Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok

Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, Melihat Sejarah dari Sebatang Rokok

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

10 Aug 2026

Membaca sejarah rokok Kretek bukan berarti mengajak orang untuk menjadi perokok. Karena membaca sejarah rokok Kretek berarti memahami bagaimana rokok Kretek yang lahir dari masyarakat Indonesia kemudian tumbuh menjadi bagian dari sejarah sosial dan ekonomi bangsa.

Saya akan mengajak Anda sejenak menengok ke belakang, melihat sekilas saja tentang sejarah Kretek dari sebuah buku berjudul “Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya” karya Rudy Badil, yang pada bulan Agustus 2026 ini tepat berusia 15 tahun. Jika buku ini manusia, tentu sudah memasuki usia remaja. Usia yang penuh semangat dan keinginan untuk melakukan banyak hal. Lazimnya remaja, ia mengalami masa krisis eksistensial. Namun berbeda dengan krisis


tampak close up cover buku kretek jawa, gaya hidup lintas b udaya

eksistensialnya remaja, tema pembahasan dalam buku ini yakni Kretek, bahkan sejak pertama kali menjadi industri sudah mengalami krisis eksistensial. Terutama tekanan regulasi dan kebijakan pemerintah yang kurang adil atas keberadaannya.

“Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya” selanjutnya akan saya sebut Kretek Jawa, diterbitkan pertama kali pada bulan Agustus tahun 2011 oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG).  Buku ini berisi kisah panjang tentang Kretek yang mengajak pembaca melihat Kretek jauh melampaui sebatang rokok.

Sebagai ilustrasi saya jelaskan ringkas saja tentang jenis rokok. Rokok itu bisa disebut Kretek jika memakai campuran cengkeh. Karena dalam Industri Hasil Tembakau, ada banyak klasifikasi atau jenis jenis rokok. Rokok yang tidak memakai cengkeh itu rokok putihan atau rokok putih produk dari luar. Sedangkan Kretek yang dibahas dalam buku ini adalah rokok yang memakai campuran cengkeh, baik itu rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) yang memakai filter, maupun rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang tidak memakai filer. Dalam tulisan resensi ini selanjutnya saya akan menyebut rokok menjadi Kretek, dengan huruf ‘K’ besar.

Di dalam buku Kretek Jawa ini tersimpan kisah sejarah kota Kudus, kisah tentang Haji Djamhari; sang legenda yang disebut-sebut sebagai penemu Kretek, kisah perjalanan Nitisemito sebagai Raja Kretek, tangan-tangan para pelinting, kehidupan buruh pabrik, tembakau Srintil Temanggung, cengkeh dari kepulauan Maluku, hingga tumbuhnya industri Kretek di lembah Brantas. Membaca buku ini berarti membaca sebagian perjalanan masyarakat Jawa melalui tembakau dan Kretek.

Rudy David Badil nama lengkap sang penyusun buku ini adalah salah satu pendiri gurp lawak Warkop bersama Nanu, Dono, Kasino, dan Indro. Setelah keluar dari grup Warkop, pada tahun 1980 Rudy Badil kemudian menjadi wartawan Kompas, dan pensiun pada tahun 2005. Beliau meninggal dunia usia 73 tahun pada 2019 usai lama dirawat rumah sakit karena  stroke.

Dalam Menyusun buku ini, Rudy Badil tidak hanya mengumpulkan cerita tentang rokok Kretek melainkan membuka satu per satu kotak pandora budaya masyarakat Jawa, lalu memperlihatkan bahwa di balik kebiasaan mengisap Kretek terdapat sejarah perdagangan, keterampilan tangan, perubahan sosial, ekonomi rakyat, kebudayaan, bahkan jejak perjalanan agama.

Karena itu, buku ini penting dibaca bukan hanya oleh para perokok. Melainkan penting juga dibaca oleh orang yang ingin memahami bagaimana sebuah produk lokal bernama Kretek bisa tumbuh menjadi industri sekaligus bagian dari kebudayaan Indonesia.

Sejarah Kretek

Salah satu kekuatan dalam buku ini terletak pada cara penulis menempatkan sejarah kretek dalam rentang waktu yang sangat panjang. Kisahnya tidak langsung dimulai dari pabrik.

raja kretek kudus nitisemito



Pembaca diajak terlebih dahulu untuk melihat kisah Rara Mendut bersama kekasihnya, Pronocitro. Kisah yang hidup dalam budaya Jawa tersebut memperlihatkan bagaimana tembakau dan budaya merokok telah hadir dalam kehidupan masyarakat Jawa jauh sebelum Kretek modern menemukan bentuknya seperti sekarang.

Rara Mendut bahkan mengenalkan sisi lain dari rokok; sebagai barang yang mempunyai nilai ekonomi. Dikisahkan, Rara Mendut menjual rokok lintingannya untuk memperoleh uang. Kisah tersebut memang berada dalam dunia sastra, legenda, dan sejarah. Namun justru disitulah menariknya. Artinya, kita jadi tahu bahwa masyarakat Jawa sudah mengenal tembakau, rokok, dan aktivitas perdagangan jauh sebelum industri Kretek lahir.

Kemudian kisah sejarah mengajak pembaca ke Kudus.

Pada dekade antara tahun 1870–1880, muncul kisah Haji Djamhari. Tokoh yang kemudian menjadi legenda dalam sejarah Kretek itu disebut sebagai orang yang mencampurkan tembakau dengan cengkeh, dilinting, diisap, sebagai eksperimen atau uji coba untuk mengatasi keluhan nyeri dan sesak di dadanya.

Ketika lintingan tembakau dan cengkeh itu dibakar, ujung bakar pada lintingannya menghasilkan bunyi kretek, kretek, kretek.

Onomatope itu kemudian melekat dalam ingatan.

Di sinilah buku Kretek Jawa memperlihatkan sebuah ironi sejarah yang menarik. Sesuatu yang awalnya sederhana dan lahir dari eksperimen seseorang secara personal kemudian berkembang menjadi salah satu industri besar yang tumbuh dari masyarakat Indonesia sendiri.


Dari Cengkeh dan Tembakau, serta Tradisi Meramu

 

Kretek bukan hanya berasal dari tembakau. Setiap batangnya mengandung cengkeh, elemen penting yang menjadikan rokok tersebut dikenal sebagai Kretek.

Cengkeh juga mempunyai sejarah panjang sebagai komoditas rempah Nusantara. Jauh sebelum Kretek dikenal, bangsa-bangsa Eropa sudah datang ke kepulauan Indonesia untuk mencari rempah. Cengkeh menjadi salah satu komoditas incaran bangsa Eropa yang membuat kepulauan Maluku memiliki posisi penting dalam perdagangan dunia.

BUruh demak nglinting ke kudus


Masyarakat Jawa, melalui eksperimen Haji Djamhari, kemudian mencampurkan cengkeh dengan tembakau.

Ramuan cengkeh dan tembakau itu kemudian melahirkan karakter baru. Dalam perjalanannya, tradisi merokok di Jawa mengenal lebih banyak bahan sebagai ramuan. Mulai dari klembak, kemenyan, dan berbagai rempah lain juga pernah menjadi bagian dari kebiasaan meramu bahan untuk diisap. Karena itu, sejarah Kretek sesungguhnya juga merupakan sejarah pengetahuan masyarakat dalam mengolah bahan alam. Artinya, sejarah Kretek adalah juga sejarah tradisi meramu masyarakat Jawa.

Buku ini menarik karena tidak memisahkan semua unsur tersebut. Tembakau, cengkeh, manusia, kebiasaan, dan ekonomi disajikan dalam satu kisah yang panjang.

Budaya Dalam Selinting Rokok

Dalam buku ini terdapat pula sumbangan pemikiran dari budayawan Mohamad Sobary melalui pengantar dengan tulisan berjudul “Budaya Dalam Selinting Rokok” yang membawa pembaca masuk pada pembahasan ke wilayah yang lebih dalam.

Apa yang sebenarnya ada dalam sebatang rokok?

Secara fisik, jawabannya mudah. Ada tembakau, cengkeh, kertas pembungkus, dan bahan lain sesuai jenis produknya. Namun secara kebudayaan, ternyata jawabannya jauh lebih luas; ada Bahasa, ada kebiasaan, ada pergaulan, ada simbol, dan ada cara manusia berhubungan satu sama lain.

Pada halaman XIV, dia menulis begini:

Selinting rokok, tulis Mohamad Sobary, tak semata berhubungan dengan rohani dan apa yang gaib,tetapi juga dengan psikologi—pembuka kemacetan kreativitas—bagi para seniman: tanpa rokok renungan terhambat. Tanpa selinting rokok, kreativitas bagai tak mengalir. Begitu seorang seniman mengisap keharuman aroma rokok, dan dengan cermat menatap gulungan asap lembut, seolah dia menghilang ke dalam kefanaannya sendiri; dunianya terbuka. Seolah dia lalu bisa “sumusuping rasa jati” yang subtil, lembut, dan tak terambah jika tanpa pembuka selinting rokok yang begitu powerfull tadi.

Buku Kretek Jawa; Gaya Hidup Lintas Budaya


Dari pengalaman spiritual dengan Kretek tersebut orang Jawa kemudian mengenal istilah udud dan ngudut. Sementara kata “rokok” sendiri dalam penelusuran buku ini berasal dari kata Belanda ro’ken. Perubahan istilah tersebut memperlihatkan bagaimana bahasa ikut merekam perjalanan kebiasaan masyarakat.

Dengan begitu, rokok Kretek tidak hanya menjadi benda konsumsi. Tetapi masyarakat telah memberikan makna lain kepadanya.

 

Rokok: Dunia Ajaib yang Tidak Musnah

Bab ini ditulis oleh Pengajar Program Magister Ilmu religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, yakni Romo Budi G. Subanar. Beliau memperluas pembacaan melalui tulisan “Rokok: Dunia Ajaib yang Tidak Musnah.”

Judulnya saja sudah membuat kita bertanya tanya kan? Kok isa, ya?

Kok bisa, rokok bertahan melewati perubahan dan tekanan zaman? Gak bisa musnah.

Jawabannya tentu tidak sederhana. Rokok bertahan karena industri, perdagangan, kebiasaan, budaya, dan konsumen membentuk jaringan yang saling berkaitan.

Namun buku ini juga memperlihatkan sesuatu yang sering hilang dalam perdebatan tentang rokok: manusia manusia yang berada di belakang industri. Ada petani yang menanam tembakau, petani cengkeh. Ada buruh yang mengolah bahan. Ada pelinting yang bekerja dengan tangan. Ada pedagang, pengusaha, dan para penikmat rokok Kretek yang menjadi konsumen.

Ketika seseorang berbicara tentang industri Kretek, seluruh mata rantai itu sebenarnya sedang dibicarakan. Seperti anatomi tubuh, seujung kuku jempol kaki terluka seluruh tubuh akan merasakan sakitnya.

Kudus: Kota Santri yang Melahirkan Industri Kretek

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah pembahasan mengenai kota Kudus, yang kelak mendapat julukan sebagai Kota Kretek.

Nama Kudus berasal dari kata bahasa Arab Al-Quds, yang merujuk pada kota suci Yerusalem. Sunan Kudus atau Ja’far Shadiq menempatkan jejak Islam yang kuat di kota tersebut. Salah satu peninggalannya adalah Masjid Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus yang menjadi jejak paling penting dari perjalanan dakwahnya.

Sunan Kudus sendiri termasuk Wali Sanga dan mempunyai hubungan keilmuan dengan Sunan Kalijaga. Beliaulah yang mengembangkan dakwah dengan pendekatan njawani dan yang memberi ruang kepada kebudayaan masyarakat setempat.

Ironisnya, kota santri ini kemudian menjadi salah satu pusat industri Kretek terbesar di Indonesia. Dan dari Kudus pula berkembang keterampilan juru linting Sigaret Kretek Tangan. Tangan yang kemudian menjadi mesin pertama industri Kretek di Kudus.

Para pelinting bekerja cepat. Mereka mengukur tembakau, memasukkan cengkeh, menggulung, merapikan, dan menghasilkan lintingan dalam jumlah besar. Kecepatan tangan mereka menentukan produktivitas.

Keterampilan itu tidak lahir dalam satu malam. Pekerja mendapatkannya melalui pengalaman dan kebiasaan.

Di sinilah Kretek menunjukkan wajah manusianya.

Nitisemito dan Revolusi Sebuah Merek

Kalau Haji Djamhari menjadi nama yang melekat pada kisah penemuan Kretek, maka Nitisemito menjadi nama yang tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri Kretek.

Karena hal itulah, Nitisemito dikenal sebagai Raja Kretek.

Pada bab ini, halaman 138-139, ada kisah sang raja Kretek dengan produk andalannya; Kretek Tjap Bal Tiga yang menjadi penanda awal bagi pabrikasi rokok di Indonesia. Melalui produk Kretek Tjap Bal Tiga, Nitisemito mulai mengubah skala bisnis Kretek. Ia memahami bahwa produk membutuhkan identitas, distribusi, dan promosi. Karena itu, ia menggunakan berbagai cara yang pada masanya tergolong berani untuk mengenalkan produk Kretek Tjap Bal Tiga.

Sebelum Kretek Tjap Bal Tiga menjadi terkenal, Nitisemito pernah menggunakan nama-nama merek yang terdengar unik dan nyeleneh, seperti Kretek Tjap Kodok Mangan Ulo, Tjap Soempil, Tjap Djeruk, yang pada akhirnya menjadi produk andalan Kretek Tjap Bal Tiga. Merek merek unik dan nyleneh tersebut kemudian menjadi bagian dari sejarah kreativitas pemasaran kretek.

Nama nama unik dan nyleneh produk Kretek itulah yang kemudian menjadi identitas. Identitas berubah menjadi merek. Dan merek lalu menjadi kekuatan ekonomi.

bab dalam buku kretek jawa karya rudy badil


Dari sini pembaca bisa melihat bahwa industri Kretek sebenarnya sudah mengenal strategi pemasaran jauh sebelum istilah branding menjadi bahasa sehari-hari sekarang ini.

Bukankah sampai saat ini produk kretek juga masih mengggunakan nama nama unik dan nyleneh, ‘kan? Coba sebutkan apa nama rokokmu?

Van der Reijden dan Kretek sebagai Industri

Buku ini tidak hanya mengandalkan kisah tokoh.

Penelitian Van der Reijden membantu memberikan gambaran tentang skala industri kretek pada masa kolonial. Data dari Van der Reijden mengenai banyaknya pabrik Kretek di Kudus memperlihatkan bahwa Kretek sudah berkembang sebagai kegiatan ekonomi besar sejak masa Hindia Belanda. 
 
B. van der Reijden adalah seorang peneliti dan pejabat pemerintah kolonial Belanda yang bekerja pada instansi perburuhan di masa Hindia Belanda. Ia dikenal luas berkat karya laporannya yang mendalam mengenai kondisi perburuhan dan perkembangan pabrik rokok di Jawa. Laporannya berjudul Rapport Betreffende Eene Gehouden Enquete Naar De Arbeids Toestanden In De Industrie Van Strootjes En Inheemsche Sigaretten Op Java (Laporan Survei mengenai Kondisi Kerja dalam Industri “Strootjes” dan Rokok Pribumi di Jawa) yang terbit antara tahun 1934–1935, menjadi data penting yang ada dalam buku ini.

Angka tahun diterbitkannya penelitian Van der Reijden tersebut sangat penting karena membantah anggapan bahwa industri Kretek baru tumbuh ketika perusahaan-perusahaan modern hadir. Padahal masyarakat lokal sudah membangun industrinya jauh lebih awal. Mereka mengembangkan produksi sejak sistem “Abon” rumahan hingga pabrikasi dan perusahaan rokok. Sejak dulu pengusaha lokal juga sudah memberdayakan tenaga kerja masyarakat sekitar, pemasaran, dan merek melalui pengalaman mereka sendiri.

Sistem Abon ialah pekerja rumahan yang mengerjakan bahan bahan Kretek dari rumah rumah masyarakat karena pekerja belum tersentralisasi. Sistem Abon berlangsung antara tahun 1920-an.

Untuk mengetahui tentang sistem “Abon” silakan baca halaman 135, dengan bab berjudul; Dari “Abon” Rumahan hingga Pabrik. Dalam bab ini Anda bisa mengetahui sejak kapan perusahaan rokok mulai membangun pabrik. Dari sistem Abon berganti dengan pekerja yang bekerja tersentralisasi di dalam pabrik rokok. Kehadiran produk Kretek Tjap Bal Tiga menjadi penanda awal dibangunnya pabrik rokok pertama di Kudus. Karena sejak itu, sentra sentra industri rokok mulai tumbuh di Jawa Tengah dan Jawa Timur mulai ikut membangun pabrik.

Itulah salah satu alasan mengapa sejarah Kretek layak ditempatkan sebagai bagian dari sejarah ekonomi Indonesia.

Buruh, Pasar Tiban, dan Ekonomi yang Tumbuh di Sekitar Pabrik

Ketika pabrik Kretek di Kudus berkembang, ribuan buruh datang dari berbagai daerah di Jawa Tengah, termasuk Demak dan kota-kota di sekitarnya. Kehadiran mereka kemudian menciptakan kebutuhan baru. Pedagang datang. Warung tumbuh. Jasa transportasi berkembang. Dan pasar tiban pun muncul.

Kebutuhan sehari hari buruh linting kemudian menjadi sumber penghidupan bagi orang lain.

Pemandangan semacam ini sebenarnya masih mudah ditemukan dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sebuah pusat kegiatan ekonomi hampir selalu melahirkan ekonomi lain di sekelilingnya.

Karena itu, ketika ngomongin industri Kretek, kita tidak cukup hanya menghitung jumlah pabrik dan nilai produksinya. Kita juga perlu melihat orang-orang yang menggantungkan kehidupan pada keberadaan industri tersebut.

Temanggung dan Tembakau Srintil

Buku Kretek Jawa ini tidak melulu membahas tentang Kretek dan pabrikasi serta tokoh tokoh yang berperan dalam sejarah panjang dunia Kretek, melainkan juga mengajak pembaca ke dunia pertanian yang menjadi hulu dari industri Kretek.

Kita balik lagi ke halaman 43, untuk berangkat ke Temanggung.

Kalau Kudus berbicara tentang industri, Temanggung berbicara tentang daun. Ini kisah tentang tembakau. Bab ini berjudul “Kebun Srintil Temanggung Tanpa Pabrik.”

Ya, tembakau memang menjadi bagian penting kehidupan masyarakat di lereng Sumbing. Di antara berbagai jenis tembakau yang terkenal, Srintil menempati posisi istimewa. Petani mengenalnya sebagai tembakau dengan kualitas dan karakter tertentu yang membuat harganya bisa sangat tinggi.

Namun tembakau Srintil tidak hanya mempunyai nilai ekonomi.

Masyarakat juga menyimpan kisah lisan mengenai Ki Ageng Makukuhan yang dikaitkan dengan awal mula tembakau di lereng Sumbing. Cerita tersebut hidup dari generasi ke generasi hingga saat ini.

Kita tentu harus membedakan tradisi lisan dengan bukti sejarah tertulis. Namun, tradisi lisan tetap mempunyai nilai penting karena memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami asal-usul kehidupan mereka sendiri.

Ada pula kisah bahwa tembakau sudah masuk ke Temanggung sejak masa Sultan Agung Mataram, sekitar 1613–1645. Klaim semacam ini menarik sebagai bagian dari ingatan lokal, tetapi pembaca tetap harus menempatkannya secara kritis karena sejarah awal tembakau di Jawa memiliki sumber yang beragam.

Jika Anda ingin tahu lebih jauh tentang tradisi lisan dan keberadaan Ki Ageng Makukuhan di tengah masyarakat lereng Sumbing, silakan baca tulisan lama saya “Kisah kisah Dari Lereng Sumbing” di tautan ini: https://bolehmerokok.com/2019/04/kisah-kisah-dari-lereng-sumbing/

Cacak, Gobang, Rigen, dan Musim Panen

Buku Kretek Jawa menjadi semakin hidup karena juga masuk ke dalam dunia pekerjaan petani.

Petani Temanggung merajang tembakau menggunakan cacak dan gobang. Mereka kemudian menata rajangan di atas rigen untuk proses pengeringan. Musim panen tembakau  di Temanggung menggerakkan banyak orang untuk mendapatkan hasil ekonomi. Penjual keranjang mendapatkan penghasilan. Pembuat rigen memperoleh pesanan. Buruh angkut bekerja. Pedagang datang. Dealer sepeda motor dan toko elektronik biasanya bakal kebanjiran pembeli.

Kemudian grader datang menentukan kualitas.

Di tangan grader, warna, aroma, tekstur, ketebalan, dan karakter daun ikut menentukan kelas tembakau. Harga pun mengikuti kualitas.

Dengan pembahasan tema yang panjang seperti ini, buku Kretek Jawa menunjukkan pada pembaca bahwa tembakau bukan hanya tanaman semata. Ia menciptakan sebuah sistem ekonomi yang sangat rinci.

Pembaca juga berkenalan dengan istilah Voor-oogst dan Na-oogst, dua istilah yang berkaitan dengan pola tanam dan musim serta waktu panen tembakau dalam tradisi budidayanya.

Lembah Brantas dan Segitiga Kretek Jawa Timur

Dari Temanggung kisah tentang kretek kemudian bergerak menuju ke Jawa Timur.

Pada halaman 83 ada Bab berjudul “Kretek-kretek di Lembah Brantas.” Bab ini membawa pembaca ke Blitar, Kediri, dan Tulungagung. Ketiga wilayah tersebut berkembang sebagai kawasan penting industri Kretek di sekitar aliran Sungai Brantas, terutama pada paruh abad ke-20.

Kediri kemudian memperoleh identitas yang sangat kuat melalui industri rokok. Nama Gudang Garam bahkan menjadi ikon citra kota Kediri.

Namun dalam bab ini, buku Kretek Jawa tidak hanya berkisah tentang perusahaan besar. Sekali lagi, ada kisah tangan pekerja menjadi pokok bahasan. Di balik merek yang terpampang di warung dan reklame, terdapat orang-orang yang melinting, membungkus, mengemas, mengangkut, dan menjual. Industri Kretek selalu mempunyai wajah manusia.

Dari Nama Nyeleneh hingga Rokok Modern

Sejarah merek rokok Kretek dalam buku ini juga menarik karena memperlihatkan kreativitas produsen pada masa lalu. Nama-nama yang terdengar aneh, lucu, atau bahkan tidak masuk akal justru bisa menjadi identitas produk. Masyarakat mengingat nama tersebut karena berbeda dari yang lain. Perubahan merek kemudian mengikuti perubahan zaman.

Industri rumahan kemudian berkembang menjadi industri pabrikan. Pabrik menggunakan teknologi baru. Produksi meningkat. Distribusi meluas. Promosi berubah. Konsumen pun ikut berubah.

Pada titik ini, buku Kretek Jawa menunjukkan bahwa Kretek bukan produk yang mengendap dalam sejarah melainkan terus berubah mengikuti masyarakat yang menghidupinya.

Kretek di Tengah Perdebatan Kesehatan dan Industri

Inilah mengapa buku berusia 15 tahun sejak pertama kali diterbitkan ini menarik untuk dibaca ulang saat ini. Kita tidak boleh menutup mata terhadap isu kesehatan. Merokok memang dianggap menghadirkan risiko kesehatan, dan generasi muda membutuhkan perlindungan yang serius. Namun, hal ini tidak berarti seluruh sejarah dan ekosistem industri Kretek menjadi tidak relevan. Memahami perbedaan antara mengatur konsumsi dan menghapus sebuah industri adalah penting.

 

Di Indonesia, rantai ekonomi dan sosial tembakau melibatkan jutaan orang, mulai dari petani hingga pekerja industri. Oleh karena itu, setiap kebijakan akan berdampak pada aspek ekonomi dan sosial. Larangan iklan, pembatasan promosi, kenaikan cukai, pembatasan produk, hingga ide kemasan polos, dan pembatasan Tar dan Nikotin, bukan hanya soal regulasi. Kebijakan-kebijakan ini juga mempengaruhi keberlanjutan usaha, lapangan kerja, petani, pendapatan negara, dan peredaran produk ilegal.

 

Jadi masalahnya bukan terletak pada, antara memilih kesehatan atau ekonomi. Kebijakan yang baik seharusnya mampu menjembatani kedua kepentingan tersebut.

 

Buku Rudy Badil memberikan bahan introspeksi penting di sini. Ia mengingatkan kita bahwa sebelum Kretek menjadi subjek regulasi, Kretek adalah bagian integral dari kehidupan masyarakat.

Mengapa Buku Ini Penting Dibaca Ulang?

Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya terbit memang sudah lama; sudah 15 tahun lalu. Namun isinya semakin relevan saat kita meninjau kembali keberadaan Kretek saat ini. Memang buku ini mengabadikan cerita yang mudah terlupakan dan dilupakan; tentang Haji Djamhari. Tentang Nitisemito. Tentang pria dan wanita yang mengandalkan keterampilan melinting Sigaret Kretek Tangan. Tentang buruh dari Demak yang pergi ke Kudus. Tentang pasar tiban yang muncul akibat kebutuhan para buruh. Tentang petani di Temanggung yang bersabar menunggu panen. Tentang Srintil yang jadi primadona. Tentang cengkeh yang pernah diperebutkan bangsa-bangsa Eropa. Tentang Blitar, Kediri, dan Tulungagung di lembah Brantas. Dan tentu saja tentang merek rokok yang nama-namanya unik dan nyleneh, terdengar asing dan mungkin lucu bagi generasi sekarang. Namun pada zaman dahulu, nama nama merek rokok yang unik dan nyleneh, itu menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

 

Setiap cerita menyampaikan satu pesan; Kretek tidak muncul dari ruang kosong. Ia lahir dari pertemuan manusia dengan tanaman, perdagangan dengan budaya, keterampilan dengan tuntutan ekonomi, dan tradisi dengan perubahan zaman.

 

Membaca sejarah Kretek bukan berarti mengajak semua orang untuk merokok, melainkan memahami bagaimana sebuah produk yang asli lahir dari masyarakat Indonesia, tumbuh dan menjadi bagian integral dari sejarah sosial dan ekonomi bangsa. Demikianlah nilai terbesar dari buku Rudy Badil ini.

 

Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya mengajak kita memandang sebatang Kretek dengan perspektif baru, bukan hanya sebagai benda yang dibakar dan diisap, tetapi sebagai hasil akhir dari perjalanan panjang yang dimulai dari kebun tembakau dan cengkeh, melewati tangan-tangan petani dan pelinting, masuk ke dalam pabrik, merambah pasar, hingga akhirnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

 

Buku Kretek Jawa ini juga dilengkapi visual pendukung tulisan dengan foto foto karya sahabat saya, jurnalis foto, kontributor National Geographic, dan Reuters, Dwi “Oblo” Prasetyo. Foto foto yang disajikan Oblo menunjukkan dinamika pekerja di sentra sentra pabrik rokok dan pertanian tembakau.

 

Sejarah tak selamanya tertulis dalam prasasti; kadang ia tersimpan dalam selembar daun tembakau, dalam aroma cengkeh, pada telapak tangan seorang pelinting, dan dalam suara kecil yang sudah lama dikenal penikmat rokok lebih dari seabad lalu; kretek, kretek, kretek.

 

Arsip Visual Terbaru