Mengapa Kretek Menjadi Bagian Penting dari Indonesia?

Mengapa Kretek Menjadi Bagian Penting dari Indonesia?

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

06 Aug 2026

Kretek merupakan salah satu produk rokok asli Indonesia dengan nilai strategis, baik dari segi budaya maupun ekonomi. Sejak pertama kali muncul di Kudus pada akhir abad ke-19, kretek telah menjadi lebih dari sekadar komoditas perdagangan; itu adalah hasil kreativitas lokal yang berkembang hingga menjadi bagian dari identitas nasional.

 

Perjalanan keberadaan kretek hingga saat ini tentu tidak selalu mulus. Berbagai tantangan, baik dari dalam negeri maupun tekanan global yang mendorong pembatasan industri tembakau, kerap menguji keberadaannya. Namun, kontribusi kretek untuk Indonesia tetap signifikan dan tidak bisa diabaikan.

Bungkus Rokok Indonesia

 

Sebagai pembeda dari tradisi merokok yang diperkenalkan oleh bangsa Eropa, kretek menggabungkan tembakau dengan cengkeh, dua komoditas yang tumbuh subur di Nusantara. Kombinasi ini menghasilkan aroma dan cita rasa unik yang dikenal dunia.

 

Lebih dari sekadar produk konsumsi, kretek juga menjadi bagian dari kebudayaan Indonesia, diterima di berbagai lapisan masyarakat, dari rakyat jelata hingga kaum elite. Dalam konteks sejarahnya, kretek dianggap sebagai simbol industri pribumi yang berdiri sejajar dengan produk kolonial.

 

Kretek awalnya tidak muncul sebagai produk hiburan, tetapi sebagai upaya pengobatan. Tokoh yang dikenal sebagai penemunya, Haji Djamhari dari Kudus, mencari cara untuk meredakan penyakit bengek yang dideritanya. Setelah merasakan manfaat minyak cengkeh dioleskan pada dadanya, ia memutuskan untuk mencampurkan potongan cengkeh ke dalam lintingan tembakau.

 

Percobaan ini diyakini membantu pernapasannya, dan kabarnya menyebar dari mulut ke mulut. Lintingan tembakau bercengkeh kemudian mulai diminati orang-orang dengan keluhan serupa, menandai awal sejarah panjang kretek sebelum berkembang menjadi industri besar.

 

Sebuah tonggak penting muncul ketika Nitisemito mengembangkan kretek menjadi sebuah industri modern pada awal abad ke-20. Dari Kudus, industri kretek terus berkembang, melahirkan banyak perusahaan besar yang menjadi bagian dari sejarah ekonomi Indonesia.

 

Di Surabaya berdiri Dji Sam Soe yang didirikan oleh Liem Seng Tee. Kudus melahirkan Nojorono, Sukun, Jambu Bol, hingga Djarum. Di Kediri, Gudang Garam tumbuh menjadi salah satu produsen kretek terbesar. Perusahaan-perusahaan ini tidak hanya berfokus pada bisnis; mereka juga membentuk ekosistem ekonomi yang melibatkan petani tembakau dan cengkeh, buruh linting, pengemudi angkutan, percetakan, industri kemasan, hingga jaringan perdagangan.

remoah dan djarum coklat extra


 

Inilah mengapa industri kretek dikenal sebagai industri padat karya. Jutaan orang menggantungkan hidup mereka pada rantai produksi yang panjang ini, dari hulu hingga hilir.

 

Kekuatan utama industri kretek adalah kemampuannya menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang pendidikan. Banyak pekerja berasal dari desa-desa, utamanya perempuan, yang mendapatkan penghasilan tetap dari pabrik rokok.

Bagi sebagian keluarga, pekerjaan di industri ini menjadi cara untuk meningkatkan taraf hidup. Banyak dari anak-anak buruh pabrik kretek yang dapat melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi berkat penghasilan orang tua mereka. Di kota-kota kecil seperti Kudus, Kediri, atau Temanggung, industri kretek bahkan menjadi penggerak utama ekonomi lokal.

 

Maka dari itu, ketika membahas kretek, pembicaraan tidak boleh hanya berhenti pada konsumsi. Ada jutaan pekerja, petani, pedagang, pelaku UMKM, dan pemerintah daerah yang merasakan dampak ekonomi dari keberadaan industri ini.

 

Pertanyaan yang layak diajukan adalah apakah kebijakan pengendalian tembakau telah memperhitungkan semua mata rantai tersebut? Apakah perlindungan kesehatan masyarakat sudah dilengkapi dengan strategi nyata untuk menjaga keberlangsungan hidup jutaan orang yang bekerja di sektor ini?

 

Pertanyaan-pertanyaan ini penting bukan untuk menolak upaya meningkatkan kesehatan publik, namun agar setiap kebijakan disusun dengan proporsionalitas. Karena kesehatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi rakyat seharusnya tidak dipertentangkan, melainkan dicari titik temu yang adil.

 

Bagaimanapun juga, kretek telah menjadi bagian dari perjalanan Indonesia selama lebih dari satu abad. Ini bukan hanya produk industri saja, tetapi juga cerita tentang kreativitas, sejarah, budaya, dan penghidupan bagi jutaan keluarga. Oleh karena itu, masa depan kretek harus dibicarakan secara menyeluruh, dengan mempertimbangkan seluruh dimensi yang ada, bukan hanya dari satu sudut pandang saja.

 

Arsip Visual Terbaru