembang."

 

Saya pun bertanya tentang maksud kalimat itu. "Tungguo sak megaring kembang, kuwi cepake limang dina, adohe maring sepuluh dina," jawabnya. Mbah Suyono menjelaskan bahwa dalam pemahamannya, hitungan tersebut bukan sekadar hari dalam kalender. Lima hari diartikan sebagai lima tahun, sedangkan sepuluh hari bisa berarti sepuluh tahun.

 

Dia menafsirkan pesan tersebut sebagai instruksi untuk bersabar menunggu. Artinya, menurut Ki Ageng Makukuhan, belum ada orang yang dianggap layak menggantikannya sebagai juru kunci Plabengan. Mbah Suyono memandang saya dengan tatapan teduh saat bercerita. Usianya sudah lanjut, namun dia masih mengingat detail percakapan itu yang menurutnya menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.

 

Kesan mendalam tertinggal dari kisah tersebut. Di satu sisi, dia merasa tak sanggup lagi menjalankan tugas yang berat ini. Di sisi lain, dia merasa tugas sebagai juru kunci bukanlah sesuatu yang bisa ditinggalkan begitu saja atas kemauan pribadi. Dalam keyakinannya, pengabdian ini harus terus berjalan sampai ada yang pantas menerima amanat tersebut.

 

Saya tidak bermaksud menilai benar atau tidaknya pengalaman spiritual yang diceritakan oleh Mbah Suyono. Yang terpatri dari pertemuan itu adalah kesungguhannya dalam memikul amanah yang dia yakini telah diembankan padanya, meskipun tubuhnya mulai melemah termakan usia.

 

Kuda Putih, Harimau, dan Cerita Warga Cepit

 

Sekitar pukul lima sore, saya berpamitan dari rumah Mbah Suyono. Sepanjang jalan di dusun, terlihat beberapa warga duduk berkumpul di teras rumah mereka. Ada yang mengenakan sarung, ada juga yang mengenakan sorjan dengan kain ikat kepala bercorak batik. Mereka berbincang santai sambil menikmati rokok lintingan tembakau kemloko dan juga yang menghisap batangan rokok kretek.

 

Saya menghampiri dan bergabung dalam obrolan yang hangat dan akrab. Dalam pertemuan itu, saya berkenalan dengan Pak Buari, Suratman, dan beberapa warga lainnya. Mereka memiliki keyakinan yang sama mengenai Plabengan sebagai tempat yang erat kaitannya dengan Ki Ageng Makukuhan dan para santri pengikutnya.

 

Pak Buari kemudian membagikan beberapa cerita yang berkembang di Dusun Cepit. Salah satunya mengenai seorang warga yang katanya pernah melihat seekor kuda putih berjalan di Plabengan pada malam hari. Anehnya, menurut Pak Buari, tak ada warga dusun yang memelihara kuda putih. Kuda tersebut diyakini adalah tunggangan Ki Ageng Makukuhan.

Ada juga cerita tentang penampakan harimau yang berjalan di sekitaran Plabengan.

sebat bareng dalam acara rejeban plabengan



 

Pak Buari juga menceritakan kisah seorang pemuda yang melakukan tirakat di Plabengan untuk meminta pusaka. Menurut cerita yang didengarnya, pemuda tersebut tiba-tiba terlempar hingga terguling ke tepian jurang namun selamat karena jurangnya tidak terlalu dalam. Kisah-kisah itu membuat warga percaya bahwa berziarah ke Plabengan tidak boleh dilakukan sembarangan.

 

Cerita lainnya berasal dari seorang perempuan dari Sukorejo, Kendal. Menurut Pak Buari, perempuan itu datang ke Dusun Cepit bersama seorang tukang ojek untuk mencari rumah Ki Ageng Makukuhan. Namun warga yang ditanyainya kebingungan karena mengenal Ki Ageng Makukuhan sebagai figur di makam Plabengan, bukan seseorang yang masih hidup.

 

Meski demikian, perempuan itu bersikeras bahwa telah didatangi oleh seorang lelaki tua yang mengaku sebagai Ki Ageng Makukuhan dan disuruh berkunjung ke Dusun Cepit. Pak Buari kemudian membawa perempuan tersebut ke rumah juru kunci, Mbah Suyono. Setibanya di sana, perempuan itu terkejut lantaran merasa mengenali sosok yang pernah menemuinya.

 

Menurut Pak Buari, perempuan tersebut adalah seorang pengusaha yang usahanya tengah merosot. Saat dalam kegundahan, ia mengaku didatangi lelaki tua yang memperkenalkan diri sebagai Ki Ageng Makukuhan. Lelaki tua yang mendatangi perempuan tersebut serupa dengan Mbah Suyono.

 

Bagi warga Cepit, pengalaman semacam ini telah menjadi bagian dari cerita tentang Plabengan. Ada pula kisah mengenai Ki Ageng Makukuhan yang dipercayai menyampaikan weweling atau pesan melalui orang-orang yang kesurupan. Tradisi kesenian di dusun Cepit juga dikaitkan dengan pesan tersebut. Kini, warga Dusun Cepit memiliki kelompok jathilan bernama Turangga Seta. Jathilan dan ketoprak diyakini sebagai kesenian favorit Ki Ageng Makukuhan.

 

Kisah-kisah lisan ini memang belum teruji kebenarannya, tetapi sebagai folklor, mereka menunjukkan bagaimana masyarakat membangun hubungan dengan tempat yang dianggap penting, menjaga memori kolektif, dan mewariskan cerita kepada generasi berikutnya.

 

Mengenang Mbah Suyono, Penjaga Kenangan Plabengan

 

Saat ini, Mbah Suyono telah tiada. Figur yang pernah saya temui pada 2019 itu kini tak bisa lagi memberikan kisah secara langsung. Namun, percakapan yang berlangsung dari siang hingga sore di rumahnya masih terpatri dalam ingatan saya, dilengkapi detail-detail kecil yang menjadikan pertemuan tersebut terasa begitu akrab.

 

Saya teringat dengan cara bertuturnya, keseriusannya dalam menjelaskan kisah yang dia yakini, serta kerendahan hatinya ketika berbagi pengalaman selama puluhan tahun menjadi juru kunci. Dia tidak menganggap dirinya sebagai orang sakti. Sebaliknya, dia berulang kali menegaskan bahwa dirinya semata hanya berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sikap tersebut menjadi salah satu hal yang paling melekat dari pertemuan saya dengannya.

 

Mbah Suyono mengabdikan diri dengan sepenuh hati di Plabengan. Dia melayani para peziarah, melestarikan tradisi, dan menjadi tempat bertanya bagi mereka yang ingin mengetahui cerita Ki Ageng Makukuhan. Melalui dirinya, saya mendengar cerita yang mungkin tidak semuanya tertulis dalam buku sejarah, tetapi hidup kuat dalam ingatan masyarakat.

 

Folklor memang tidak selalu memberikan jawaban yang dapat dibuktikan melalui dokumen. Namun kadang kala, folklor hadir dalam bentuk cerita yang diulang, kepercayaan yang diwariskan, atau ritual yang tetap dilakukan meskipun generasi pendirinya telah lama berlalu.

 

Di lereng Sumbing, kisah Ki Ageng Makukuhan tetap hidup melalui Rejeban Plabengan, Among Tebal, serta cerita-cerita yang tersebar dari satu rumah ke rumah lainnya. Tradisi ini menjadi bagian dari cara masyarakat memahami sejarah, pertanian, spiritualitas, dan hubungan dengan leluhur mereka.

 

Menghormati Mbah Suyono berarti juga menghormati peran para penjaga tradisi yang sering kali bekerja dalam kesunyian. Mereka bukan hanya menjaga tempat keramat, tetapi juga merawat cerita dan pengetahuan yang diwariskan secara lisan kepada generasi selanjutnya.

 

Meski tidak semua kisah yang pernah dituturkan Mbah Suyono akan sampai ke generasi berikutnya—sebagian mungkin berubah, sebagian lainnya mendapatkan versi baru— begitulah folklor tumbuh dan bergerak mengikuti zaman bersama masyarakat yang menjaganya.

 

Folklor, selama masih ada yang bersedia mendengarkan, mencatat, dan menuturkannya kembali, kisah-kisah itu tidak akan sepenuhnya hilang.

 

Dan bagi saya, tulisan ini adalah salah satu cara untuk mengenang Mbah Suyono: juru kunci Plabengan yang pernah membukakan pintu rumahnya dan membagikan sepotong kenangan tentang Ki Ageng Makukuhan serta kehidupan masyarakat di lereng Gunung Sumbing. Mbah Suyono memang telah tiada, namun kisah kisah yang pernah diceritakannya akan terus ada bersama warga yang kini menjaga dan melestarikannya.

 


Arsip Visual Terbaru