Awal Mula Kretek: Dari Sesak Napas menjadi Identittas

Awal Mula Kretek: Dari Sesak Napas menjadi Identittas

E

Penulis

Eko Susanto

Terbit

26 Apr 2026

Penemuan Kretek tidak lahir dari gagasan ilmuwan dalam ruang laboratorium sebuah perusahaan industri besar. Melainkan lahir dari gagasan lelaki asal Kudus bernama Haji Jamhari yang tubuhnya ringkih terkena sesak napas. Saat itu ia mencoba mengoleskan minyak cengkeh ke dadanya sebagai upaya pengobatan. Dan benar, minyak cengkeh yang dioleskan ke dadanya itu memberikan rasa hangat dan lega. Napasnya sedikit ringan. Dari upayanya mengoleskan minyak cengkeh itu, Haji Jamhari kemudian nekat melakukan percobaan demi kesembuhan total sesak di dadanya. Ia kemudian mencampur bunga cengkeh kering dengan tembakau lalu dilinting dan megisapnya.

Saat lintingan itu dibakar, terdengar bunyi “kretek-kretek” dari cengkeh yang terbakar. Bunyi “kretek kretek” itu kelak jadi penanda lahirnya produk khas Indonesia yang tidak bisa ditiru oleh produk Barat. Produk yang tidak bergantung pada resep dari luar karena bahan yang digunakan sepenuhnya tumbuh di negeri sendiri. Jadi sebenarnya, kretek itu bukan sekadar barang konsumsi, melainkan suatu bentuk pengetahuan dari rakyat. Kretek adalah upaya perlawanan dan daya hidup Haji Jamhari menghadapi dadanya yang sesak saat bernapas.

Kretek Menjadi Gerakan Ekonomi

Namun pada akhir abad ke-19 itu, sejarah Kretek tidak berhenti hanya sebatas pada penemuan Haji Jamhari saja. Kretek juga punya daya hidupnya sendiri. Ia bergerak. Dan dalam gerak itu, muncul nama Nitisemito, yang membaca situasi dengan jeli bahwa Kretek bukan hanya sekadar racikan, tapi juga peluang ekonomi.

Dengan produk Kretek pertama bikinannya dengan merek Tjap Bal Tiga, Nitisemito mengubah kretek dari produksi rumahan menjadi industri besar. Ia memperkenalkan sistem kerja, distribusi, bahkan iklan yang saat itu belum lazim. Di tangan Nitisemito, Kretek tidak lagi hanya diisap, tapi juga diperjualbelikan secara masif.

Potret Nitisemito



Pada titik inilah kita bisa melihat satu hal penting bahwa kretek bukanlah industri yang lahir dari priviles kolonial melainkan industri yang lahir dari bawah. Ia tumbuh dari masyarakat sendiri, menyerap tenaga kerja, terutama perempuan, yang menjadi tulang punggung produksi sigaret kretek tangan.

Sejak itu Kudus pun berubah. Dari kota kecil, menjadi pusat denyut ekonomi berbasis tembakau dan cengkeh.

Pajak Kolonial: Ketika Negara Mulai Ikut Campur

Ketika sesuatu mulai bernilai, negara dalam hal ini pemerintah kolonial, tentu tidak tinggal diam. Tembakau kemudian dikenai pajak. Distribusi Kretek diawasi dan regulasi ketat mulai diberlakukan.

Masalahnya sebenarnya sangat sederhana, bahwa kolonial tidak benar-benar ingin kretek tumbuh. Mereka lebih berpihak pada rokok putih produksi Eropa. Lebih modern, dan katanya lebih beradab. Sementara kretek, produk lokal dari Kudus itu diposisikan sebagai produk kelas dua.

Pita Cukai Gol I 2020


Di sini, kita bisa melihat pola lama yang terus berulang, standar ditentukan oleh luar, sementara yang lokal dipaksa menyesuaikan atau ditekan regulasi dengan berbagai alasan yang tak masuk akal.

Namun sejak dulu kretek tidak bisa runtuh. Ia justru bertahan karena basisnya bukan ekspor, melainkan konsumsi domestik. Ia hidup di warung, di sawah, di ruang-ruang rakyat. Kretek tidak butuh legitimasi kolonial untuk eksis. Karena Kretek sejak dulu sudah berdikari, mulai dari bahan baku, pekerja, semuanya diproduksi dan bahkan dikonsumsi oleh bangsa sendiri.

Pasca Kemerdekaan: Kretek dan Nasionalisme Ekonomi

Kemerdekaan Indonesia membuka babak baru. Industri Kretek tidak lagi berada di bawah bayang-bayang kolonial. Ia tumbuh bersama semangat nasionalisme ekonomi.

Dari sini lahir perusahaan-perusahaan besar seperti PT. Djarum, PT. Gudang Garam, dan HM Sampoerna. Mereka bukan sekadar pabrik, tetapi simbol bahwa industri lokal bisa berdiri dan bersaing.

Pabrik Djarum Coklat


Kretek menjadi salah satu sektor yang menyerap jutaan tenaga kerja, dari petani tembakau, petani cengkeh, hingga buruh linting. Ia juga menjadi salah satu penyumbang besar penerimaan negara melalui cukai.

Ironisnya, di saat yang sama, ia juga mulai menjadi sasaran empuk berbagai kebijakan yang sering kali tidak berpihak. Dan lebih disayangkannya lagi, HM Sampoerna saat ini saham terbesarnya dimiliki oleh perusahaan bangsa asing, Philip Morris.

Ragam Kretek: Kekayaan yang Sering Disederhanakan

Banyak orang luar, bahkan masyarakat dalam negeri sendiri yang belum begitu memahami bahwa kretek bukan hanya satu jenis produk. Kretek itu banyak jenisnya. Ada SKT atau Sigaret Kretek Tangan yang bentuk batangannya konus; ujung isapnya lebih kecil dibandingkan ujung bakarnya. Kretek jenis ini dikerjakan secara manual oleh tangan tangan terampil pekerja lokal yang menyimpan nilai tradisi.

Lalu ada Sigaret Kretek Mesin, yang bentuk batangannya lurus, beda dengan konus. Kretek jenis ini sepenuhnya dikerjakan oleh mesin. Bentuk batangnya sama dari ujung isap hingga ujung bakarnya. Bedanya, ujung isapnya memakai filter.

Batangan beragam jenis kretek



Dari SKM kemudian berkembang mengikuti zaman. Maka lahirlah produk SKM yang lebih ringan dibandingkan dengan SKM regular bernama SKM Mild. Diproduksi oleh mesin namun batangannya lebih kecil jika dibandingkan dengan SKM regular.

Lalu ada Kretek klobot, yang batangannya memakai kulit jagung kering yang memberi rasa dan aroma khas. Ada juga Kretek klembak menyan, yang di dalam tiap batangnya tentu saja ada campuran tembakau, cengkeh, dan menyan yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi tertentu di Jawa. Dari semua jenis kretek itu tentu unsur utamanya selain tembakau sebagai bahan pokok, terdapat cengkeh. Karena dinamakan Kretek jika ada unsur cengkeh dalam setiap produknya, apapun jenis kreteknya.

Keragaman ini menunjukkan pada kita bahwa kretek adalah spektrum budaya, bukan produk tunggal yang bisa disederhanakan begitu saja.

Kretek vs Rokok Putih: Soal Identitas, Bukan Sekadar Komposisi

Sering kali, Kretek disamakan begitu saja dengan rokok putih. Padahal perbedaannya sangat mendasar. Banyak orang menyamakan rokok kretek filter itu sama dengan rokok putihan. Karena sebagian besar orang Indonesia hingga kini masih menganggap bahwa produk Kretek yang memakai filter bukanlah Kretek.

Padahal Kretek adalah campuran tembakau dan cengkeh, dua komoditas lokal yang memiliki sejarah panjang di Nusantara. Ia juga melibatkan proses peracikan yang khas, dengan saus atau flavor yang menjadi identitas tiap pabrik.

Sementara rokok putih, yang dominan diproduksi di luar Indonesia, umumnya hanya berbasis tembakau dengan pendekatan industri yang seragam.

Masalahnya bukan hanya sekadar beda bahan. Masalahnya adalah dari cara pandang. Ketika kretek disamakan begitu saja dengan rokok putih baik dalam regulasi maupun wacana publik, yang terjadi adalah penghapusan konteks. Dan ketika konteks dihapus, yang hilang bukan hanya produk, tetapi juga sejarah dan identitas.

Kretek di Tengah Tarik Menarik Kepentingan

Sejarah kretek adalah sejarah ketahanan. Dari tubuh seorang Haji Jamhari menjadi industri rakyat, lalu ditekan kolonial, kemudian bertahan dan tumbuh di era kemerdekaan.


Namun hari ini, kretek kembali berada di persimpangan. Di satu sisi, ia adalah warisan budaya dan tulang punggung ekonomi jutaan orang. Di sisi lain, ia terus berada dalam tekanan regulasi. Pemerintah sering kali tidak melihat keberadaan Kretek secara utuh. Seperti sebuah truk yang sarat muatan, penuh dengan kepentingan.


Pertanyaannya sederhana, apakah pemerintah akan terus melihat kretek hanya sebagai angka Tar, dan Nikotin, serta Cukai yang telah menjadi pemasukan besar bagi negara, atau sebagai bagian dari sejarah panjang bangsa ini?

Karena jika hanya dilihat sebagai angka, maka yang hilang bukan hanya sekadar industri. Melainkan sejarah tentang bagaimana rakyat pernah menciptakan sesuatu yang benar-benar milik mereka sendiri. Anak bangsa yang berdikari.

 

Arsip Visual Terbaru