Mengenal Tembakau Lauk dari Lereng Gunung Sumbing dan Sindoro

Mengenal Tembakau Lauk dari Lereng Gunung Sumbing dan Sindoro

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

24 Aug 2026

Pagi belum sepenuhnya menyingsing di lereng Gunung Sumbing. Kabut masih melayang di antara ladang-ladang ketika tanaman tembakau mulai tampak dari kejauhan. Daun-daunnya yang lebar perlahan bergerak ditiup angin pegunungan.

 

Di tempat seperti inilah salah satu bagian penting dari sejarah kretek Indonesia dimulai, bukan di pabrik atau deretan mesin produksi, melainkan dari tanah, benih, tangan para petani, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Temanggung telah lama dikenal sebagai salah satu pusat tembakau terpenting di Indonesia. Kabupaten ini, yang terletak di antara Gunung Sumbing, Sindoro, dan Prau, memiliki lahan dengan variasi ketinggian mulai dari sekitar 500 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut.

 

Namun, Temanggung bukan sekadar penghasil tembakau dalam jumlah besar; keistimewaannya terletak pada karakter tembakaunya. Di kalangan petani dan industri kretek, sebagian tembakau Temanggung dikenal sebagai tembakau lauk.

 

Istilah itu mungkin terdengar sederhana, tetapi di situlah letak keunikannya.

 

Bukan Nasi, Namun Lauk

 

Coba Anda bayangkan sepiring nasi. Nasi adalah makanan pokok. Ia bisa dimakan tanpa lauk, tetapi rasanya tentu berbeda ketika ditambahkan sayur, sambal, ikan, ayam, atau lauk lainnya. Lauk memberikan rasa dan aroma yang membuat makanan lebih lezat. Begitu juga dengan kretek.

memilah tembakau usai panen


 

Sebatang kretek tidak hanya berisi satu jenis tembakau. Dalam satu racikan bisa digunakan beberapa jenis tembakau dengan karakter yang berbeda, ditambah cengkeh. Masing-masing memiliki peran. Ada tembakau yang menjadi bahan dasar, ada yang memperkuat aroma, ada yang memberi rasa tertentu. Dan ada tembakau yang berfungsi seperti lauk.

 

Ia mungkin tidak digunakan dalam jumlah banyak, tetapi keberadaannya memberikan karakter kuat pada keseluruhan racikan. Tembakau Temanggung dikenal memiliki kemampuan tersebut. Oleh karena itu, ketika membicarakan tembakau Temanggung, yang dibahas bukan hanya kuantitas produksi, tetapi lebih kepada kualitas dan karakter daun yang dihasilkan.

 

"Vuelta Abajo"-nya Indonesia

 

Posisi istimewa Temanggung dalam dunia pertembakauan pernah diibaratkan oleh Mark Hanusz sebagai Vuelta Abajo-nya Indonesia. Vuelta Abajo adalah kawasan di Kuba yang terkenal sebagai daerah penghasil tembakau terbaik dunia. Dalam tradisi cerutu Kuba, tembakau dari kawasan ini memiliki reputasi sangat tinggi karena karakternya.

 

Hanusz menggunakan perbandingan tersebut untuk menggambarkan posisi Temanggung dalam dunia kretek. Jika Vuelta Abajo merupakan salah satu kunci penting dalam cerutu Kuba, maka Temanggung menjadi daerah penting bagi karakter kretek Indonesia.

ladang tembakau di lereng berbatu gunung sumbing


 

Bukan berarti seluruh tembakau dalam sebatang kretek berasal dari Temanggung. Justru sebaliknya. Kekuatan tembakau Temanggung terletak pada kemampuannya menjadi bagian dari racikan. Ia seperti bumbu yang tidak selalu terlihat, tetapi terasa ketika racikan selesai.

Lereng Sumbing-Sindoro dan Kemloko

 

Di antara berbagai varietas yang berkembang di Temanggung, Kemloko menjadi salah satu yang paling dikenal. Kemloko adalah varietas lokal yang telah lama menjadi bagian penting dari pertanian tembakau Temanggung. Bentuk daunnya khas, dengan daun yang cenderung memanjang dan karakter yang cocok untuk ditanam di kawasan dataran tinggi.

 

Kemloko 2 dan Kemloko 3 adalah varietas yang banyak dibudidayakan petani. Dalam perkembangannya, pemerintah dan lembaga penelitian juga mengembangkan varietas lanjutan seperti Kemloko 4, 5, dan 6 untuk mendapatkan karakter agronomis lebih baik serta menghadapi persoalan penyakit tanaman.

 

Namun ada satu hal menarik; menanam Kemloko tidak otomatis berarti petani akan mendapatkan Srintil. Di sinilah alam memainkan peran penting bagi terbentuknya tembakau Srintil.

 

Ketika Kemloko Menjadi Srintil

 

Srintil merupakan salah satu cerita tersohor dari dunia tembakau Temanggung. Namun, tidak setiap tanaman Kemloko dapat menghasilkan Srintil. Faktor-faktor seperti kondisi tanah, ketinggian lokasi, kemiringan lahan, paparan sinar matahari, iklim, dan berbagai elemen lingkungan lainnya sangat mempengaruhi proses ini. Karena prosedurnya yang kompleks, Srintil menjadi sangat berharga. Daun-daunnya mengalami proses pengolahan dan pemeraman khusus yang menciptakan warna, aroma, dan rasa khasnya. Bagi sebagian warga Temanggung, Srintil sering dianggap sebagai emas hijau. Harga jualnya bisa jauh lebih tinggi dibandingkan tembakau biasa.

 Tembakau Srintil dalam proses fermentasi alami


Namun, harga ini selalu bergantung pada kualitas; tembakau dengan kualitas yang berbeda tentu memiliki nilai jual yang berbeda pula. Oleh karena itu, mendengar kisah tentang Srintil yang bisa mencapai ratusan ribu hingga satu juta rupiah per kilogram harus dipahami sebagai harga untuk kualitas tertentu, bukan keseluruhan tembakau Temanggung. Inilah keunikan sekaligus tantangan dari tembakau lauk. Para petani tidak hanya dituntut untuk menghasilkan daun; mereka harus mampu menghasilkan karakter.

 

Lincat, Penyakit Tembakau Musuh Petani

 

Di balik keindahan hamparan tembakau yang menyelimuti lereng gunung, para petani menghadapi tantangan yang tidak mudah. Salah satu tantangannya adalah penyakit yang dikenal sebagai lincat. Penyakit ini telah lama menjadi musuh bagi petani tembakau di Temanggung, menyebabkan tanaman tumbuh kerdil, merusak akar, dan akhirnya menghambat perkembangan tanaman.

 

Oleh karena itu, perjalanan tembakau di Temanggung juga merupakan perjalanan dalam mencari varietas yang lebih tahan terhadap serangan penyakit. Varietas Kemloko 4, 5, dan 6 menjadi bagian penting dari upaya ini. Pengembangan varietas baru membuktikan bahwa pertanian tembakau terus berkembang dan tidak sekadar bergantung pada tradisi semata. Pengetahuan yang dimiliki petani berkolaborasi dengan penelitian ilmiah, dan pengalaman lapangan berpadu dengan pemuliaan tanaman. Semua ini dilakukan agar tembakau tetap bisa ditanam sekaligus menjaga kualitasnya.

 

Musim Yang Dinanti

 

Setiap tahunnya, saat musim tembakau tiba, penampakan lereng-lereng Sumbing dan Sindoro selalu berubah. Lahan yang sebelumnya kosong mulai diisi dengan tanaman. Bibit-bibit tembakau ditanam di kebun, dirawat oleh para petani yang membersihkannya dari gulma dan menunggu hingga daunnya berkembang.

 

Di beberapa tempat, musim tanam kerap dimulai dengan tradisi wiwit. Pada April 2026 misalnya, masyarakat Desa Wonosari di Kecamatan Bulu melaksanakan tradisi wiwit untuk memulai tanam tembakau di lereng Gunung Sumbing. Bibit Kemloko dan tumpeng Sego Gono menjadi bagian dari prosesi tersebut, sebagai ungkapan syukur dan doa agar musim tanam berjalan lancar. Tradisi ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Temanggung, tembakau bukan sekadar persoalan ekonomi; ada hubungan kultural yang mendalam antara manusia, tanah, musim, dan tanaman.

 

Namun, para petani dihadapkan pada kenyataan bahwa ketersediaan air harus terjaga, cuaca harus bersahabat, serta serangan hama dan penyakit harus bisa dikendalikan. Setelah masa panen pun masih ada pertanyaan besar: berapa harga jual yang akan mereka terima?

 

Peran Krusial Air dan Cuaca

 

Musim tanam tahun 2026 memperlihatkan masih besarnya ketergantungan terhadap kondisi alam. Di sejumlah wilayah, penanaman dapat dimulai karena kondisi air yang mencukupi, namun di area lain, khususnya beberapa lahan di kawasan selatan Sumbing, petani harus menunggu waktu yang lebih tepat.

 

Tembakau memang memerlukan kondisi tertentu untuk tumbuh optimal, tetapi kelebihan air bukanlah kabar baik, begitu pula dengan cuaca yang tak menentu. Perubahan pola hujan bisa mempengaruhi jadwal tanam, pertumbuhan tanaman, hingga kualitas daun. Bertani tembakau sejatinya adalah usaha untuk memahami dan membaca alam; mengetahui kapan tanah siap diolah, kapan bibit ditanam, kapan daun harus dipetik, dan kapan hasil panen dikeringkan. Sedikit kesalahan perhitungan saja dapat mengubah kualitas hasil panen—dan kualitas berarti harga.

 

Temanggung yang Terus Berubah

 

Data dari Pemerintah Kabupaten Temanggung menunjukkan bahwa luas lahan tanam tembakau pada musim tanam 2026 mencapai sekitar 13.391 hektar. Dari jumlah tersebut, sekitar 8.925,7 hektar adalah tembakau tegal, sementara 4.465,3 hektar adalah tembakau sawah. Ini menegaskan bahwa tembakau tetap menjadi bagian penting dari pertanian di Temanggung, meskipun luas areal tanamnya mengalami perubahan dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Pada 2021, luas lahan tembakau mencapai sekitar 18.600 hektar, menandakan adanya penyusutan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Banyak faktor yang menyebabkan perubahan ini, seperti alih fungsi lahan, biaya produksi, kondisi iklim, tata niaga, dan isu harga yang harus dihadapi para petani.

 

Namun, tembakau belum sepenuhnya meninggalkan Temanggung. Tembakau masih tumbuh subur di lereng Sumbing dan Sindoro, dipelihara dengan penuh perhatian oleh para petani. Setiap musim panen, daun-daun ini kembali meramaikan pasar.

 

“Temanggungan” dari Luar Temanggung

 

Ketenaran tembakau Temanggung kemudian melahirkan istilah “Temanggungan,” merujuk pada tembakau yang ditanam di luar Temanggung namun menggunakan varietas lokal Temanggung. Fenomena ini mencerminkan reputasi kuat dari tembakau tersebut. Ketika satu varietas memiliki karakter baik dan pasar yang menjanjikan, para petani di wilayah lain akan tertarik untuk membudidayakannya. Namun, ini juga menekankan pentingnya identitas geografis. Tembakau Kemloko yang ditanam di luar Temanggung tidak otomatis memiliki karakter yang sama dengan yang tumbuh di lereng Sumbing atau Sindoro karena perbedaan tanah, ketinggian, cuaca, dan paparan matahari yang dapat memengaruhi karakter daun.

 

Menjaga Rasa, Menjaga Penghidupan

 

Pada akhirnya, kisah tembakau adalah tentang menjaga cita rasa dan penghidupan. Industri memerlukan tembakau dengan karakter spesifik, petani membutuhkan harga yang layak, dan konsumen mencari produk berkualitas. Temanggung membutuhkan pertanian yang dapat terus menopang kehidupan masyarakatnya. Pada 2026, pemerintah daerah masih mendorong para petani untuk mempertahankan kualitas dan identitas tembakau Temanggung. Petani juga diingatkan untuk tidak mencampur tembakau asli Temanggung dengan yang berasal dari daerah lain agar kekuatan utama komoditas tersebut, yakni kualitas dan karakter, tetap terjaga.

Menjemur Tembakau Srintil


 

Hal ini penting karena kehilangan kualitas berarti kehilangan identitas, dan tanpa identitas, Temanggung hanya menjadi salah satu produsen tembakau biasa. Selama puluhan tahun, masyarakat di lereng Sumbing dan Sindoro telah membangun reputasi unik. Mereka tidak hanya memproduksi tembakau tetapi juga menghadirkan cita rasa berbeda, cita rasa yang mungkin hanya sedikit tampak dalam sebatang kretek namun membuat perbedaan, layaknya lauk dalam sepiring nasi. Tak perlu banyak memenuhi piring, tapi kehadirannya penting untuk melengkapi.

 

Dari ladang-ladang di lereng Sumbing dan Sindoro, daun-daun itu tumbuh dalam keheningan. Dikelola oleh para petani, dijemur di bawah matahari, dan dipilih berdasarkan kualitasnya sebelum diteruskan ke industri. Setelah seluruh proses itu selesai, meskipun mungkin hanya menjadi bagian kecil dari sebatang kretek, ia membawa cerita panjang tentang tanah, gunung, musim, petani, tradisi, dan sebuah daerah yang telah lama dikenal sebagai salah satu sumber cita rasa khas kretek Indonesia.

 

Arsip Visual Terbaru