Membela Mereka yang Tua, Renta, dan Tetap Menyalakan Rokok

Membela Mereka yang Tua, Renta, dan Tetap Menyalakan Rokok

I

Penulis

Ibil S Widodo

Terbit

13 Apr 2026

Di sebuah pagi yang tidak tergesa, seorang lelaki tua duduk di kursi plastik yang mulai retak di sudutnya. Tangannya gemetar halus, bukan karena dingin, tapi karena usia yang memang tak bisa ditawar. Di sela dua jari yang menua itu, sebatang rokok menyala. Ia menghisap pelan, seperti sedang mengingat sesuatu yang jauh.


Di zaman ketika kesehatan diukur dengan grafik, angka harapan hidup, dan kampanye besar-besaran, orang seperti dia sering dianggap anomali. Bahkan kadang dijadikan bahan sindiran: “Itu cuma kebetulan.” Seolah hidup panjang yang ia jalani tidak cukup sah untuk diakui sebagai pengalaman.


Padahal, hidup tidak selalu tunduk pada statistik.


Kita hidup di era di mana kebenaran sering disederhanakan. Merokok buruk. Titik. Tidak ada ruang untuk cerita lain. Tidak ada tempat untuk pengalaman yang berbeda. Semua harus seragam, semua harus patuh pada satu narasi besar.

Mbah Dartosari Merokok Sampai Tua



Tapi di warung kopi, di teras rumah, di ladang-ladang, kita menemukan kenyataan yang lebih cair.

Ada mereka yang merokok sejak muda—menggulung hari dengan tembakau dan kopi—dan tetap bertahan hingga usia yang oleh banyak orang disebut “bonus”. Mereka bukan tokoh iklan. Bukan pula bagian dari kampanye apa pun. Mereka hanya manusia yang menjalani hidup dengan caranya sendiri.


Apakah ini berarti merokok aman? Tentu tidak sesederhana itu.


Namun apakah ini berarti pengalaman mereka tidak valid? Juga tidak.


Masalahnya bukan pada benar atau salah semata, tapi pada cara kita memandang manusia.

Sering kali, mereka yang tua dan tetap merokok diperlakukan seperti contoh buruk yang harus dihindari. Kisah mereka dipotong hanya sampai pada satu hal: rokok di tangan mereka. Selebihnya diabaikan. Padahal hidup mereka jauh lebih kompleks.

Mbah Sopawiro saat difoto Usianya 83 Tahun. Meninggal Dunia usia 105 tahun.



Mereka bangun pagi. Bergerak. Bekerja. Menjalani hidup tanpa terlalu banyak kecemasan yang hari ini justru menjadi penyakit baru: stres, tekanan, overthinking. Mereka makan secukupnya, hidup dalam ritme yang tidak tergesa, dan mungkin—tanpa sadar—menjaga keseimbangan yang sulit dijelaskan oleh teori modern.


Rokok, bagi mereka, bukan sekadar zat. Ia adalah bagian dari ritme itu. Teman diam di sela waktu. Pengisi jeda. Sesuatu yang tidak selalu bisa diterjemahkan hanya sebagai “kebiasaan buruk”.

Membela mereka bukan berarti menolak sains. Bukan pula mengajak orang untuk merokok. Tapi ini tentang memberi ruang pada kenyataan bahwa hidup manusia tidak pernah sepenuhnya bisa dirumuskan.


Bahwa ada faktor lain: genetik, lingkungan, pola hidup, bahkan keberuntungan.


Dan bahwa kadang, kita terlalu cepat menghakimi tanpa benar-benar memahami.

Ada semacam ketidakadilan ketika seseorang yang telah melewati puluhan tahun kehidupan—dengan segala kerja keras, jatuh bangun, dan kesederhanaannya—direduksi hanya menjadi satu kebiasaan. Seolah seluruh hidupnya kalah oleh satu batang rokok.

Abdi Dalem Kraton Yogyakarta


Padahal, mungkin justru karena ia menjalani hidup dengan caranya sendiri, ia bisa sampai sejauh itu.


Menjelang sore, lelaki tua itu mematikan rokoknya. Ia berdiri perlahan, berjalan masuk ke rumah, dan hari pun bergeser seperti biasa.


Kita mungkin tidak akan pernah sepenuhnya mengerti kenapa ia bisa hidup sepanjang itu. Tapi mungkin, kita juga tidak perlu selalu mengerti.


Kadang, yang dibutuhkan hanya sedikit kerendahan hati: bahwa dunia ini lebih luas dari apa yang bisa dijelaskan oleh satu sudut pandang.


Dan bahwa di antara semua grafik dan kampanye, ada manusia-manusia yang diam-diam membuktikan satu hal sederhana—bahwa hidup, pada akhirnya, adalah tentang bagaimana ia dijalani. Bukan hanya tentang apa yang dihindari.

Arsip Visual Terbaru