Tembakau sering kali dibahas dari perspektif rokok dan dampaknya terhadap kesehatan. Namun, tanaman dengan nama ilmiah Nicotiana Tabacum ini memiliki sejarah panjang dalam penggunaannya sebagai obat tradisional dan kini menarik perhatian dalam bidang bioteknologi.
Perbincangan tentang tembakau selalu kerap terhenti pada aspek rokok, seolah seluruh bagian tanaman, komponen kimianya, dan berbagai kegunaannya identik dengan aktivitas merokok. Padahal, dari sudut pandang ilmiah, ketiga hal tersebut adalah entitas yang berbeda.
Tembakau dapat dilihat sebagai komoditas pertanian, bagian integral dari budaya masyarakat, bahan baku industri, sumber alkaloid seperti nikotin, serta sebagai bioreaktor yang dapat menghasilkan protein dan bahan farmasi tertentu.
Kisah tembakau dan pengobatan di tanah Jawa
Di wilayah pertanian Temanggung, terdapat cerita rakyat yang mengaitkan tembakau dengan tokoh penting, Ki Ageng Makukuhan atau Sunan Kedu. Salah satu kisah yang berkembang menyebutkan bahwa ketika pertama kali menemukan tanaman ini, Makukuhan menyebutnya sebagai "iki tambaku", yang kemudian diasosiasikan dengan kata tamba, atau obat.

Cerita ini merupakan bagian dari tradisi lisan masyarakat Temanggung. Beberapa sumber populer juga mencatat kisah serupa tentang Ki Ageng Makukuhan dan tembakau. Karena berasal dari tradisi tutur, cerita ini menjadi warisan budaya bagi warga Temanggung terkait asal-usul nama tembakau.
Di sentra industri rokok kretek Kudus dan beberapa daerah lainnya, tembakau juga memiliki cerita unik dalam konteks pengobatan tradisional. Dalam perjalanannya, tembakau bertemu dengan cengkeh dan melahirkan inovasi khas Kudus yang dikenal sebagai kretek.
Kisah tentang H. Djamhari dari akhir abad ke-19 sering disebut dalam sejarah kretek. Djamhari dilaporkan menggunakan campuran tembakau dan cengkeh untuk meringankan keluhan sesak napas. Inilah yang kemudian memicu berkembangnya tradisi kretek, yang menjadi bagian penting dari sejarah ekonomi dan budaya Kudus. Karena sejarah panjang penemuan kretek oleh Haji Djamhari dan banyaknya pabrik rokok kretek di Kudus, kota ini dijuluki Kota Kretek.
Dari pengobatan tradisional menuju penelitian nikotin
Lebih menariknya lagi, tembakau mulai dipelajari dalam konteks farmakologi modern. Nikotin adalah alkaloid alami yang terdapat dalam tanaman tembakau. Senyawa ini berinteraksi dengan sistem saraf melalui reseptor nikotinik asetilkolin. Karena mekanisme tersebut, nikotin telah lama menarik perhatian para peneliti di bidang neurologi, psikiatri, imunologi, dan farmakologi.

Beberapa penelitian menemukan hubungan antara merokok dan rendahnya prevalensi beberapa penyakit tertentu. Alzheimer adalah salah satu contohnya yang sudah lama diketahui di kalangan publik.
Hal serupa juga ditemukan pada ulcerative colitis, penyakit peradangan kronis pada usus besar. Penelitian menunjukkan fenomena yang menarik: penyakit ini lebih banyak ditemukan pada mereka yang tidak merokok atau telah berhenti merokok. Beberapa penelitian juga menguji nikotin sebagai terapi potensial.
Tinjauan ilmiah yang diterbitkan di Alimentary Pharmacology & Therapeutics mengindikasikan adanya efek protektif dari merokok terhadap perkembangan dan perjalanan ulcerative colitis.
Tembakau sebagai "pabrik" obat
Dalam bioteknologi, ada yang dikenal sebagai molecular farming, di mana tanaman dimanfaatkan untuk menghasilkan protein rekombinan, antibodi, enzim, dan kandidat vaksin. Tembakau, khususnya jenis Nicotiana benthamiana, sering digunakan dalam teknologi tersebut karena memiliki pertumbuhan cepat, biomassa tinggi, serta sistem yang mudah dimodifikasi untuk produksi protein tertentu. Kajian ilmiah terbaru terus menempatkan Nicotiana sebagai tanaman penting dalam pengembangan molecular farming.

Contoh konkrit muncul selama pandemi Covid-19. Pada 2022, Kanada mengizinkan Medicago untuk memproduksi vaksin Covid-19 bernama Covifenz. Vaksin ini memanfaatkan teknologi plant-based virus-like particles (VLP), yaitu partikel mirip virus yang diproduksi melalui sistem tanaman. Dalam uji klinis, vaksin ini menunjukkan efektivitas 71 persen terhadap Covid-19 simptomatik pada usia 18–64 tahun. Meski Covifenz kemudian tidak bertahan sebagai produk komersial setelah izin dicabut pada 31 Maret 2023 atas permintaan sponsor, kemampuannya melewati pengembangan dan memperoleh otorisasi menunjukkan potensi luar biasa dari tanaman seperti Nicotiana.
Pada tahun yang sama, di Thailand, Baiya Phytopharm mengembangkan kandidat vaksin Covid-19 berbasis tanaman Nicotiana benthamiana dan membawanya ke uji klinis fase pertama. Platform mereka dapat memproduksi protein RBD dari spike SARS-CoV-2 menggunakan tanaman. Tembakau juga mengandung nikotin yang memiliki aktivitas farmakologis, yang dimanfaatkan dalam terapi pengganti nikotin untuk membantu perokok berhenti merokok.
Dalam bioteknologi, ketika Nicotiana digunakan untuk memproduksi protein vaksin, kemampuan biologis tanaman sebagai sistem produksi yang dimanfaatkan. Jadi, jangan terburu-buru menilai negatif tembakau karena dari sejarah pengobatan tradisional hingga molecular farming, tembakau menunjukkan bahwa penilaian terhadap tanaman tidak bisa hanya berdasarkan satu produk saja.
Di Indonesia, tembakau memiliki dimensi ekonomi dan kebudayaan yang luas. Menjadi sumber penghidupan bagi petani, buruh, pedagang, dan industri pengolahan serta bagian dari tradisi lokal di berbagai daerah. Oleh karena itu, diskusi tentang tembakau sebaiknya tidak berhenti pada perdebatan baik atau buruknya tembakau. Penelitian terhadap nikotin, tanaman Nicotiana, dan teknologi molecular farming menunjukkan bahwa tembakau memiliki dimensi ilmiah yang jauh lebih luas.
Dengan demikian, tembakau dapat dianggap bagian dari sejarah pengobatan tradisional, komoditas ekonomi, bahan penelitian farmakologi, hingga berfungsi sebagai "pabrik hijau" untuk produksi protein farmasi dan kandidat vaksin.