Kretek, dalam pandangan pembuat kebijakan dan regulasi sering hadir dalam dua wajah yang kontras. Seperti sekeping uang logam. Di satu sisi kretek adalah industri yang selalu diukur dalam angka, selalu dibicarakan dalam hal kenaikan cukai, jumlah produksi, dan konsumsi. Di sisi lain, kretek adalah objek perdebatan kesehatan yang tak pernah selesai. Dua keeping yang kontras itu menyatu, dan tak pernah terlepas. Tapi ada satu hal yang jarang disentuh oleh negara yaitu kretek sebagai lanskap. Sebagai sesuatu yang membentuk ruang kehidupan, dan bahkan ingatan.
Di balik setiap batang kretek, ada lapisan-lapisan kecil yang bekerja diam diam. Tidak selalu terlihat, tidak selalu tercatat, tapi nyata dalam keseharian.
Salah satu lapisan itu adalah infrastruktur kecil.
Di Temanggung, di lereng Sumbing dan Sindoro, jalan-jalan yang membelah ladang tembakau dulu bukan hasil perencanaan negara. Ia terbentuk dari langkah yang diulang. Petani memikul daun tembakau, gerobak kayu melintas, jalur tanah perlahan mengeras. Dari situ, jalan lahir tanpa pernah diresmikan. Bahkan pembuat kebijakan tidak mengetahui keberadaannya.

Di Madura, los tembakau menjadi ruang hidup saat musim panen. Daun digantung, dipilah, dinilai. Pembeli datang, transaksi terjadi dalam tempo cepat. Di Lombok, gudang-gudang kecil menjadi simpul penyimpanan sebelum tembakau bergerak lebih jauh.
Semua ini bukan infrastruktur dalam pengertian formal. Tidak ada dalam cetak biru pembangunan. Tapi ia bekerja secara alamiah, menghubungkan, menggerakkan, dan menghidupkan.
Hari ini, sebagian dari itu masih ada. Sebagian berubah. Jalan setapak telah menjadi aspal. Pick Up menggantikan pikulan. Los tetap berdiri, tapi tak seramai dulu. Gudang kecil kehilangan perannya ketika distribusi menjadi lebih terpusat.
Perubahan ini tidak selalu terasa dramatis. Tapi ia menggeser lanskap sosial secara perlahan.
Lapisan lain yang jarang dibicarakan adalah benih.
Kebanyakan orang sering menyebut tembakau dengan nama tempat seperti tembakau Temanggung, Madura, Lombok. Seolah-olah itu cukup. Padahal di baliknya ada genealogi panjang, benih yang berpindah, beradaptasi, dan diseleksi dari musim ke musim.

Di Temanggung, varietas seperti Kemloko tumbuh dari seleksi petani, bukan dari ruang suci laboratorium. Seleksi itu selalu diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Benih dipilih dari tanaman terbaik yang aromanya kuat, yang tahan terhadap cuaca tak menentu. Di atas semua itu ada tembakau srintil, yang lebih mirip proses khusus secara alamiah daripada varietas.
Sedangkan di Madura, nama-nama seperti Prancak-95 atau Cangkring menunjukkan bagaimana tembakau beradaptasi dengan tanah yang keras dan kering. Di Lombok, dominasi Tembakau Virginia Lombok menandai fase lain, ketika benih datang bersama sistem yang lebih terstruktur.
Dulu, benih itu tidak pernah benar-benar diam. Benih benih itu dibawa, ditukar, dicoba, gagal, lalu dicoba lagi. Dari pergerakan benih itu kemudian varietas lahir. Bukan sebagai sesuatu yang tetap tapi sebagai hasil dari proses panjang yang sering kali tidak terdokumentasi.
Di tengah semua itu, dalam komunitas petani tembakau ada yang namanya penjaga benih. Seseorang atau dua orang petani yang tekun mengamati benih. Dari merekalah petani tahu benih mana yang layak disimpan untuk musim berikutnya. Pengetahuan ini tidak tertulis, melainkan diwariskan dalam lanskap kehidupan petani tembakau. Langsung diuji coba dalam praktik, bukan hanya pemaparan teori dalam ruang ruang workshop.
Namun seperti halnya infrastruktur kecil yang tadi saya ceritakan di atas, lapisan ini juga mengalami perubahan. Ketika benih semakin distandardisasi, ruang untuk variasi menyempit. Ketika hasil harus bisa diprediksi, peluang kegagalan dalam proses benih mulai dipangkas.
Dan menariknya, semua lapisan ini mulai dari infrastruktur di sentra sentra pertanian tembakau; jalan kecil, los tembakau, gudang, dan proses pemuliaan benih, bertemu di satu titik yang sama, ke dalam sebatang kretek.
Kita sering menganggap kretek sebagai sesuatu yang selesai di pabrik. Padahal, kretek adalah hasil dari proses tradisi dan kebudayaan yang panjang. Jarang ada satu batang kretek yang berasal dari satu jenis tembakau saja. Karena di dalam sebatang kretek ada komposisi keberagaman tembakau dari berbagai daerah.
Tembakau dari Temanggung memberi karakter kuat lazimnya lauk dalam seporsi santapan. Tembakau Madura mengisi bagian yang lebih kering. Dari daerah lain, datang lapisan tambahan yang mungkin kecil, tapi penting. Semua diracik dalam perbandingan tertentu yang menjadi rahasia pabrikan rokok kretek.

Di atas itu, selain ada kekuatan cengkeh yang menjadikan ciri khas rasa kretek, ada satu unsur lain yang bekerja lebih sunyi, saus kretek. Saus kretek bukan hanya sekadar penambah rasa, tapi pengikat yang menyatukan berbagai jenis tembakau dan cengkeh menjadi satu identitas. Sama seperti halnya juru racik tembakau, juru racik saus juga bersifat rahasia bagi setiap pabrikan kretek.
Sampai di sini keragaman asal usul kretek bukan hanya sekadar warisan, melainkan sudah menjadi kebutuhan pasar.
Tanpa perbedaan karakter antar tembakau, tidak akan ada kompleksitas rasa. Tidak ada kedalaman, dan kretek akan kehilangan ciri khasnya yang membuat kretek berbeda dengan rokok putih dari luar.
Tapi pada saat yang sama ada kebutuhan lain, konsistensi rasa yang sama dari waktu ke waktu. Produk yang bisa dikenali tanpa berubah terlalu jauh.
Untuk itu, keragaman harus sedikit dirapikan.
Di luar dari semua itu, ada satu hal yang sering terlewat yakni dampak kebijakan.
Ketika regulasi berbicara tentang cukai dan produksi, regulasi yang dibuat jarang menyentuh lapisan-lapisan kecil ini. Tapi dampaknya tetap sampai. Ketika harga tembakau jatuh, jalan-jalan kecil menjadi sepi. Gudang tidak lagi penuh dan kehilangan riuhnya di musim panen. Penjaga benih mungkin mulai berhenti menyimpan dan memuliakan benih.
Perubahan ini tidak selalu tercatat. Tapi selalu terjadi jika regulasi menabrak industri hasil tembakau.

Mungkin sudah waktunya negara melihat kretek dengan cara yang berbeda. Bukan hanya sebagai industri atau masalah, tapi sebagai jaringan yang kompleks. Sebagai sesuatu yang membentuk ruang hidup, dari yang paling besar hingga yang paling kecil.
Karena di balik setiap batang kretek, ada peta lain yang jarang dilihat. Peta yang tidak digambar oleh negara. Tidak tercatat dalam laporan resmi pembuat kebijakan. Tapi nyata dalam infrastruktur kecil yang terbentuk, dalam benih yang disimpan, dalam ruang-ruang kecil yang pernah menjadi pusat kehidupan. Merekalah lapisan lapisan tak terlihat yang menjadikan kretek tetap ada.