Cengkeh Menjadi Jalan Hidup Wayan Rike di Munduk.

Cengkeh Menjadi Jalan Hidup Wayan Rike di Munduk.

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

13 Aug 2026

Di tengah hamparan kebun cengkeh di Desa Munduk, Bali Utara, berdiri sebuah pondok sederhana tempat Wayan Rike menghabiskan sebagian besar hidupnya. Saat ini lelaki bertubuh kokoh yang tinggal bersama keluarganya di tengah kebun cengkeh ini berusia 57 tahun. Rutinitasnya pagi hari selalu melihat kondisi pohon pohon cengkeh.

 

Tugas utamanya ialah, bertanggung jawab atas kebun cengkeh seluas 1 hektar dengan sekitar 127 batang pohon berusia 30 tahun. Saat musim panen raya tiba, kebun yang dikelola Wayan menghasilkan hingga dua ton cengkeh. Makanya bagi Wayan, pohon-pohon cengkeh adalah bagian dari kehidupannya.

 

Sejak menetap di Desa Munduk pada tahun 2001, Wayan bekerja sebagai buruh perawat kebun di lereng perbukitan Desa Munduk. Setelah bertahun-tahun berpindah dari satu kebun ke kebun lainnya, tiga tahun terakhir Wayan Rike menetap untuk menggarap kebun milik Ketut Putra. Di lahan kebun inilah, Ketut Putra membangun pondok untuk tempat tinggal Wayan Rike dan keluarganya.

 

Sejak tinggal di rumah tengah kebun milik Ketut Putra, rutinitas Wayan dihabiskan dengan pekerjaan yang tampak sederhana namun sebenarnya membutuhkan ketekunan; berkeliling kebun, memeriksa kondisi pohon, memupuk dua kali setahun, dan menyemprotkan obat organik untuk merangsang pertumbuhan daun. Karena ancaman terbesar pohon cengkeh berasal dari hama penggerek batang maka jika Wayan menemukan pohon yang terserang, ia harus memanjat dan mencari lubang yang dibuat hama. Lubang tersebut kemudian diisi obat cair dan ditutup dengan bambu. Pekerjaan ini dilakukan secara berkala, sekitar setiap enam bulan.

 kebun cengkeh di bali


Bagi Wayan Rike, bekerja di kebun cengkeh tidak ada ruang untuk lengah, karena perawatan pohon cengkeh hari ini menentukan hasil panendi masa datang. Sebagai pekerja kebun cengkeh, Wayan memperoleh upah Rp80.000 per hari. Namun, ia tidak setiap hari ke kebun untuk bekerja. Sebab jadwal kerja Wayan Rike berdasarkan permintaan atau instruksi pemilik kebun cengkeh.

 

Namun situasi harian seperti ini akan berubah di masa musim panen cengkeh tiba. Karena selama masa petik, Wayan mendapat tambahan upah selain upah harian. Pada musim panen  cengkeh, bayaran yang diterima Wayan Rike berdasarkan kerja memetik cengkeh. Dalam sehari Wayan mendapatkan upah sekitar Rp180.000 per hari. Bahkan remahan bunga cengkeh yang jatuh selama proses pemetikan pun dapat menjadi tambahan penghasilan baginya.

 

Namun, cengkeh tidak selalu membawa kabar baik. Tanaman ini memiliki siklus produksi yang membuat musim panen besar dan kecil datang bergantian, sementara kondisi cuaca sangat berperan menentukan hasil panen.

 

Pada beberapa wilayah di Buleleng sepanjang musim 2026, petani mencatat hasil panen lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya, seiring dengan siklus produksi dua tahunan, walaupun hasil panen setiap desa berbeda-beda.

 

Saat kebun sedang sepi pekerjaan, Wayan mencari kegiatan lain dengan cara membuka dua lapak dagangan di depan rumahnya; satu lapak menjual rempah-rempah, bumbu, kopi, serta kerajinan bagi wisatawan asing, sementara lapak lainnya menjual kebutuhan pokok.

 

 

Peralihan Dari Kopi ke Cengkeh

 

Kisah Wayan adalah hanya satu bagian kecil dari sejarah panjang desa Munduk. Sebelum dikenal sebagai destinasi wisata pegunungan, Munduk sudah lama menjadi kawasan perkebunan. Pada era kolonial, kopi merupakan salah satu komoditas utama. Bahkan, Munduk pernah dikenal sebagai penghasil kopi yang diekspor ke Eropa.

 

Perubahan signifikan terjadi ketika cengkeh mulai dibudidayakan.

menjemur cengkeh saat panen raya di maluku


 

Penanaman cengkeh di Munduk dimulai sekitar tahun 1964, dan empat tahun kemudian pada panen pertama harga cengkeh mencapai sekitar Rp11.000 per kilogram. Harga cengkeh panen pertama ini labih tinggi dibandingkan dengan harga kopi yang pada saat itu masih berkisar Rp8.000 per kilogram. Harga yang lebih tinggi ini membuat banyak petani mulai melihat cengkeh sebagai komoditas yang lebih menguntungkan.

Pada dekade 1970-an hingga 1980-an, penanaman cengkeh semakin meluas, menggantikan banyak perkebunan kopi. Varietas seperti Zanzibar, Si Putih, dan Cikotok menjadi bagian dari lanskap baru lereng lereng perbukitan di Desa Munduk.

 

Perubahan ini mengubah wajah Munduk hingga seperti yang kita kenal sekarang: perbukitan hijau dengan pepohonan cengkeh yang tumbuh berdampingan dengan kopi dan tanaman perkebunan lainnya.

 

Lereng yang Cocok untuk Cengkeh

 

Munduk memang dianugerahi kondisi alam yang ideal untuk perkebunan. Terletak di perbukitan dengan suhu udara yang sejuk, desa ini memiliki lanskap lembah dan lereng yang menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Menurut data pemerintah, ketinggian kawasan ini berada antara 600–800 meter di atas permukaan laut, sementara sumber lain mencatat ketinggian perkebunan antara 500 hingga 1.500 meter.

Pohon cengkeh di lereng perbukitan di Munduk, Bali


 

Faktor-faktor tersebut, ditambah tanah subur dan ketersediaan air yang memadai, memungkinkan cengkeh tumbuh dengan baik. Tidak mengherankan jika perkebunan cengkeh menjadi daya tarik wisata di Munduk. Statistik dari Kecamatan Banjar pada tahun 2015 menyebutkan luas kebun cengkeh di Desa Munduk lebih dari 1.000 hektar, sedangkan sumber terbaru menyatakan sekitar 500 hektare. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya pemutakhiran data. Hingga 2026, belum ada publikasi resmi terbaru mengenai luas kebun cengkeh di Munduk.

 

Yang pasti, cengkeh tetap menjadi bagian krusial dari lanskap pertanian Munduk. Pada 2023, sebagai contoh, Pemerintah Kabupaten Buleleng menjajaki program intensifikasi cengkeh di Subak Abian Amerta Sari dengan luas 50 hektare.

 

Bahkan pada laporan lapangan 2026, perubahan lanskap Munduk masih terlihat. Beberapa lahan sawah yang dulu menjadi tempat bermain warga sekarang telah berubah menjadi kebun cengkeh.

 

Dari Lereng Munduk ke Pabrik Rokok

 

Cengkeh Munduk tidak berhenti pada batas kebun saja. Bunga cengkeh dipetik, dipisahkan dari tangkainya, dikeringkan, kemudian berpindah tangan melalui jaringan perdagangan. Sebagian besar cengkeh domestik masuk ke industri kretek. Sisanya diserap oleh industri lain untuk kebutuhan yang berbeda, seperti parfum, dan lainnya.

 

Jaringan panjang inilah yang membuat pekerjaan Wayan sebenarnya terhubung dengan dunia yang jauh lebih luas.

 

Seorang pemilik kebun dan buruh perawat seperti Wayan Rike hampir setiap hari terlibat dalam berbagai tahapan panjang produksi sejak awal hingga akhir. Ada pemetik, pekerja yang melakukan ngepik untuk memisahkan bunga dari tangkainya, serta pengepul dan pedagang. Pada akhirnya, industri pengolahan membutuhkan cengkeh sebagai bahan baku.

 

Di Buleleng, kegiatan musiman seperti ngepik menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat. Ketika musim panen tahun 2026 di Padangbulia, misalnya, anak-anak sekolah, ibu rumah tangga, hingga warga lanjut usia turut serta dalam pekerjaan ini dengan bayaran sekitar Rp1.500–Rp2.000 per kilogram.

 

Dengan demikian, satu pohon cengkeh tidak hanya menghasilkan bunga melainkan juga menciptakan lapangan kerja, serta menggerakkan perdagangan. Dan bagi keluarga seperti Wayan Rike, ini hal lain yang menjadi alasan dirinya untuk tetap bertahan di tengah kebun.

 

Ketika Penentuan Nasib Saat Panen

 

Dari kisah hidup Wayan Rike menunjukkan bahwa harga dan hasil panen lebih dari sekadar angka dalam laporan pertanian. Namun keduanya menentukan apakah sebuah keluarga bisa menabung, memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau harus mencari pekerjaan lain.

Bli Wayan melihat cengkeh hasil panennya di Desa Munduk, Bali



 

Saat panen melimpah, sudah tentu kebun menjadi sumber rejeki yang lebih besar. Namun ketika hasil menurun, Wayan mengandalkan warung, lapak rempah, pekerjaan bangunan, ayam, pisang, dan talas.

 

Cengkeh bukanlah tanaman yang selalu mudah dipanen. Pada musim 2026 di beberapa wilayah Buleleng, petani menghadapi masalah kekurangan tenaga pemetik. Ktiadaan tenaga pemetik karena risiko bekerja di atas pohon yang tinggi dan upah yang dianggap belum memadai menjadi salah satu kendalanya.

 

Kehidupan Wayan Reki sebenarnya bukan hanya cerita tentang seorang buruh tani. Ini menggambarkan bagaimana sebuah komoditas mengikat manusia dengan bumi, musim, pasar, dan industri.

 

Di Munduk, pohon-pohon cengkeh berdiri di lereng-lereng bukit, beberapa di antaranya sudah berusia puluhan tahun dan dirawat dari generasi ke generasi. Di bawahnya, orang-orang seperti Wayan bekerja setiap hari untuk memastikan pohon tetap hidup hingga musim berikutnya tiba.

 

Bagi industri, cengkeh mungkin dihitung dalam kilogram dan ton. Bagi pedagang, ia adalah komoditas. Namun bagi Wayan Rike dan banyak orang di Munduk, cengkeh adalah sesuatu yang lebih sederhana sekaligus jalan hidup.

 

Arsip Visual Terbaru