Melbi, Ugo, dan Rokok Kretek di Panggung Fesmo 2026

Melbi, Ugo, dan Rokok Kretek di Panggung Fesmo 2026

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

31 Aug 2026

Menonton Melbi sering kali bagaikan menyaksikan pertunjukan teater dengan musik sebagai salah satu elemen bahasanya. Di atas panggung, Ugo tidak hanya berdiri di depan mikrofon. Dia bergerak, berbicara, mengamati, kadang menyindir atau membiarkan musik berbicara sendiri. Ada satu kebiasaan khas yang melekat padanya saat tampil: rokok.


Bagi penonton setia Melbi, melihat Ugo menyalakan rokok di panggung sudah menjadi hal yang biasa. Oleh karena itu, ketika dia kembali tampil dengan rokok di tangan pada panggung Melbi di Festival Mojok 2026, ini bukanlah hal yang baru. Karena rokok sudah menjadi bagian dari bahasa tubuh Ugo saat manggung bersama Melancholic Bitch.

 ugo dan rokok di atas pangung fesmo 2026


 

MELBI


Ada band yang harus berusaha keras agar tetap diingat, namun ada juga yang justru semakin menarik karena lama tak muncul. Saya kepikiran menuliskan ini untuk kretekimages.com saat hadir di Festival Mojok pada Jumat, 28/8/2026, malam.

 

Melancholic Bitch, atau kini dikenal sebagai Majelis Lidah Berduri, menjadi penampil terakhir malam itu di Fesmo. Para penggemarnya lebih akrab menyebut mereka sebagai Melbi. Dan untuk selanjutnya dalam tulisan ini saya pun akan menyebutnya sebagai Melbi.

 

Melbi mulai muncul kembali pada Agustus 2026 seolah keluar dari persembunyian. Usai tampil dalam rangkaian Upacara Rakyat Timbulsloko di pesisir Demak pada 16 Agustus, mereka lanjut ke Cherrypop 2026 pada 22 Agustus 2026 di Candi Prambanan. Enam hari berselang, 28 Agustus, Melbi kembali mengisi panggung di Balcos Compound, Sleman, dalam Festival Mojok 2026. Tiga penampilan dalam waktu kurang dari dua pekan. Dahsyat!

 

Bagi band biasa, mungkin ini bukan hal yang luar biasa. Namun bagi Melbi, ini cukup aneh. Selama lebih dari dua dekade terakhir, mereka dikenal bukan karena sering tampil di atas panggung, melainkan sering menghilang karena entah. Tak heran jika Melbi pernah disebut sebagai band "goib," istilah yang paling tepat untuk menggambarkan cara kerja mereka. Melbi memang tak pernah menjadi “band biasa”.

 

Melancholic Bitch dibentuk pada 1999 oleh Ugoran Prasad dan Yossy Herman Susilo. Awalnya, proyek ini dinamai On Genealogy of Melancholia sebelum berganti menjadi Melancholic Bitch. Nama yang terdengar seperti lelucon namun akhirnya menjadi identitas khas dari ekosistem seni di Yogyakarta.

 

Dalam perjalanannya, ternyata Melbi tak berkembang layaknya band rock pada umumnya. Anggotanya sering kali berganti; musisi datang dan pergi. Beberapa mengerjakan proyek lain atau sibuk dengan seni lainnya seperti teater, sastra, musik film, maupun penelitian. Bahkan mereka sendiri tidak nyaman disebut sebagai band.

majelis lidah berduri di atas panggung fesmo 2026


 

Dalam surat yang ditulis Ugo pada 10 November 2022, saat mereka mengumumkan perubahan nama menjadi Majelis Lidah Berduri, sejarah tersebut diuraikan dengan jelas. Proyek yang awalnya dikerjakan dua orang telah tumbuh menjadi kelompok besar yang terus berubah. Maka, Majelis Lidah Berduri lebih tepat dilihat sebagai wadah kerja kreatif, bukan sekadar band. Musik memang salah satu bagiannya, tetapi tubuh itu punya berbagai cabang; teater, sastra, puisi, seni pertunjukan, bunyi, visual, hingga diskusi sosial.

 

Itulah kenapa Melbi bisa menghilang tanpa benar-benar mati, mereka hanya sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

 

Band "goib" yang dirindukan

 

Ada ironi menarik ketika membicarakan sejarah Melbi. Semakin jarang mereka tampil, semakin besar rasa penasaran penggemar terhadap kehadiran mereka. Pada band lain, jeda yang panjang bisa berarti kehilangan basis penggemar. Namun, bagi Melbi, jeda ini justru menjadi bagian dari mitologi mereka. Tak ada yang benar-benar tahu kapan mereka akan kembali tampil, hingga suatu saat, muncul pengumuman pertunjukan mendadak. Ugo berada di panggung, suara gitar mengalun, dan synthesizer mengiringi. Suara Ugo yang berat memenuhi ruangan. Melbi pun kembali hidup. Ya, hidup seperti dulu mereka semula ada. Lalu setelah pertunjukan berakhir, mereka kembali menghilang lagi ke dalam kehidupan masing-masing.

 

Istilah "band goib" bukan sekadar lelucon. Sebutan ini lahir dari pengalaman penonton yang tak pernah bisa memprediksi kapan mereka akan tampil lagi. Cherrypop bahkan sejak awal dikenal dengan cirinya mengundang band-band yang jarang tampil sebagai salah satu daya tarik festivalnya. Pada pelaksanaan pertamanya tahun 2022, Melancholic Bitch termasuk salah satu nama "mitos" yang dipromosikan sebagai daya tarik utama. Kini, empat tahun kemudian, Majelis Lidah Berduri tetap mempertahankan karakter tersebut. Mereka tampil bukan karena kewajiban, melainkan ketika ada alasan kuat untuk itu.

penonton fesmo 2026 beratar panggung melbi


 

Alasan kuat itu pula yang membuat Melancholic Bitch mengganti namanya menjadi Majelis Lidah Berduri. Pergantian ini terjadi pada tahun 2022. Pada 10 November 2022, Melancholic Bitch tampil untuk terakhir kalinya dengan nama tersebut di Makassar. Sehari kemudian, nama Majelis Lidah Berduri mulai digunakan. Perubahan ini bukanlah untuk menghilangkan nama lama, melainkan merawat sejarah mereka. Dalam surat yang ditulis Ugo, peralihan ini dijelaskan sebagai proses "pindah," bukan bubar. Nama Melancholic Bitch tetap menjadi bagian dari sejarah mereka. Album-album lama masih membawa nama itu. Karenanya, sampai kini orang tetap menyebut mereka sebagai Melbi. Nama tersebut telah menjadi milik bersama antara band dan penggemarnya.


Majelis Lidah Berduri hanyalah wadah baru mereka, sedangkan Melbi adalah nama yang hidup dalam ingatan publik, dan Melancholic Bitch adalah bagian dari sejarah mereka, tiga nama dalam satu entitas kreatif.

ugo dipanggung fesmo 2026


 

Di tengah perubahan kolektif yang terus terjadi, ada satu figur yang mudah dikenali: Ugoran Prasad. Vokalis, penulis lirik, pekerja teater, dramaturg, sosok penting dalam perjalanan Melbi. Latar belakangnya di dunia sastra dan teater sangat terasa dalam musik Melbi. Dia lebih dari sekadar menyanyi; ia memainkan sebuah peran. Liriknya melampaui tema asmara atau patah hati. Lirik dari Ugo menyentuh kematian, tanah, kekuasaan, sejarah, propaganda, tubuh, kehilangan, ketakutan, hingga manusia yang menghadapi hal-hal yang lebih besar dari dirinya sendiri.

 

Menonton Melbi sering kali bagaikan menyaksikan pertunjukan teater dengan musik sebagai salah satu elemen bahasanya. Di atas panggung, Ugo tidak hanya berdiri di depan mikrofon. Dia bergerak, berbicara, mengamati, kadang menyindir atau membiarkan musik berbicara sendiri. Ada satu kebiasaan khas yang melekat padanya saat tampil: rokok.

 

Sebatang rokok di tangan Ugo

 

Bagi penonton setia Melbi, melihat Ugo menyalakan rokok di panggung sudah menjadi hal yang biasa. Dokumentasi pertunjukan mereka yang lampau menunjukkan gestur ini telah lama ada. Bahkan, sebuah kajian mengenai pertunjukan Teater Garasi pernah mencatat kehadiran Ugo bersama Melancholic Bitch sambil merokok ketika menyanyikan "My Feeling for You". Oleh karena itu, ketika dia kembali tampil dengan rokok di tangan pada panggung Melbi di Festival Mojok 2026, ini bukanlah hal yang baru. Karena merokok sudah menjadi bagian dari bahasa tubuh Ugo di atas panggung.

ugoran prasad


 

Tentu, gestur itu tidak seharusnya langsung ditafsirkan sebagai promosi rokok. Rokok di tangan seorang seniman di panggung bisa menjadi bagian dari kebiasaan pribadi, karakter, dan juga representasi visual pertunjukan. Bagi Ugo, rokok adalah elemen kecil dari persona panggungnya; seorang vokalis yang berada di persimpangan musik, sastra, teater, kegelisahan sosial, dan diskusi mendalam tentang manusia.


Bagi Kretekimages, hal ini menarik bukan karena rokok harus jadi pusat cerita. Sebaliknya, sebatang rokok kadang dapat dipandang sebagai elemen dari kebudayaan visual pertunjukan musik Indonesia, seperti halnya gitar, mikrofon, kostum panggung, pencahayaan, atau gestur tubuh lainnya. Rokok yang terjepit di antara jari tangan turut membangun karakter seniman di atas panggung.

Ugoran Prasad with Melbi on stage Fesmo 2026


 

Dari duka menuju Hujan Orang Mati

 

Melbi kemudian memasuki fase baru dengan album "Hujan Orang Mati", yang dirilis pada 11 November 2024, tepat dua tahun setelah pergantian nama menjadi Majelis Lidah Berduri. Album keempat mereka ini dimulai dengan duka personal yang kemudian berkembang keluar; dari kehilangan orang terkasih menuju luka yang lebih luas. Dari perasaan personal ke permasalahan sosial. Dari kematian pribadi ke isu tanah, lingkungan, memori, dan manusia yang kehilangan pijakannya.


Foto sampul album "Hujan Orang Mati" menguatkan gagasan tersebut. Jepretan karya Fotografer ANTARA Aji Styawan ini memperlihatkan warga berziarah di pemakaman Dusun Timbulsloko, Demak, yang terendam rob sejak 12 Mei 2021. Kawasan ini mengalami penurunan tanah akibat berbagai faktor seperti ekstraksi air tanah, reklamasi, serta kenaikan permukaan laut terkait krisis iklim.

 

Foto itu bukan sekadar hiasan album. Ia adalah pintu gerbang menuju dunia yang ingin dibahas oleh Melbi. Kematian bukan lagi persoalan individual semata tetapi bisa menjadi isu satu kampung, makam, tanah, bahkan lingkungan hidup.

 

Ketika Melbi datang ke Timbulsloko

 

Ada rasa ganjil tapi juga indah ketika pada 16 Agustus 2026 Melbi mengunjungi Timbulsloko. Bukan sekadar karena mereka tampil di sana, tetapi karena mereka hadir di tempat yang telah menjadi bagian dari karya mereka. Penduduk Timbulsloko harus menghadapi rob sehari-hari. Makam leluhur mereka juga ikut terendam. Lingkungan berubah dan kehidupan sehari-hari beradaptasi dengan keadaan yang sulit.

ugo melbi on stage fesmo 2026


 

Pada rangkaian Upacara Rakyat Timbulsloko dari tanggal 15 hingga 17 Agustus 2026, musik berpadu dengan doa bersama, seni lintas komunitas serta refleksi lingkungan menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Indonesia. Melbi tampil pada 16 Agustus. Di titik ini, karya pun bertemu kenyataan. Foto sampul bertemu dengan tempat dalam foto tersebut. Lagu tentang kematian dan kehilangan menemui warga yang mengalami perubahan ruang hidupnya. Melbi tidak perlu membuat manifesto panjang tentang keberpihakan mereka. Cukup dengan datang, bermain musik dan berada bersama warga.

 

Kadangkala seni memang bekerja dengan cara sesederhana itu.

 

Dari Timbulsloko ke Prambanan

 

Beberapa hari kemudian Melbi kembali hadir di Yogyakarta. Mereka tampil di atas panggung Cherrypop 2026 di kawasan Candi Prambanan pada 22 Agustus 2026. Mengusung tema "Repelita Musik", Cherrypop mempertemukan musik dengan berbagai bentuk kreativitas lainnya. Dan, Majelis Lidah Berduri termasuk dalam deretan penampil di hari pertama.

sebat duls on stage


 

Di atas panggung Cherrypop, Melbi sekali lagi menampilkan karakter yang membuat mereka istimewa. Musik tak sekadar hiburan, namun menghadirkan dialog seputar sejarah, kekuasaan, hak asasi manusia, kehidupan sosial, dan isu-isu terkini. Ketika alunan musik berlanjut, penonton ikut bergerak. Ugo melantunkan lagu. Dan di sela-sela itu semua, sebatang rokok sempat menyala. Namun, yang terpenting adalah apa yang terjadi setelah asapnya sirna. Syair lagu yang dibawakannya tetap tertanam dalam ingatan massa yang ada di sana.

 

Dalam festival Mojok 2026 di Balcos Compound Sleman pada 28 Agustus, Melbi kembali tampil hanya enam hari setelah Cherrypop. Festival Mojok 2026 yang mengangkat tema "Jogja Hari Ini" dirancang sebagai ruang untuk pertemuan lintas disiplin: dari musik independen hingga literasi, budaya, komedi, dan berbagai dinamika kreatif kota. Di hari pertama, Melbi menjadi penampil penutup. Tema Fesmo 2026 "Jogja hari Ini" seakan cocok dengan Melbi karena sulit mengulas Jogja saat ini tanpa menyertakan kelompok-kelompok seni yang telah menghidupkan kota ini selama puluhan tahun. Melbi adalah bagian dari itu. Mereka berkembang dalam ekosistem seni yang bebas dari batasan disiplin.

ugo style on stage fesmo 2026


 

Demikianlah sesuatu tumbuh di Yogyakarta; tidak semua harus tampak terus-menerus untuk tetap hidup. Melbi mungkin tak pernah menjadi band dengan formula industri musik yang tertebak. Mereka tak membutuhkan single baru setiap saat, tur panjang, atau kehadiran konstan di media sosial dan panggung. Justru ketidakhadiran mereka menjadi daya tarik tersendiri. Kejutan apa yang akan mereka bawa saat kembali? Personelnya mungkin berubah, pengalaman hidup bertambah, persoalan sosial bergeser, dan musik mereka pun tumbuh. Semua itu menjadikan Melbi lebih pas disebut kolektif ketimbang sekadar band.

 

Setelah lebih dari dua dekade, Melbi memberikan pelajaran sederhana tentang cara bertahan bahwa tidak harus selalu hadir. Tidak ada kewajiban harus selalu berada dan ada. Karena itu mereka bebas menghilang; anggotanya menekuni pekerjaan masing-masing, mencari pengalaman baru, berkarya dengan kelompok lain. Lalu suatu hari mereka kembali dengan membawa pengalaman segar. Inilah yang membuat Melbi tetap memikat.

 

Dari Melancholic Bitch menjadi Majelis Lidah Berduri, dari Anamnesis hingga Hujan Orang Mati, mereka terus berubah tanpa kehilangan akar. Agustus 2026 menjadi tanda bahwa "band goib" ini belum berakhir. Dalam hitungan hari, mereka tampil tiga kali: di pesisir Demak, di bawah kemegahan Candi Prambanan, dan di sebuah ruang kreatif bersama Mojok di Sleman. Mungkin setelah ini mereka akan kembali menghilang tanpa ada yang tahu kapan akan kembali. Namun begitulah hakikat Melbi; muncul ketika perlu, menghilang jika tiba waktunya.

 

Ketika musik usai, lampu panggung padam. Penonton pulang. Sementara asap rokok terakhir Ugo, menyusup ke udara malam. Melbi mungkin saja kembali ke tempat asalnya. Bukannya hilang. Hanya pulang sesaat. Sebagai band yang lama dikenal "goib", demikianlah cara mereka bertahan. Muncul jika diperlukan dan menghilang ketika tiba saatnya. Suatu hari nanti, entah kapan, mereka akan kembali mengetuk pintu. Berdiri di atas panggung. Dan aku akan duduk di situ melihat dia yang jemarinya menjepit sebatang rokok di atas panggung sambil ikut bernyanyi:

Terang sedang mendidih sore

Mendadak waktu

Mendadak hujan

Mendadak asam lambung

Satu persatu saja jatuhnya

Rintik-rintik orang-orang mati

Satu persatu saja jatuhnya

Rintik-rintik orang-orang mati

Rebah di punggung

Jatuh tidur

Rebah di punggung

Bersandar mimpi

Rebah di punggung kita

Mereka bersandar

Mirip tidur penuh mimpi

Pelan pelan

Pelan pelan

Menghunjamkan nisan

 


Arsip Visual Terbaru