Benarkah Rokok Penyebab Kemiskinan?

Benarkah Rokok Penyebab Kemiskinan?

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

16 Sep 2026

Rokok sering menjadi topik yang muncul saat membahas kemiskinan. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) rutin menunjukkan bahwa rokok kretek filter merupakan salah satu komoditas yang signifikan dalam kontribusinya terhadap Garis Kemiskinan. Namun, perlu ditegaskan bahwa BPS tidak pernah menyatakan rokok sebagai penyebab langsung kemiskinan.

 

Rokok termasuk dalam penghitungan Garis Kemiskinan karena banyak dikonsumsi oleh mereka yang berada di sekitar garis tersebut. Fakta ini sering disalahartikan menjadi kesimpulan sederhana bahwa orang miskin menjadi miskin akibat membeli rokok. Nyatanya, interpretasi data BPS tidak sesederhana itu.

 

Rokok Masih Menduduki Posisi Kedua

 

Data BPS terbaru memberikan wawasan menarik. Pada Maret 2026, persentase penduduk miskin di Indonesia tercatat 8,07 persen atau sekitar 22,93 juta orang, menurun sebesar 0,40 persen poin dari Maret 2025. Pada periode yang sama, Garis Kemiskinan tercatat sebesar Rp669.235 per kapita per bulan.

seorang blantik sapi baru saja membeli rokok di pasar hewan siyono


 

Dari jumlah tersebut, Garis Kemiskinan Makanan menyumbang 74,70 persen, sementara Garis Kemiskinan Bukan Makanan berkontribusi sebesar 25,30 persen. Dalam komponen makanan, beras tetap menjadi penyumbang terbesar. Namun, rokok kretek filter masih berada di posisi kedua.

 

Pada Maret 2026, rokok kretek filter menyumbang 10,83 persen terhadap Garis Kemiskinan di perkotaan dan 10,18 persen di perdesaan. Sementara itu, beras memberikan kontribusi sebesar 20,52 persen di perkotaan dan 24,60 persen di perdesaan. Ini menunjukkan bahwa rokok bukan sekadar komoditas kecil dalam analisis kemiskinan BPS.

 

Namun sekali lagi, angka tersebut bukan berarti 10,83 persen dari orang miskin menjadi miskin karena rokok.

 

Garis Kemiskinan dan Faktor Penyebabnya

 

Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan metode kebutuhan dasar dalam menghitung garis kemiskinan, yang meliputi kebutuhan makanan dan non-makanan. Untuk kebutuhan makanan, BPS mengevaluasi konsumsi minimum yang diperlukan. Di sisi non-makanan, ada berbagai komponen seperti perumahan, listrik, pendidikan, kesehatan, bensin, dan kebutuhan lainnya.

 

Ketika rokok masuk dalam daftar komoditas yang menyumbang garis kemiskinan, itu bukan berarti "rokok menyebabkan kemiskinan." BPS menggambarkan struktur pengeluaran dari masyarakat miskin dan mereka yang mendekati garis kemiskinan. Memahami perbedaan makna ini penting karena statistik dapat disalahartikan sebagai propaganda. Sebagai analogi, padi merupakan komoditas terbesar dalam garis kemiskinan, tetapi tentu saja beras tidak menyebabkan kemiskinan. Orang membeli beras karena kebutuhannya besar, sehingga beras menjadi kontributor utama dalam garis kemiskinan.

 

Mengapa Rokok Muncul?

 

Rokok muncul karena memang dikonsumsi oleh sebagian populasi miskin. BPS telah lama memasukkan rokok kretek filter sebagai salah satu komoditas yang signifikan terhadap garis kemiskinan. Misalnya, di September 2017, rokok ini sudah tercatat penting bersama komoditas lain seperti beras, telur, dan gula pasir. Pada Maret 2026, bahkan menjadi kontributor kedua terbesar setelah beras pada pembentukan garis kemiskinan secara nasional di perkotaan dan pedesaan. Pola konsumsi ini konsisten, namun tidak berarti ada hubungan langsung sebab-akibat.

area merokok di Festival Kebudayaan Yogyakarta 2026 AKSARA, di Lapangan Beran, Sleman


 

Pengeluaran Besar Tidak Menandakan Kemiskinan

 

Ada kesalahpahaman lain ketika membahas data kemiskinan seolah-olah semakin besar pengeluaran seseorang, semakin miskin dia. Padahal, seseorang dianggap miskin jika pengeluaran per kapitanya di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan oleh BPS. Pengeluaran untuk barang tertentu harus dilihat dalam konteks pendapatan keseluruhan, pengeluaran, harga barang, jumlah anggota keluarga, pekerjaan, dan kemampuan memenuhi kebutuhan dasar. Misalnya, dua keluarga bisa sama-sama membeli rokok tetapi dengan pendapatan berbeda, konsekuensi ekonomi yang ditimbulkan akan berlainan.

 

Variabel Lain dalam Kemiskinan

 

Kemiskinan tidak hanya dipicu oleh satu barang konsumsi. Ada faktor pekerjaan, upah, produktivitas, harga kebutuhan dasar, pendidikan, akses modal, kondisi pertanian, hingga struktur ekonomi daerah yang berperan. Misalnya, data terbaru BPS menunjukkan kemiskinan di Indonesia terus menurun meskipun rokok kretek tetap menjadi kontributor besar pada garis kemiskinan. Pada September 2025, jumlah penduduk miskin tercatat 23,36 juta orang atau 8,25 persen dan enam bulan kemudian turun menjadi 22,93 juta atau 8,07 persen. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi rokok dan kemiskinan tidak bisa dibaca sebagai hubungan sebab-akibat langsung.

 

Jika rokok memang menyebabkan kemiskinan langsung, kita seharusnya melihat angka kemiskinan turun seiring hilangnya konsumsi rokok dalam kelompok miskin, namun kenyataannya tidak demikian. Rokok memang selalu diincar dijadikan bahan gunjingan karena ada faktor kepentingan lain di belakangnya.

 

Pilihan Konsumsi Perokok Miskin

 

Pertanyaannya bukan sekadar "mengapa orang miskin masih merokok?" tapi menurut saya pertanyaannya akan lebih menarik jika menanyakan, mengapa beberapa orang miskin tetap memilih untuk mengalokasikan sebagian pendapatan mereka untuk rokok.

 

Jawabannya tentu tidak tunggal. Beberapa orang memandang merokok sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari, ada yang menggunakannya sebagai istirahat saat bekerja, dan ada pula yang melihatnya sebagai bagian dari interaksi sosial. Namun lebih banyak yang menjawab rokok itu sebagai media rekreatif.

bull skm mild


 

Di lingkungan pekerja informal seperti di warung kopi, sawah, bengkel, pasar, hingga tempat kerja, rokok memiliki fungsi sosial yang tidak selalu dapat diterjemahkan hanya sebagai kebutuhan biologis atau sekadar konsumsi barang. Sebuah survei lama terhadap perokok miskin di Gunungkidul menemukan bahwa mayoritas responden mengaitkan aktivitas merokok dengan relaksasi, menyegarkan pikiran, mengurangi stres, fokus bekerja, dan menenangkan pikiran.

 

Walaupun temuan ini tentunya merupakan hasil penelitian pada konteks dan periode tertentu, sehingga tidak bisa digeneralisasikan untuk semua perokok miskin di Indonesia. Namun, ini memberikan pelajaran bahwa keputusan konsumsi manusia tidak selalu dapat dijelaskan hanya dengan tabel pengeluaran.

 

Kemiskinan Itu Rumit

 

Rokok boleh saja dikritisi dan pengeluaran rumah tangga untuk rokok juga sah untuk dikaji. Penelitian mengenai bagaimana konsumsi rokok mempengaruhi belanja pangan, pendidikan, kesehatan atau kebutuhan rumah tangga lainnya tetap penting dilakukan. Namun, menyebut rokok sebagai "penyebab kemiskinan" hanya karena muncul dalam daftar komoditas penyumbang Garis Kemiskinan adalah kesimpulan yang terburu-buru.

 

Data BPS Maret 2026 justru memberikan pandangan yang lebih menarik. Beras menyumbang 20,52 persen Garis Kemiskinan di perkotaan dan 24,60 persen di perdesaan. Rokok kretek filter berada di urutan kedua dengan kontribusi masing-masing 10,83 persen dan 10,18 persen. Di sisi nonmakanan, perumahan menjadi penyumbang terbesar, disusul bensin dan listrik.

sales pt djarum kudus


 

Tidak ada yang mengatakan bahwa rumah menjadi penyebab kemiskinan. Tidak ada pula yang mengatakan listrik menyebabkan kemiskinan. Semua itu merupakan bagian dari struktur kebutuhan dan pengeluaran. Tidak ada yang berani pula mengatakan bahwa bensin menyebabkan kemiskinan. Rokok seharusnya dibaca juga dengan kerangka yang sama. Rokok adalah salah satu komponen pengeluaran yang ikut membentuk Garis Kemiskinan, bukan bukti bahwa rokok merupakan penyebab tunggal, atau bahkan penyebab utama kemiskinan.

 

Opini yang beredar segala persoalan di Indonesia yang menjadi penyebab selalu rokok.  

 

Padahal kemiskinan jauh lebih kompleks daripada sebungkus rokok. Ia berkaitan dengan penghasilan seseorang, biaya hidup yang meningkat, kondisi lapangan pekerjaan yang layak, pergerakan harga pangan, dan daya beli rumah tangganya. Membicarakan rokok tanpa membahas seluruh masalah tersebut akan menyederhanakan persoalan kemiskinan yang sejatinya sangat kompleks.

 

Lantas apa peran Negara terhadap kemiskinan rakyatnya? Katanya Negeri yang berdaulat dan Makmur. Kok rakyatnya kedapatan miskin malah menuding rokok menjadi  penyebabnya. Memang pemerintah tidak selalu salah. Yang salah selalu rakyatnya. Apalagi jika rakyatnya kedapatan merokok.

 

Arsip Visual Terbaru