Hari Kretek Nasional diperingati setiap tanggal 3 Oktober, sebuah inisiatif dari Komunitas Kretek yang berdiri di Jember, Jawa Timur pada tanggal 3 Oktober 2010. Hari Kretek dirayakan untuk mengenang sejarah kretek, menghargai orang-orang yang terlibat dalam produksinya, dan menegaskan posisinya sebagai bagian dari kebudayaan Indonesia. Tahun ini, peringatan Hari Kretek digelar pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Akademi Bahagia, Yogyakarta.
Bagi sebagian orang, Kretek mungkin hanya dianggap sebagai rokok. Namun sebenarnya, jika kita menelusuri lebih dalam sejarahnya, Kretek membawa cerita yang lebih kaya dan mendalam, menyentuh berbagai aspek kehidupan sosial masyarakat Indonesia.
Di balik Kretek, ada petani tembakau, dan cengkeh, buruh tani, pekerja pelintingan, pedagang, perajin keranjang, serta warung kecil yang menjualnya. Kebiasaan sosial yang berkembang juga merupakan bagian dari realitas sosial sehari-hari masyarakat di Indonesia.

Oleh karena itu, membahas Kretek tidak hanya membicarakan sebatang rokok yang dinyalakan dan dihisap. Di balik itu semua, terdapat sejarah ekonomi, budaya, pekerjaan, kreativitas, serta dinamika kehidupan masyarakat yang turut bergerak.
3 Oktober: Sebuah Jejak Bersejarah
Pada 3 Oktober 1986, Museum Kretek resmi dibuka di Kudus, Jawa Tengah. Gagasan ini berasal dari Soepardjo Roestam, saat itu Gubernur Jawa Tengah, dan dibangun dengan bantuan Persatuan Pengusaha Rokok Kudus (PPRK). Sejak hari peluncurannya, museum ini menjadi penyimpan berbagai artefak dan catatan penting mengenai perjalanan kretek di Kudus dan Indonesia.

Dua puluh empat tahun kemudian, tepatnya pada 3 Oktober 2010, Komunitas Kretek dibentuk di Jember, Jawa Timur. Penetapan tanggal ini sebagai Hari Kretek bukan hanya karena berdirinya komunitas tersebut, tetapi juga mengacu pada sejarah Museum Kretek yang telah lebih dulu memuliakan tanggal 3 Oktober sebagai titik penting dalam sejarah Kretek nasional.
KOMTEK
Komunitas Kretek muncul pada saat isu pengendalian tembakau semakin menguat di Indonesia. Mereka menyaksikan peningkatan kampanye yang membatasi tembakau dan produk turunannya. Oleh karena itu, mereka mengambil langkah untuk mengadvokasi Kretek serta hak konsumen, sekaligus mengangkat cerita orang-orang yang kehidupannya terhubung dengan industri ini. Komunitas Kretek bukan sekadar kelompok peminat rokok; mereka membangun gerakan advokasi dengan terjun langsung ke lapangan bersama petani tembakau dan cengkeh.
Pada kisaran tahun 2011-2014, Komunitas Kretek memperluas jaringan advokasinya ke berbagai kota di Indonesia, termasuk Medan, Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Jember, dan Makassar. Gerakan advokasi mereka berwujud dalam berbagai bentuk, seperti menulis artikel, mengadakan diskusi, dan menerbitkan buku. Komtek menyoroti sejarah kretek dan membicarakan para petani serta pekerja. Selain itu, mereka juga mengkritisi kebijakan yang menurut mereka terlalu merugikan konsumen dan produk kretek.

Keberadaan Komunitas Kretek menjadi penting dalam peringatan Hari Kretek, yang muncul dari gerakan sosial yang bergerak dari bawah hingga mencapai permukaan. Bagi perokok yang memilih Kretek, Hari Kretek menjadi kesempatan merefleksikan apa yang ada di balik kebiasaan tersebut. Bukan untuk mempengaruhi orang lain agar merokok maupun mengharuskan semua orang menyukai kretek. Komunitas Kretek tidak pernah mempengaruhi atau mengajak orang merokok.
Dalam perayaan Hari Kretek, seorang perokok bisa memahami bahwa produk yang dikonsumsinya memiliki kisah panjang dan melibatkan banyak pihak. Dari asal tembakaunya, campuran cengkehnya, hingga pekerja yang membuat sigaret kretek manual dan perkembangan industrinya di berbagai daerah. Kesadaran ini membuat konsumen Kretek lebih dari sekadar membeli dan menghisap, namun ada sejarah yang turut dinikmati saat merokok kretek.
Selain itu, peringatan Hari Kretek juga memberikan kesempatan bagi perokok untuk memahami tanggung jawab sebagai konsumen yang peduli dengan sesama. Menghargai orang lain dengan tidak merokok sembarangan, mematuhi aturan kawasan tanpa rokok, tidak merokok saat berkendara, serta menjaga etika saat merokok adalah bagian penting dari kehidupan bersama. Meskipun Kretek memiliki sejarah yang panjang, penggunaannya tetap harus memperhatikan ruang publik dan hak orang lain. Itulah semangat dari tagline "perokok santun" yang selalu disuarakan oleh Komunitas Kretek.
Rangkaian sejarah tersebut, menyatukan jejak dua peristiwa penting dalam satu tanggal; pembukaan Museum Kretek pada 3 Oktober 1986 dan pendirian Komunitas Kretek, yang hadir pada tanggal yang sama dua puluh empat tahun setelahnya. Mulai saat itu, Komunitas Kretek menjadikan tanggal tersebut sebagai waktu melakukan refleksi dan diskusi mengenai posisi Kretek di Indonesia.
Pada 2015, secara resmi mereka mengangkat 3 Oktober sebagai Hari Kretek Nasional, disertai dengan berbagai kegiatan perayaan. Peringatan ini muncul dari inisiatif masyarakat, tanpa keputusan pemerintah yang mendadak menetapkan tanggal tersebut sebagai hari penting. Tradisi seperti ini umum terjadi dalam kehidupan budaya Indonesia, di mana masyarakat mengambil inisiatif untuk mengabadikan peristiwa atau hal yang dianggap penting, ketika pemerintah tidak memberikan perhatian yang cukup.
Dalam konteks Hari Kretek, yang dirayakan bukan hanya tanggalnya tetapi juga sejarah panjang yang terus dikenang dan diperbincangkan sepanjang tahun.
Kretek Lebih dari Sekadar Rokok
Di Indonesia, sigaret kretek dikenal sebagai rokok yang mencampurkan tembakau dengan cengkeh atau rempah lainnya. Cengkeh menjadi unsur pembeda utama antara sigaret kretek dan sigaret putih. Pemerintah Indonesia bahkan mengkategorikan sigaret kretek berdasarkan metode produksinya, baik yang menggunakan mesin (SKM) maupun yang dilinting oleh tangan pekerja (SKT).
Namun, definisi hukum saja tidak cukup untuk menggambarkan keseluruhan ceritanya, karena Kretek telah tumbuh bersama masyarakat selama bertahun-tahun. Sejarah menunjukkan bahwa Kretek lahir dari eksperimen Haji Djamhari di Kudus pada akhir abad ke-19. Cerita tersebut menggambarkan Djamhari mencampurkan tembakau dengan cengkeh dan kemudian membakar campuran itu. Suara khas dari cengkeh yang terbakarlah yang kemudian melahirkan istilah "kretek." Sebuah anomatopia dari suara cengkeh yang terbakar; kretek…kretek…kretek. Sejumlah catatan sejarah dan Museum Kretek menjadikan kisah ini bagian penting dari narasi sejarah Kretek di Kudus.

Pada perkembangannya, sejarah Kretek tidak berhenti pada satu individu saja. Seorang pengusaha lokal bernama Nitisemito berperan penting dalam memajukan industri Kretek di Kudus melalui produk Kretek Tjap Bal Tiga. Dari produksi rumahan, Kretek berkembang menjadi industri besar yang menyerap banyak tenaga kerja dan membangun jaringan ekonomi yang luas.
Oleh karena itu, saat orang berbicara tentang Kretek, ada begitu banyak cerita manusia di dalamnya. Petani menanam tembakau dan cengkeh, buruh mengolah hasil panen, pekerja melinting sigaret kretek secara manual, pedagang membawa produk ke pasar, dan konsumen menciptakan permintaan.
Rantai produksinya sangat panjang, dengan setiap mata rantai menyimpan kehidupan masing-masing, dan setiap kehidupan melahirkan cerita cerita yang unik.
Hari Kretek: Mengupas Peran Petani dan Pekerja
Saat membicarakan Kretek, sering kali diabaikan bahwa ada sosok-sosok pekerja yang berada di balik produksi Kretek. Tembakau dalam setiap batang Kretek tidak muncul begitu saja dari rak toko. Para petani telah menanamnya selama berbulan-bulan, menghadapi tantangan seperti cuaca, serangan hama, fluktuasi harga, biaya produksi, dan berbagai risiko lainnya. Hal yang sama juga terjadi pada petani cengkeh.
Setelah panen, perjalanan tembakau dan cengkeh belum berakhir. Ada pekerja yang mengolah bahan baku, buruh di gudang, pekerja linting, pedagang, dan banyak usaha pendukung lainnya dalam rantai ekonomi ini. Oleh karena itu, memperingati Hari Kretek bisa menjadi kesempatan untuk melihat keseluruhan rantai ini dengan lebih menyeluruh.

Sejak awal, Komunitas Kretek sudah menggunakan Kretek sebagai sarana untuk membahas identitas, kedaulatan ekonomi, dan orang-orang yang menjadi bagian dari produk ini. Tentu saja, industri tembakau juga menghadapi berbagai kritik dan regulasi terkait kesehatan masyarakat. Perdebatan tentang kesehatan tersebut memang nyata dan sebaiknya tidak dihilangkan dari diskusi. Karena setiap pihak memiliki kepentingannya masing-masing.
Namun demikian, perdebatan mengenai aspek kesehatan bukan berarti harus menghapus sejarah sosial, ekonomi, dan budaya dari sebuah produk.
Merayakan Kebudayaan Kretek
Ada alasan lain mengapa Hari Kretek layak untuk dirayakan. Indonesia memiliki banyak produk budaya yang lahir dari kreativitas masyarakatnya. Batik adalah salah satu contohnya yang paling terkenal. Keris, wayang, jamu, kuliner, musik tradisional, hingga berbagai bentuk kerajinan lainnya menunjukkan bagaimana masyarakat menciptakan budaya melalui proses panjang.
Kretek memiliki kisah tersendiri. Kretek lahir dari percampuran tembakau dan cengkeh, kemudian berkembang menjadi bagian dari ekonomi, kebiasaan sosial, dan sejarah industri di Indonesia. Museum Kretek di Kudus adalah salah satu tempat yang menyimpan sejarah tersebut dan bisa dipelajari lebih dalam lagi. Museum ini tidak hanya menampilkan produk jadi, tetapi juga berbagai peralatan dan dokumentasi perjalanan Kretek.

Karena itu, 3 Oktober bisa dipandang sebagai tanggal untuk mengenang proses kebudayaan yang tumbuh dari akar rumput. Hari Kretek adalah saat untuk mengingat sejarah, mengenang para pekerja dan petani, serta menghormati para pelopor yang telah membentuk budaya Kretek. Hal ini mengingatkan kita bahwa kebudayaan sering kali terlahir dari aktivitas sehari-hari masyarakat, bukan terlahir dari keputusan pejabat pemerintah.
Peringatan Hari Kretek Nasional 2026 di Akademi Bahagia
Tahun ini, peringatan Hari Kretek dijadwalkan pada Sabtu, 3 Oktober 2026 di Akademi Bahagia, berlokasi di Jalan Raya Ngebo, Ngaglik, Sleman, Yogyakarta.
Akademi Bahagia di Yogyakarta dikenal sebagai tempat bagi pecinta literasi untuk bertemu, membaca, dan berbagi ide. Dalam rangka memperingati Hari Kretek tahun ini, diselenggarakan juga “Musyawarah Kretek” yang berlangsung dari tanggal 30 September hingga 2 Oktober sebelum puncak acara Hari Kretek pada 3 Oktober. Peserta musyawarah datang dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk Kudus, Jember, Garut, Wonosobo, Temanggung, Kebumen, Rembang, Pamekasan, Sumenep, Nganjuk, dan Yogyakarta.

Pada peringatan kali ini, pengunjung yang hadir di Akademi Bahagia akan dimanjakan dengan pertunjukan musik dari Umar Haen dan Fajar Merah.
Selain itu, para pengunjung juga dapat menjelajahi tenant yang ditampilkan dalam perayaan Hari Kretek. Komunitas Kretek menyediakan tenant yang memamerkan berbagai jenis tembakau dari seluruh Nusantara, serta rokok kretek golongan tiga karya tangan Indonesia yang bisa dicoba oleh para pengunjung.
Perayaan kebudayaan memang tidak harus selalu dalam bentuk seminar atau diskusi serius. Musik, pertemuan, obrolan, dan kebersamaan juga bisa menjadi cara bagi masyarakat untuk merayakan sesuatu yang dianggap penting.
Oleh karena itu, siapa pun yang ingin mengenal lebih dekat gagasan tentang Hari Kretek dapat datang dan menyaksikan sendiri bagaimana Komunitas Kretek merayakannya.
Tidak perlu menjadi perokok untuk mempelajari sejarah Kretek. Tidak harus menjadi bagian dari industri rokok untuk memahami kehidupan petani dan pekerja. Dan tidak perlu setuju dengan semua pandangan Komunitas Kretek untuk memahami alasan kenapa Komtek hadir dan terus berkembang.
Inilah ruang bersama yang terbuka untuk merayakan sebuah peringatan: Peringatan Hari Kretek Nasional.
Hari Kretek: Bukan Tentang Sebatang Rokok
Peringatan Hari Kretek Nasional setiap 3 Oktober mengarahkan kita pada sebuah pertanyaan mendasar: apa yang sebenarnya ingin kita ingat? Tentu saja, jawabannya bukan hanya tentang sebatang rokok.
Di balik Kretek, ada Haji Djamhari dengan kisah awal penemuannya, Nitisemito dengan peran pentingnya dalam memajukan industri kretek di Kudus, serta kehadiran Museum Kretek Kudus yang berdiri sejak tahun 1986. Cerita ini mencakup petani tembakau dan cengkeh, buruh pelinting, pedagang, konsumen, dan Komunitas Kretek yang sejak 2010 berjuang membela kretek.

Semua elemen tersebut membentuk kisah panjang yang penuh warna dan dinamika. Oleh karena itu, ketika merayakan Hari Kretek, kita tidak hanya merayakan aktivitas merokok. Ini adalah perayaan atas produk budaya yang lahir dari kreativitas bangsa Indonesia, serta membentuk jaringan ekonomi dan sosial yang lebih luas.
Bagi perokok, momen ini adalah peluang untuk lebih mengenal produk yang mereka konsumsi sehari hari dan belajar merokok secara bertanggung jawab terhadap lingkungan sekitar. Bagi masyarakat umum, Hari Kretek membuka kesempatan untuk memahami sejarah dari perspektif yang berbeda.
Sementara itu, bagi petani dan pekerja, peringatan ini merupakan pengingat bahwa cerita Kretek adalah milik semua pihak yang terlibat, bukan hanya milik pabrik rokok Kretek atau konsumen. Cerita ini juga milik mereka. Juga milik kita bersama; para perokok.
Pada 3 Oktober 2026 dan seterusnya, mari memahami kretek lebih dari sekadar asapnya yang mengepul. Lihatlah sejarah, manusia, pekerjaan, kreativitas, dan kebudayaan yang turut tumbuh bersamanya. Karena, pada akhirnya, peringatan Hari Kretek Nasional tidak hanya merayakan sebatang Kretek. Ini juga bagaimana masyarakat memilih untuk mengingat bagian dari perjalanan budaya mereka sendiri.