Mengapa Kretek Menjadi Bagian Penting dari Indonesia? (II): Jejak Ekonomi yang Menghidupi Negeri

Mengapa Kretek Menjadi Bagian Penting dari Indonesia? (II): Jejak Ekonomi yang Menghidupi Negeri

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

06 Aug 2026

Setelah sebelumnya membahas peran kretek dalam sejarah dan identitas bangsa, kini saatnya melihat bagaimana industri ini menjadi salah satu pilar ekonomi Indonesia. Selama lebih dari seratus tahun, kretek telah melampaui perubahan zaman, membentuk jejaring ekonomi yang melibatkan petani, pekerja, pengusaha, hingga pemerintah.

 

Walaupun industri hasil tembakau selalu dikelilingi perdebatan, kretek tetap menjadi bagian integral dari perkembangan sosial dan ekonomi Indonesia.

Industri yang Berkali-kali Bertahan dari Krisis

 

Sejarah mencatat bahwa industri kretek mampu melewati berbagai masa sulit. Dari era kolonial, perang kemerdekaan, hingga krisis ekonomi dan perubahan kebijakan di zaman modern, sektor ini terus bertahan meskipun pasang surut terjadi. Ketahanan tersebut tidak semata tergantung pada besarnya permintaan, tetapi karena kretek membangun ekosistem ekonomi yang luas. Dari kebun tembakau dan cengkeh hingga pabrik dan distribusi, jutaan orang bergantung pada sektor ini.

 

Karena itu, kretek sering dianggap sebagai penopang ekonomi nasional, khususnya di daerah-daerah yang mengandalkan tembakau dan cengkeh sebagai komoditas utama.

 

Menjaga Nafas Petani Tembakau dan Cengkeh

 

Keberhasilan kretek tidak lepas dari dua tanaman utama: tembakau dan cengkeh. Kombinasi ini memberikan karakter unik yang membedakan kretek dari rokok putih. Kelanjutan industri kretek memiliki dampak langsung pada kehidupan petani di berbagai wilayah. Sentra tembakau tersebar di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Nusa Tenggara. Cengkeh menjadi komoditas penting di Maluku, Sulawesi, dan beberapa wilayah Indonesia timur lainnya.

ladang tembakau di lereng berbatu gunung sumbing


 

Sebagian besar hasil panen kedua komoditas tersebut diserap oleh industri kretek. Hubungan saling ketergantungan ini menjadikan kretek lebih dari sekadar produk manufaktur, tetapi juga jembatan antara sektor pertanian dan industri.

 

Dalam sejarahnya, kretek juga berakar dari tradisi pengobatan. Banyak catatan menyebutkan Haji Djamhari mencampurkan tembakau dan cengkeh untuk mengatasi bengek yang dideritanya. Meskipun ilmu kedokteran modern telah berkembang pesat, kisah ini tetap menjadi bagian penting dalam sejarah kretek di Indonesia.

 

Komunitas perkretekan menghargai tembakau Nusantara sebagai salah satu kekayaan hayati Indonesia. Beragam varietas tembakau dan cengkeh yang tumbuh di berbagai daerah menciptakan cita rasa kretek khas yang sulit ditemukan di negara lain.

 

Kudus dan Maluku yang Terhubung oleh Kretek

 

Kaitan antara industri kretek dan petani cengkeh terlihat dalam kehidupan masyarakat Pulau Haruku, Maluku. Clifford Kissya, tokoh masyarakat Haruku, mengisahkan bagaimana industri kretek meningkatkan nilai ekonomi cengkeh. Bagi banyak keluarga di Haruku, panen cengkeh menjadi sumber penghasilan utama.

 menjemur cengkeh saat panen raya di maluku


Hasil panen digunakan untuk membangun rumah, membiayai pendidikan anak, mendukung kegiatan keagamaan, dan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Saat musim panen tiba, banyak perantau kembali ke kampung halaman untuk memetik cengkeh bersama keluarga.

 

Cerita ini menggambarkan bahwa kretek bukan hanya menjadi warisan Kudus sebagai tempat kelahirannya, tetapi juga bagian dari kehidupan masyarakat di daerah-daerah penghasil bahan bakunya.

 

Pilar Penting bagi Penerimaan Negara

 

Industri hasil tembakau tidak hanya berperan dalam menggerakkan ekonomi rakyat, tetapi juga menjadi kontributor utama bagi pendapatan negara melalui cukai, pajak pertambahan nilai, dan berbagai jenis pungutan lainnya. Sebagian dari penerimaan cukai ini kemudian disalurkan kembali ke pemerintah daerah melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Dana ini digunakan untuk beragam program, mulai dari layanan kesehatan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penegakan hukum terhadap rokok ilegal, hingga pemberdayaan masyarakat dan peningkatan kesejahteraan petani.

 

Dengan demikian, manfaat ekonomi dari industri kretek tidak berhenti pada proses produksinya saja, tetapi juga disalurkan kembali ke masyarakat melalui berbagai program pembangunan.

 

Menghidupkan Kota-Kota Kretek

 

Jejak industri kretek begitu jelas terlihat di kota-kota di mana pabrik-pabrik besar berdiri. Kota Kudus bisa menjadi contoh yang paling nyata. Meski wilayahnya tergolong kecil, kota ini berkembang menjadi salah satu pusat ekonomi di Pantai Utara Jawa. Aktivitas perdagangan, jasa, pendidikan, hingga kuliner tumbuh seiring berkembangnya industri kretek selama bertahun-tahun.

pekerja pabrik rokok djaurm kudus melakukan peregangan


 

Fenomena serupa juga tampak di daerah lain seperti Kediri, Temanggung, dan sejumlah kota lainnya yang memiliki keterkaitan erat dengan industri tembakau. Kehadiran pabrik-pabrik kretek menciptakan lapangan kerja sekaligus mendorong berkembangnya berbagai usaha pendukung.

 

Melihat Kretek Secara Menyeluruh

 

Perdebatan mengenai kretek mungkin akan terus berlanjut. Namun, melihat kretek dari satu sisi saja tidak memberikan gambaran yang utuh. Kretek adalah bagian dari sejarah Indonesia, hasil kreativitas masyarakat Nusantara yang telah berkembang menjadi industri padat karya dengan rantai ekonomi yang panjang. Dalam industri ini terlibat petani tembakau, petani cengkeh, buruh linting, pelaku UMKM, pedagang, dan pemerintah daerah yang mendapat manfaat dari aktivitas ekonomi ini.

 

Oleh karena itu, setiap diskusi mengenai masa depan industri kretek sebaiknya mempertimbangkan semua aspek tersebut. Bagi banyak daerah di Indonesia, kretek bukan hanya sekadar sebatang rokok, tetapi juga menyangkut sejarah, penghidupan, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat.

 


Arsip Visual Terbaru