Ada saat-saat di mana seorang penulis kehilangan kata-kata. Sebenarnya yang hilang adalah keinginan untuk menyusun kata kata menjadi tulisan. Tenang saja, selama masih ada rokok untuk jeda sejenak. Dibawa nyantai aja, sebat dulu. Karena kata-kata sebenarnya berlimpah di mana-mana. Terutama di kepala, dan jauh lebih banyak lagi kata kata itu berlimpah, dan berseliweran di internet. Banyak orang bisa menulis ribuan kata setiap hari di media sosial karena berlimpahnya kata kata di internet. Loss aja, nikmati dulu sebatang rokok. lalu mulailah berselancar mencari kata kata.
Tapi rokok sebenarnya bukan solusi. Rokok hanya untuk jeda dari kebosanan yang melanda. Karena memang kadang aneh juga sih, begitu harus menulis sesuatu yang serius, kepala seketika terasa seperti gudang kosong. Kata kata tiba tiba lenyap entah kemana. Kursor di layar laptop padahal terus berkedip. Satu menit lewat. Lima menit lewat lagi. Sepuluh menit pun bablas. Kursor tetap saja berkedipkedip, seolah mengejek. "Woi, mana tulisanmu?" Gak ada jawaban. "Katanya mau nulis?" Diri ini masih terdiam. "Katanya mau menyelesaikan tulisan hari ini?" Tetap hening.
Akhirnya, tangan meraih sebatang rokok lagi. Mungkin inspirasi akan datang setelah satu batang lagi dinyalakan.
Seorang penulis mengalami kejenuhan sebenarnya bukanlah hal baru. Sama dengan profesi lain. Pekerja pabrik tentu lebih cepat merasa bosan dengan tugas rutinitas mereka, guru bisa merasakan kejenuhan dalam mengajar, pengemudi bisa lelah mengemudi di rute yang sama setiap hari, dan pedagang mungkin merasa jenuh harus membuka toko setiap pagi. Jadi wajar saja jika penulis juga tidak luput dari perasaan jenuh saat akan menulis. Namun, ada perbedaan dalam merespon kejenuhan ini; bila seorang pekerja mengeluh, "Saya jenuh," mandornya mungkin akan menjawab, "Kerja terus saja." Sebaliknya, jika seorang penulis mengatakan, "Saya jenuh," editornya mungkin hanya berkata dengan lebih singkat, "Deadline besok." Selesai. Tidak ada ruang untuk diskusi lebih lanjut. Maka, penulis harus kembali menulis. Meski terkadang dia tak tahu apa yang harus ditulis. Mumet ‘kan?
Ada seorang teman yang pernah menyarankan bahwa menulis bisa jadi terapi untuk stres. Saya setuju, namun ada sedikit masalah. Jika kita yang bekerja sebagai penulis, lalu mengalami stres dari menulis dan harus menulis lagi untuk meredakan stres tersebut, bukankah itu seperti menyuruh orang mabuk untuk minum lebih banyak agar sembuh? Bisa-bisa malah makin kacau. Karena alasan ini, saat ide benar-benar mandek, seorang penulis sering melakukan hal-hal di luar menulis. Misalnya membuat kopi, mendengarkan musik, membuka media sosial, membaca berita dan komentar orang-orang, melihat foto teman yang sedang berlibur. Lalu pas balik lagi menghadap laptop, ide tetap saja gak nongol. Akhirnya, merokok.
Sebatang rokok pertama habis, ide belum juga datang. Menyalakan sebatang lgi rokok kedua, ide masih belum muncul. Pada titik ini penulis mulai menyadari masalahnya mungkin bukan pada rokok, tapi mungkin memang dirinya sedang mengalami kebuntuan pikiran. Apalagi pas ngecek rekening saldo tinggal 500 rupiah wkwkwk. Kacau, kacau, kacau mania!
Tugas saya hari ini sebenarnya cukup sederhana, yang muncul di kapala saya ialah menulis tentang Marilyn Monroe. Itu saja! datanya banyak di internet. Tinggal susun saja kata katanya menjadi sebuah tulisan. Kayaknya bakar sebatang rokok lagi enak nih sebelum mulai menulis.
Marilyn Monroe
Pada tahun 1950-an, Marilyn menjadi salah satu ikon terbesar Hollywood. Dia dikenal cantik, terkenal, dan kerap terlibat dalam kontroversi, sering terlihat dengan foto yang menunjukkan sebatang rokok di tangannya. Namun, daya tarik Marilyn tidak hanya terletak pada kebiasaannya merokok. Salah satu momen menarik adalah ketika dia bertemu dengan Presiden Soekarno.
Pertemuan Marylin dengan Bung Karno benar-benar terjadi. Pada tahun 1956, saat Bung Karno melakukan kunjungan ke Amerika Serikat, dia menghadiri sebuah pesta di Beverly Hills Hotel, yang diselenggarakan oleh sutradara Joshua Logan. Dalam pesta selebritas inilah, Bung Karno bertemu Marilyn Monroe. Menurut arsip foto Bettmann, pertemuan ini bukan kebetulan; Bung Karno memang ingin bertemu Marilyn, yang merupakan salah satu aktris favoritnya di Indonesia.
Bayangkan, seorang presiden dari Indonesia, negara yang saat itu baru 11 tahun merdeka, bertemu dengan salah satu wanita paling tersohor di dunia. Bung Karno hadir sebagai kepala negara, sementara Marilyn hadir sebagai dirinya sendiri; Marilyn Monroe. Nama mereka masing-masing sudah cukup dikenal tanpa perlu tambahan jabatan atau kartu nama.

Beberapa kesaksian menyebutkan mereka berbicara sekitar 45 menit. Empat puluh lima menit bagi orang biasa mungkin cukup untuk menikmati kopi, merokok dua batang, lalu pulang. Bagi penulis, waktu itu bisa menghasilkan sekitar 500 kata. Namun, jika tanpa inspirasi, 45 menit bahkan bisa berakhir dengan selembar kertas kosong. Tidak ada yang tahu apa yang Marylin dan Bung Karno perbincangkan. Mungkin politik, mungkin film, mungkin tentang Indonesia atau Hollywood. Bisa jadi Bung Karno bertanya tentang film terbaru Marilyn, atau justru Marilyn yang penasaran dengan Indonesia. Atau barangkali mereka hanya berbicara sebagai dua sosok terkenal yang kebetulan bertemu. Yang jelas, momen itu terdokumentasikan dalam sebuah foto yang masih bisa kita lihat hingga kini. Dua tokoh ternama dari dunia yang berbeda tengah berdialog.
Kemudian, muncul pertanyaan retoris yang tampaknya sepele namun agak nakal. Jika Bung Karno masih hidup hari ini, siapakah yang kira-kira akan menjadi versi Marilyn Monroe baginya? Apakah Anne Hathaway? Charlize Theron? Atau Eva Green? Di sinilah tulisan ini mulai agak nakal sedikit. agak berisiko. Dan saya sedang berimaginasi.
Anne Hathaway, Charlize Theron, Atau Eva Green?
Ketiganya aktris idola saya. Jika anda membaca tulisan ini, coba bayangkan wajah wajah mereka satu persatu. Googling aja di internet. Cantik cantik dan unik ’kan?
Anne Hathaway? Saya berpikir Bung Karno akan tertarik padanya bukan semata-mata karena pesona fisiknya, tetapi karena keunikannya. Anne mampu tampil sebagai wanita anggun di satu film, lalu berubah total menjadi sosok yang sama sekali berbeda di film lainnya. Ia pernah berperan sebagai Mia Thermopolis di The Princess Diaries, Catwoman di The Dark Knight Rises, Fantine dalam Les Misérables, dan Andy Sachs di The Devil Wears Prada. Dan yang terbaru Anne bermain dalam Odyssey menjadi Penelope, Ratu Ithaca yang menyimpan rindu selama 20 tahun menanti kepulangan Odyssey. Penelope simbol kesetiaan. Dengan kekuatan rindunya Penelope menolak ratusan lamaran bangsawan yang datang kepadanya.
Jika Bung Karno berkesempatan bertemu dengan Anne, saya bayangkan percakapan mereka bisa berlangsung lama. Mungkin Soekarno akan menanyakan: “Film apa yang paling Anda sukai?” Anne menjawab, kemudian Bung Karno mulai berbagi cerita. Kita semua tahu, ketika Bung Karno mulai berbicara, 45 menit mungkin belum cukup. Sudahlah, jangan dilanjutkan paragraph ini. Nanti otakku makin liar aja. Bahaya!
Sedangkan Charlize Theron? Ini lebih menantang. Aktris kelahiran Afrika Selatan ini bukan hanya dikenal karena kecantikannya saja. Ia juga terkenal mampu membawakan peran yang jauh dari kesan glamor. Seperti dalam Mad Max: Fury Road, di mana ia memerankan Imperator Furiosa yang kuat, tangguh, dan sama sekali bukan karakter wanita yang menunggu diselamatkan. Sudah nonton film Charlize terbaru, Apex? Charlize berperan sebagai Sasha, seorang penjelajah rimba yang tangguh menghadapi seorang psikopat.
Saya bayangkan Bung Karno akan tertarik dengan karakter semacam itu. Sebab Bung Karno tentu memahami bahwa sejarah tidak pernah dicetak oleh orang-orang yang diam menanti saja. Karena mereka yang berani mengambil tindakan yang membentuk sejarah. Bisa jadi pembicaraan mereka akan lebih serius topik bahasannya. Tentang keberanian. Tentang revolusi. Tentang bagaimana seseorang bisa menjadi simbol perubahan bagi banyak orang. Dan mungkin setelah 40 menit diskusi serius, baru Bung Karno tersadar tengah berada di pesta Hollywood. “Ah, kita terlalu serius.” Lalu Anne dan Bung Karno tertawa bersama.
Namun, bagaimana dengan Eva Green? Mungkin inilah yang membuat tulisan terasa sedikit berisiko untuk dilanjutkan. Bukan tanpa alasan, Eva Green memiliki aura yang unik. Wajahnya sukar ditebak; kadang misterius, terkadang dingin, terkadang elegan, dan seolah memiliki pengetahuan rahasia. Tapi bukan itu masalahnya. Pernah nonton film Eva Green berjudul The Dreamers? Nah itu dia.
Seandainya Bung Karno bertemu Eva Green, saya tidak yakin siapa yang akan lebih dulu membuka percakapan. Soekarno mungkin terdiam sejenak, demikian pula Eva. Mereka saling berpandangan. Lima menit berlalu, masih tanpa kata. Enam menit berlalu dalam keheningan. Tujuh menit dan akhirnya Soekarno bertanya, "Apakah Anda merokok?" Yah, begitu saja, dari imajinasi ini saya mendapatkan pencerahan.
Kemudian malah saya yang menyalakan sebatang rokok.
Tapi tentu saja semua ini hanyalah khayalan. Jangan terlalu serius. In this economy, kita harus pandai mengatur guyonan agar tidak gampang stress. Ini cuma khayalan!
Bung Karno tidak pernah bertemu Anne Hathaway, Charlize Theron, apalagi Eva Green. Ketiga wanita ini hidup di zaman yang berbeda dengan zaman Bung Karno. Pertemuan nyata yang terjadi hanyalah dengan Marilyn Monroe, dan di sanalah letak menariknya sejarah. Terkadang, sejarah memunculkan pertemuan yang tak terduga; seorang presiden Indonesia dan bintang Hollywood di sebuah pesta di Beverly Hills. Tak ada yang menduga bahwa foto pertemuan tersebut masih diperbincangkan hingga puluhan tahun kemudian, terutama oleh penulis Indonesia yang sedang mencari inspirasi.
Ya, begitulah kehidupan. Kita seringkali beranggapan bahwa pekerjaan harus selalu menghasilkan sesuatu, sementara manusia tidak selalu dalam kondisi siap berkreasi. Ada kalanya kita jenuh, malas, atau malah bingung. Kadang kita hanya ingin berlama lama menatap layar laptop walaupun gak ngapa ngapain.
Bagi penulis, momen paling menjengkelkan adalah ketika tenggat waktu dekat namun ide tak kunjung datang. Di saat seperti itu, mungkin kita perlu berhenti sejenak, bukan untuk menyerah. Ya, berhenti saja. Mendengarkan musik, membaca, berjalan-jalan, berbincang, melihat hal baru, atau menyalakan sebatang rokok. Bukan karena rokok adalah solusi atau sumber inspirasi, melainkan karena manusia butuh jeda. Siapa tahu dari jeda itu muncul sebuah gagasan, seperti ide tulisan ini. walaupun agak ngaco tapi ya jadi juga tulisan ini ‘kan?
Sejatinya, tulisan ini hendak membahas Marilyn Monroe tapi kemudian berbelok ke Bung Karno, lalu ke rokok, dan tanpa disadari menuju Anne Hathaway, Charlize Theron, hingga Eva Green. Kok bisa ya? Apa karena ketiga cewek ini sering terlintas di dalam kepala? Entah esok akan kemana lagi pikiran liar ini. Tetapi memang begitulah ide bekerja, kadang datang ketika dicari, kadang muncul tanpa diharap. Seperti tulisan ini yang sambil membayangkan tiga sosok Hollywood dan seorang mantan presiden Indonesia yang telah lama wafat.
Lumayan, rokok kelima sudah selesai dibakar dan tulisan berhasil diselesaikan. Kursor berhenti berkedip dan untuk pertama kalinya hari ini, saya merasa menang, meskipun tak yakin menang dari siapa. Mungkin dari kebosanan atau dari deadline yang saya tanamkan di dalam diri saya sendiri. Atau bisa jadi hanya menang melawan layar laptop yang terus berkedip dengan kurang ajar. Atau bisa jadi menang melawan kebosanan. Ah, sudahlah, besok menulis lagi. Jika buntu? Kita lihat saja nanti. Siapa tahu Anne Hathaway datang membawa ide. Kalau bukan Anne, mungkin Charlize. Dan jika bukan Charlize... semoga Eva Green saja yang matanya indah, agar saya tidak merasa bosan lagi.