Ada teori yang terdengar konyol, tapi entah kenapa terasa masuk akal. Teori itu mengatakan bahwa rokok LA Lights dijuluki sebagai rokoknya orang-orang yang baru patah hati. Itu kata teman saya yang baru mengalami patah hati belum lama ini. Dan itu diamini oleh beberapa teman lain yang juga sebelumnya pernah mengalami putus cinta. Jadi jangan heran jika banyak perokok muda usia yang mencari LA Lights daripada Djarum Super, atau Gudang Garam Surya, apalagi rokok kretek tangan yang tarikannya agak berat. Bukan berarti orang yang merokok LA Lights adalah orang yang sedang patah hati, ya. Bukan. Namun, bagi mereka yang sedang terjatuh dan tersungkur usai patah hati, rokok LA Lights sudah dipastikan muncul di antara kopi, playlist lagu sedih, dan layar ponsel yang terus dicek hanya sekadar memastikan: “apakah dia sudah membaca pesan terakhir dariku?” Uwuwu, banget.
Memang sih tidak ada penelitian ilmiah yang membuktikan kaitan antara LA Lights dan patah hati. Bahkan tidak ada juga klaim resmi dari pabrikan rokoknya, bahwa rokok LA Lights dirancang khusus untuk mereka yang baru saja ditinggal kekasih. Namun, dalam budaya sehari-hari, sering kali rokok memiliki hubungan unik dengan kenangan. Misalnya, ada merek rokok yang mengingatkan seseorang pada ayahnya. Ada juga merek rokok yang mengingatkan seseorang pada zaman kuliah. Tapi ada juga merek rokok yang selalu kepingin dibeli hanya karena merek rokok itu pernah dibelikan oleh kekasih saat masih zaman pacaran.
Bagi sebagian orang, mungkin LA Lights adalah rokok yang menyatu dengan cerita semacam itu. namun bagi orang yang sudah dewasa usianya, rokok SKT tentu menjadi pilihan utama. Jarang kan lihat bapak bapak merokok LA Lights? Kalo bapak bapak rokoknya kebanyakan, 76, Sam Soe, Gudang Guram Merah, Djarum Coklat, dan rokok kretek SKT lainnya. Karena bagi bapak bapak, rokok mild itu terlalu enteng. Gak mantep. Kurang nendang dan lain sebagainya.

Rokok Mild dan Suasana Sendu.
Rokok LA Lights pertama kali diluncurkan oleh PT. Djarum pada tahun 1996. Rokok berkategori SKM Mild ini menjadi salah satu pemain di pasar rokok mild yang sudah diramaikan oleh Sampoerna A Mild. Sebagaimana lazimnya kretek mild, karakternya ringan, namun rokok LA Lights masih meninggalkan rasa kretek yang cukup terasa. Teknologi triple blended yang dipakai dalam produk kretek mild ini menjadi bagian dari identitas produknya PT Djarum, Kudus. Bagi para penggemar rokok LA Lights, karakter rasanya digambarkan sangat halus, dengan kombinasi tembakau dan cengkeh yang tidak terlalu kuat.
Mungkin karena itulah yang menjadi alasan. Karena rokok yang tidak terlalu berat dianggap cocok dengan suasana hati yang tidak ingin sesuatu yang terlalu keras. Patah hati saja sudah terasa cukup menyakitkan; jadi tidak perlu lagi ditambah tenggorokan yang ikut berteriak karena ditendang isapan kretek SKM.
Jika kamu membaca tuisan ini coba kita bayangkan bersama; pada sebuah malam; hujan baru saja reda. Kopi tinggal setengah gelas. Lagu lama diputar dari hanpon. Saat cek WhatsApp, ada nama seseorang masih berada di urutan teratas karena percakapan terakhir belum juga dihapus. Lalu sebatang LA Lights dinyalakan. Bukan untuk menyelesaikan masalah; hanya untuk menemani beberapa menit ketika seseorang mencoba berdamai dengan kenyataan bahwa hubungan yang kemarin terasa begitu penting ternyata bisa berakhir hanya dengan kalimat: “Kita kayaknya cukup sampai di sini.”

Duh, kamu ikut krasa sesak gak di dada? Jangan nangis ya. Nasak lelaki nangis hanya karena patah hati.
Lalu pertanyaannya, mengapa rokok sering kali dikaitkan dengan kenangan?
Rokok memang memiliki peran unik dalam kehidupan sosial manusia di tengah masyarakat. Karena mau jujur atau gak bahwa rokok itu menjadi bagian dari rutinitas. Tentu hal ini adalah jawaban bagi orang orang yang merokok. Kita bisa melihat banyak orang merokok sembari berbincang, menunggu dagangan, menulis, bekerja, atau merenung. Karena telah menjadi rutinitas maka rokok mau gak mau sudah menjadi bagian dari sebuah momen atau kenangan.
Itulah kenapa kita mungkin pernah dengar omongan dari teman saat sedang ngobrol ngobrol bareng; "Saya merokok merek itu saat pacaran dulu," atau sebaliknya, "Sejak putus, saya tidak pernah membeli rokok itu lagi. Bikin dia nongol lagi di kepala." Dia gak pernah beli rokok itu bukan karena rasa rokoknya yang berubah, tapi kenangannya.
Hal yang bikin menarik sebenarnya bukan karena LA Lights yang membawa ingatan pada mantan. Tapi sebaliknya, kenangan pada mantan membuat LA Lights terasa berbeda. Jadi apakah ini berarti LA Lights adalah rokok buat orang yang sedang patah hati? Lho, tentu saja bukan. Karena belum ada bukti ilmiah yang membuktikan pernyataan itu, tapi sebagai mitos kecil di tengah masyarakat, ide ini sebenarnya cukup menarik juga sih.
Rokok LA Lights telah lama dikenal sebagai rokok mild yang mewakili gaya hidup kasual dan modern. Iklan-iklan mereka sering diproyeksikan pada anak muda dalam suasana santai dan modern, lengkap dengan kegiatan seperti musik dan film. Dalam budaya pop, LA Lights berada di posisi yang memungkinkan untuk dikaitkan dengan beragam suasana: mulai dari nongkrong, musik malam, perjalanan, pertemanan, hingga percintaan.
Dan kamu juga tahu kan, bahwa tidak semua kisah cinta berakhir dengan bahagia. Kadang-kadang berakhir dengan cara yang sederhana: saling unfollow di media sosial. Bahkan ada juga yang saling blokir no HP. Pada saat mendidih inilah sebatang rokok menjadi teman setia yang diam, menghibur dalam keheningan, bikin adem pikiran. Asap rokok LA Lights mengisi ruang kepala yang sedang semrawut.

Tapi pertanyaannya, apakah benar rokok LA Lights cocok untuk orang yang sedang patah hati? Jika pertanyaannya serius, tentu jawabannya bukan merek rokok tertentu, karena patah hati itu gak ada obatnya, apalagi dalam bentuk rokok. Tapi jika dilihat dari selera dan suasana hati, kita bisa membuat klasifikasi yang tidak terlalu serius.
LA Lights mungkin cocok untuk mereka yang patah hati tetapi ingin tampak baik-baik saja; duduk di kafe, mengenakan kaus hitam, mendengarkan lagu indie sembari sesekali memeriksa profil mantan. Sedangkan Djarum Super adalah rokok untuk mereka yang patah hati tetapi tetap ingin menunjukkan kepada dunia bahwa mereka baik-baik saja meskipun hatinya berkata lain. Kalau Gudang Garam Surya, mungkin untuk orang yang sudah merelakan keadaan. Rokok ini khusus buat orang yang sudah gak banyak drama lagi, hanya duduk di teras bersama secangkir kopi hitam sambil berkata, "Ya sudah, mungkin memang bukan jodohnya." Nah, kalo Dji Sam Soe adalah rokok yang cocok buat orang yang sedang mengalami nostalgia secara serius. Sebenarnya sih ini lebih pada soal renungan hidup daripada soal mantan.
Terus rokok merek apa yang cocok buat mereka yang benar-benar ingin move on? Jawaban terbaik mungkin adalah tidak merokok sambil mengingat mantan. Tapi bisa melakukan hal lain misalnya dengan berjalan kaki, mendaki gunung, memotret, menikmati kopi, menulis, atau ngajak ngobrol teman sambil ngopi hingga larut malam. Karena sebanyak apa pun cerita melekat pada sebatang rokok, ia tidak akan mengembalikan seseorang yang telah pergi.
Pada akhirnya, yang kita isap bukan kenangan.
Mungkin itulah mengapa cerita tentang "LA Lights, rokoknya orang patah hati" terasa lucu dan masuk akal. Karena rokok tidak pernah tahu siapa yang telah meninggalkan kita atau siapa yang kita rindukan. Ia hanya terbakar beberapa menit, lalu asapnya menghilang. Yang memberinya makna khusus adalah orang yang duduk di balik asapnya. Manusia dengan cerita, kenangan, dan kehilangan masing-masing.

Jadi, jika suatu malam seorang teman terlihat sendirian, duduk di pinggir jalan, memperhatikan layar ponsel sambil menyalakan LA Lights, jangan terburu-buru bertanya; "Kamu baru saja diputusin, ya?" Mungkin memang benar. Atau dia hanya menikmati malam. Namun, bila setelah rokok kedua dia tiba-tiba berkata, "Menurutmu, kenapa dia berubah, ya?"
Nah. Itu sudah bukan tentang rokok LA Lights lagi. Tapi jelas soal patah hati.
5 Rokok untuk 5 Tahap Patah Hati
Seandainya patah hati bisa dibagi menjadi beberapa tahap, mungkin rokok juga bisa jadi semacam Playlist-nya. Ini bukan berdasarkan ilmu psikologi, apalagi nasihat medis. Anggap saja sebagai hasil pengamatan terhadap perilaku manusia saat hubungan asmaranya berantakan.
1. Tahap Penyangkalan: LA Lights
“Ah, biasa saja. Saya nggak sedih.” Jika kamu mendengar kalimat yang sering terdengar setelah kawanmu putus cinta. Maka pada tahap ini, seseorang biasanya masih sering membuka media sosial mantan, walaupun kalo ditanya alasannya katanya cuma iseng. Sebatang LA Lights mungkin menjadi teman yang pas untuk fase ini: ringan dan santai, cocok untuk duduk lama di warung kopi sambil berpura-pura menikmati malam. Teman di sebelahnya mungkin sudah tahu persoalannya, hanya saja kawannya yang sedang patah hati belum mau mengakui, dan bercerita.

2. Tahap Marah: Djarum Super
“Dasar! Memangnya cuma dia yang bisa bikin saya bahagia?”
Jika kamu mendengar temanmu berbicara seperti ini artinya dia sudah masuk pada tahap kedua. Playlist lagunya yang jadi backsound berubah, dari lagu mellow diganti musik yang lebih keras. Foto mantan mulai dihapus, meski sebenarnya hanya dipindahkan ke folder tersembunyi. Nah, rokok Djarum Super sangat cocok untuk orang yang sudah masuk ke fase ini. Rokok Djarum Super dengan rasa kreteknya yang lebih kuat, mencerminkan sebuah usaha orang yang sedang meyakinkan diri bahwa ia sudah tidak peduli. Biasanya Kalimat berikutnya yang sering kali keluar dari mulutnya ialah; “Mulai sekarang saya nggak akan pernah mau balikan lagi sama dia.”

Padahal kita tahu, kan’ ucapan seperti itu jarang bertahan lama. Paling tiga hari lagi kamu bakal lihat temanmu itu boncengan motor lagi cari makan malam. Iya gak sih?
3. Tahap Negosiasi: Gudang Garam Surya
“Kalau dia ngajak balikan, mungkin saya pikir-pikir.”
Inilah tahap negosiasi. Setiap notifikasi ponsel membuat jantung berdebar, berharap itu dari sang mantan. Eh, begitu dibuka HPnya ternyata hanya promo dari marketplace. Pada fase ini seseorang mulai mencari alasan kenapa hubungannya gagal dan apakah masih ada peluang untuk kembali. Rokok Gudang Garam Surya menggambarkan orang yang mulai tenang, mengambil jarak, dan memikirkan ulang semuanya. Mantan yang kemarin menyebalkan mungkin tiba-tiba terasa baik: "Sebetulnya dia perhatian, sih, tapi...." Ini adalah fase berbahaya.

4. Tahap Depresi: Dji Sam Soe
“Ya sudah. Terserah.”
Bagian ini adalah tahap paling berat. Karea sudah tidak ada lagi marah marahan atau stalking. Lagu-lagu yang dulu terdengar menyayat hati kini terdengar biasa saja. pada fase ini seseorang mulai memahami bahwa hubungannya telah selesai dan tidak bisa dilanjutkan lagi. Rokok Dji Sam Soe menjadi metafora bagi suasana kontemplatif ini: duduk di teras rumah, menyeruput kopi hitam saat hujan turun, ditemani asap rokok dan pikiran yang mengembara. Kadangkala kita memang butuh waktu untuk menerima sesuatu yang tidak bisa diubah lagi.

5. Tahap Penerimaan: Tidak Perlu Rokok, Pasrah Aja.
Di tahap ini, pertanyaan “kenapa dia pergi?” sudah sirna.
Keinginan untuk mengirim pesan tengah malam juga lenyap. Nama mantan lewat di ponsel tidak lagi menggugah perasaan. Foto-foto lama tetap ada namun kini hanya menjadi arsip masa lalu. Di tahap ini, rokok sebenarnya tidak lagi penting; jika masih merokok, itu hanya pilihan pribadi. Akhirnya, seseorang yang patah hati menyadari satu hal sederhana, yang sudah pergi tidak selalu harus dikejar. Yang tersisa hanyalah diri sendiri dan kembali menjalani rutinitas serta menemukan kesenangan kecil yang sempat hilang.

Mungkin suatu malam ia membeli LA Lights lagi, namun kali ini bukan karena patah hati, melainkan karena memang menyukai rasanya. Ternyata yang berubah bukan rokoknya, tapi kita sendiri. Sementara rokok harian tetap sama, LA Lights.