Hai para perokok, seberapa dalam kalian memahami sejarah rokok yang menjadi bagian dari keseharian? Bacalah buku "Hikayat Kretek" oleh Amen Budiman dan Onghokham yang akan mengajak Anda menyusuri perjalanan tembakau dan tradisi merokok, mulai dari suku asli Amerika, penyebarannya ke Eropa dan Asia, hingga kemunculannya di Indonesia dan terciptanya kretek di Kudus.
Buku ini tidak hanya menceritakan kisah Haji Jamhari dan penemuan kretek, tetapi juga mengikuti perkembangan industri rokok dari sigaret kretek tangan hingga sigaret kretek mesin.
Pembahasannya tentu menarik karena rokok acapkali dianggap biasa dalam keseharian. Rokok dibeli di warung, ditawarkan kepada teman, dinikmati setelah makan, atau dinikmati di teras sembari menyeruput kopi dan mengisap sebatang kretek. Namun, di balik kebiasaan sederhana itu tersimpan sejarah yang teramat panjang.

Hikayat Kretek mengajak Anda menengok jauh ke masa lalu. Amen Budiman dan Onghokham tidak langsung mengarahkan kita ke Kudus. Mereka lebih dahulu membawa Anda memahami pengenalan manusia terhadap tembakau, perkembangan kebiasaan merokoknya, kemudian bagaimana tanaman dan kebiasaan ini berpindah antar benua. Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada 2016 dengan 184 halaman dan merupakan pengembangan dari karya sebelumnya yang diterbitkan pada 1987 berjudul "Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya bagi Pembangunan Bangsa dan Negara."
Hikayat Kretek dan Perjalanan Panjang Sejarah Tembakau
Salah satu kekuatan "Hikayat Kretek" terletak pada cara kedua penulis menempatkan kretek dalam konteks sejarah yang luas. Kretek tidak serta merta muncul sebagai produk khas Kudus. Namun mereka berdua mengajakmu ke hulu terlebih dahulu,untuk mengenal lebih dekat ke pertanian tembakau.
Kisah ini bermula dari Benua Amerika. Masyarakat asli di sana telah mengenal tembakau jauh sebelum kedatangan orang Eropa. Mereka memanfaatkan tanaman tersebut dengan beragam cara dan dalam konteks yang tidak selalu sama dengan kebiasaan merokok modern. Ada yang menikmatinya lewat pipa, ada pula yang menggunakannya dalam ritual dan pengobatan.
Kedatangan Christopher Columbus pada akhir abad ke-15 membuka jalan bagi orang Eropa untuk mengenal tembakau. Dari sinilah perjalanan tembakau ke berbagai belahan dunia berlangsung lebih cepat. Orang Eropa membawa tanaman ini beserta kebiasaan konsumsinya ke wilayah yang mereka jelajahi.
Menariknya, masyarakat Eropa pada awalnya tidak segera menerima tembakau sebagai sesuatu yang lumrah. Beberapa orang menganggapnya aneh bahkan mencurigakan. Namun, kebiasaan itu perlahan menjadi bagian dari gaya hidup. Inggris, Prancis, Spanyol, Portugal, dan negara-negara Eropa lainnya mulai mengenal berbagai bentuk konsumsi tembakau.
Dengan demikian, pertanyaan tentang “siapa bangsa pertama yang merokok?” memerlukan kehati-hatian. Buku ini mengungkap bahwa masyarakat asli Amerika telah mengenal penggunaan tembakau jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa. Kemudian, orang Eropa mempelajarinya, membawanya ke luar dari Amerika, dan menyebarkannya ke seluruh dunia.

Dari Amerika, tembakau melintasi Eropa dan Asia
Perjalanan tembakau tidak berakhir di Eropa. Perdagangan dan ekspansi bangsa-bangsa Eropa membawa tanaman ini ke Asia. Seiring penyebarannya, kebiasaan mengonsumsi tembakau turut mengalami perubahan.
Penduduk berbagai daerah memiliki cara berbeda dalam mengisap tembakau. Ada yang menggunakan pipa, ada yang menggulung cerutu, sementara masyarakat di lokasi tertentu mengembangkan cara unik dalam menikmatinya.
Di sinilah sejarah tembakau menjadi menarik. Tanaman yang asalnya dari Amerika ini mengalami berbagai perubahan ketika berinteraksi dengan budaya berbeda. Masyarakat lokal tidak sekadar menerima kebiasaan baru begitu saja. Mereka memodifikasinya sesuai lingkungan, selera, ketersediaan bahan, dan adat setempat.
Proses tersebut menjadi sangat berpengaruh ketika tembakau tiba di Nusantara. Di Jawa, masyarakat tidak terbatas pada kebiasaan merokok dari bangsa asing. Mereka menciptakan bentuk baru yang akhirnya menghasilkan kretek.
Ketika masyarakat Indonesia mengenal tembakau
Bagian ini menjadi jembatan penting dalam Hikayat Kretek. Penulis mengajak Anda ke Jawa untuk melihat bagaimana Nusantara mulai bersinggungan dengan tembakau.
Menurut Amen Budiman dan Onghokham, tembakau dan kebiasaan merokok masuk ke Jawa sekitar tahun 1523 Saka atau 1601–1602. Hal ini terlihat dalam catatan Babad Ing Sangkala, yang mengaitkan munculnya tembakau dengan era meninggalnya Panembahan Senopati.
Catatan ini menarik karena menunjukkan bahwa sejarah rokok di Indonesia tidak hanya berasal dari catatan industri modern, tetapi juga dari sumber-sumber sejarah Jawa.
Orang Jawa mengembangkan kebiasaan merokok dalam kehidupan sosial mereka. Tembakau kemudian bukan sekadar tanaman asing dan mulai dimanfaatkan sebagai bagian dari jamuan dan pergaulan sehari-hari.
Pada titik ini, kita menyaksikan suatu hal penting: kebiasaan merokok mengalami proses lokalisasi. Masyarakat Indonesia menerima tembakau dari luar, tetapi kemudian menyesuaikannya dengan budaya mereka sendiri.
Dari tembakau dan cengkeh lahirlah kretek di Kudus
Cerita kemudian sampai pada bagian yang dinanti-nanti pembaca: kelahiran kretek.
Haji Jamhari muncul sebagai tokoh penting dalam kisah ini. Ia adalah warga Kudus yang menderita gangguan sesak di dada dan mencoba menggunakan cengkeh sebagai bagian dari pengobatan.
Tidak puas dengan minyak cengkeh saja, Jamhari mencampur cengkeh dengan tembakau yang biasa diisapnya. Campuran itu akhirnya menghasilkan sesuatu yang kita kenal sebagai kretek.
Istilah “kretek” berasal dari bunyi yang dihasilkan ketika cengkeh terbakar bersama tembakau, bunyi "kretek-kretek" itulah yang kemudian menjadi identitas unik rokok ini.
Kisah ini menggambarkan bagaimana sebuah produk budaya dapat lahir dari percobaan sederhana. Jamhari tidak berniat mendirikan industri rokok nasional; ia hanya mencari solusi untuk masalah kesehatannya.
Namun, masyarakat mulai menerima racikan itu. Permintaan pun tumbuh. Produksi meningkat, dan orang lain pun ikut membuatnya.
Dari proses sederhana inilah industri kretek di Kudus mulai berkembang.
Dari usaha rumahan hingga menjadi pusat industri kretek di Kudus.
Tumbuhnya industri ini tidak bisa dipisahkan dari peran para pengusaha lokal, dengan Nitisemito sebagai salah satu tokoh penting dalam periode awal perkembangannya. Pada saat itu, produksi kretek sangat bergantung pada keterampilan tenaga kerja dan peralatan yang sederhana. Para pekerja melinting rokok secara manual, memberikan karakter khas yang berbeda dari industri rokok modern yang serba otomatis dengan mesin-mesin berkecepatan tinggi.
Namun, justru pola produksi yang sederhana inilah yang memberi industri kretek fondasi sosial. Banyak keluarga dan pekerja dilibatkan dalam proses produksi, membuat kretek bukan sekadar barang konsumsi tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat sekitar. Kudus pun berkembang menjadi pusat industri kretek dan menjadi bagian dari sejarah penting dari rokok khas Indonesia.
Hikayat ini menarik karena menggambarkan hubungan antara inovasi sederhana, selera konsumen, kewirausahaan, dan pertumbuhan ekonomi lokal. Kretek berkembang bukan karena satu faktor saja; berbagai unsur bersatu padu dalam proses ini.
Industri rokok juga berkembang di berbagai tempat. Setelah membahas Kudus, buku ini mengajak Anda menjelajahi perkembangan industri rokok di daerah-daerah lain. Sejarah industri rokok Indonesia ternyata lebih luas dibandingkan hanya Kudus saja. Kota seperti Surabaya, Kediri, Malang, dan lainnya turut membangun ekosistem industri kretek. Surabaya, misalnya, dikenal melahirkan tokoh seperti Liem Seeng Tee yang mendirikan Sampoerna. Sementara, daerah Jawa Timur menjadi tempat lahirnya beberapa perusahaan besar yang berperan vital dalam industri rokok nasional. Walau Kudus tetap menjadi simbol penting, perjalanan kretek menyebar ke berbagai wilayah.
Hal ini menjadikan buku ini menarik karena penulis melihat kretek sebagai bagian dari perjalanan industri Indonesia secara keseluruhan, bukan hanya produk sebuah kota saja.
Bagian penting lain dalam buku ini adalah pembahasan mengenai perubahan teknologi dalam produksi rokok. Pada awalnya, kretek dibuat secara manual oleh para pekerja dalam bentuk Sigaret Kretek Tangan (SKT), yang memerlukan keahlian serta kecepatan tangan. Namun, kemajuan teknologi kemudian memungkinkan produksi rokok dengan mesin, mengawali era Sigaret Kretek Mesin (SKM).
Perubahan dari SKT ke SKM tidak hanya berarti perubahan alat produksi. Ini juga membawa perubahan pada struktur industri, kebutuhan tenaga kerja, kapasitas produksi, hingga kompetisi antarpabrik. Mesin memungkinkan produksi dalam skala besar, sementara SKT tetap mempertahankan karakter padat karya dengan keterampilan manual.
Jadi, saat seseorang membeli sebatang kretek hari ini, itu adalah hasil dari perjalanan panjang teknologi; ada bukti tangan manusia dalam SKT dan ada perkembangan teknologi industri di balik SKM.
Daya tarik utama buku ini terletak bukan hanya pada runtutan sejarahnya yang lengkap, tetapi lebih kepada bagaimana Amen Budiman dan Onghokham berhasil mengaitkan tembakau dengan manusia secara mendalam. Buku ini tidak sekadar menyajikan tanggal, nama tokoh, serta tempat, melainkan memperlihatkan bagaimana manusia menerima sesuatu yang asing, mengubahnya, lalu menciptakan kebiasaan dan produk baru.
Kretek menjadi ilustrasi yang memikat. Asalnya dari Amerika, tembakau disebarkan bangsa Eropa ke berbagai belahan dunia. Ketika mencapai Nusantara, masyarakat lokal mengolahnya kembali dengan menambahkan cengkeh ke dalam campuran, dan lahirlah kretek. Jalur sejarah ini menunjukkan bahwa kebudayaan sering kali berkembang melalui pertemuan dan campuran elemen-elemen dari berbagai penjuru.
Khusus di Indonesia, kretek menjadi contoh nyata bagaimana proses ini berlangsung. Buku sejarah ini terasa dekat dengan keseharian kita. Pembaca yang merupakan perokok mungkin akan mengalami perspektif yang berbeda setelah membaca Hikayat Kretek. Dengan memahami sejarahnya, sebatang kretek tidak lagi tampil sebagai hal yang muncul begitu saja di warung, melainkan ada perjalanan panjang di belakangnya.
Ada cerita masyarakat asli Amerika yang pertama kali mengenal tembakau. Ada pelaut dan pedagang Eropa yang menyeberangkan tanaman ini melintasi samudra. Kemudian ada masyarakat Asia yang mengembangkan kebiasaan merokok dengan cara mereka sendiri hingga akhirnya mengenal tembakau. Ada Haji Jamhari dengan eksperimen mencampurkan cengkeh dan tembakau, pengusaha dari Kudus yang menghasilkan kretek dalam skala besar, para pekerja linting yang berperan dalam produksi, serta mesin yang mengubah wajah industri.
Semua cerita itu bertemu dalam setiap batang kretek. Karena itu, Hikayat Kretek pantas dibaca bukan hanya oleh pecinta rokok. Buku ini juga relevan bagi siapa saja yang ingin memahami bagaimana suatu komoditas asing dapat berkembang menjadi bagian integral dari sejarah ekonomi dan kebudayaan Indonesia.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhana "dari mana asal rokok yang saya isap?" ternyata menyimpan jawaban yang panjang dan kompleks. Tembakau berasal dari Amerika, perdagangan membawanya ke Eropa dan Asia, kolonialisme mempertemukannya dengan Nusantara, dan masyarakat lokal mengolahnya secara kreatif hingga dari Kudus lahirlah kretek.
Hikayat Kretek bukan hanya buku tentang rokok; ini adalah perjalanan sejarah tentang bagaimana manusia menerima, mengolah, dan memberi arti baru pada sesuatu dari tempat yang jauh. Bagi perokok yang akrab dengan kretek sebagai teman kopi atau sekadar bagian dari keseharian, buku ini memberikan wawasan tentang sejarah panjang di balik setiap batang kretek yang mungkin selama ini terlewatkan.
Sudahkah Anda membacanya? Kalau belum, buku ini tersedia di perpustakaan Akademi Bahagia.